Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Warga Pertanyakan Kejelasan Pengerjaan Siring

izak-Indra Zakaria • 2020-01-12 10:33:36
BUTUH SIRING: Meski pernah dilakukan normalisasi, warga berharap ada pengerjaan siring guna mencegah penyempitan DAS Batakan III.
BUTUH SIRING: Meski pernah dilakukan normalisasi, warga berharap ada pengerjaan siring guna mencegah penyempitan DAS Batakan III.

BALIKPAPAN - Lingkungan RT sekitar DAS Batakan III sampai DAS anak Batakan, tepatnya RT 9, 10, 17, 19, 20, 50, 51, 66, 68, dan RT 69 Kelurahan Manggar kerap terdampak banjir. Hal ini karena buruknya sistem aliran sungai menuju laut dan penyempitan dan banyaknya hamparan sampah yang berada di sungai.

Terlepas adanya KBM yang bakal dilaksanakan besok (12/1), warga dan ketua RT sekitar mempertanyakan kelanjutan mengenai pengerjaan siring di DAS Batakan III. Karena sudah terjadi penyempitan. Hal ini pun jadi salah penyebab terjadinya pendangkalan, dan menghambat laju air menuju laut.

“Kami bersyukur akan adanya kerja bakti Minggu besok. Tapi dari kerja bakti itu, saya mengharapkan adanya jawaban dari pengajuan siring yang pernah diajukan dari para ketua RT terdampak,” kata Ketua RT 51, Muhammad Ali, saat diwawancarai Balikpapan Pos, Jumat (10/1) siang.

Dijelaskan Ali, untuk pengerjaan siring lanjutan diketahuinya sudah ada Detail Engineering Design (DED). Namun ia tak mengetahui alasan dari belum dilakukan pengerjaan, padahal itu sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya penyempitan sungai.

“Sampai sekarang belum ada kelanjutannya. Memang sudah ada yang pernah disiring sepanjang empat meter sebelumnya. Ini sudah ada DED-nya, tapi belum tahu apa kendalanya dan belum realisasi. Bahkan kami ketua RT 9, 10, 17, 19, 20, 50, 51, 66, 68, dan RT 69 sudah pernah diundang DPU sekira akhir 2018 lalu. Panjang yang diperlukan siring itu ada satu kilometer,” sambungnya.

Terkait dengan kondisi DAS Batakan III yang kini mulai terjadi penyempitan, pendangkalan dan banyaknya sampah yang tertahan di bawah Jembatan Kembar. Ia menerangkan bahwa 2019 lalu pernah dilakukan normalisasi sungai.

“Sudah pernah dilakukan normalisasi. Tapi rontok (jatuhkan, Red) lagi tanahnya. Jadi kalau ada hujan deras, bisa banjir. Ini kami lakukan pembersihan dulu, sembari berharap ada jawaban untuk direalisasi pengerjaan siring,” tutup dia. (wal/ono)

 

Editor : izak-Indra Zakaria