Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Lele Fang Sheng

uki-Berau Post • Selasa, 21 Januari 2020 - 21:39 WIB
Photo
Photo

SAYA harus mendapatkan banyak rujukan. Masih sangat terbatas. Apalagi bila ingin membuat catatan rangkaian kegiatan Imlek ataupun festival musim semi ‘Meihua’. Agar tak salah dan tulisan setidaknya ‘nyaman’ dibaca.

Seperti Minggu (19/1) pagi lalu. Warga Tionghoa berkumpul di tepian Sungai Segah. Berbaju merah. Wakil Bupati Agus Tantomo juga hadir. Berbaju warna gelap. Mereka menggelar Fang Sheng.

Di tempat yang sama, tahun lalu juga digelar acara serupa. Yang dilepas ikan mas. Tahun ini, nampaknya memilih ikan lele. Katanya tak ada aturan ikan, burung atau kura-kura. Yang penting makhluk hidup.

Banyak yang bertanya-tanya. Fang Sheng itu apa? Berasal dari Bahasa Mandarin, Fang berarti ‘melepas’ dan Sheng merujuk pada makhluk hidup. Fang Sheng dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan.

Dalam satu pemberitaan, Presiden Joko Widodo pernah melepas ratusan ekor burung berbagai jenis. Burung itu dibeli dari salah satu lokasi pasar burung di Jalan Pramuka, Jakarta. Selain burung yang dilepas, juga 150 ekor kodok berbagai jenis, di lepas di halaman istana Bogor.

Sepintas, itu peristiwa biasa. Ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup itu. Kegiatan melepaskan binatang ke alam bebas disebut ‘Fang Sheng’.

Bentuk kasih sayang pada sesama makhluk itu pernah Rasulullah SAW nyatakan di hadapan umatnya. Rasulullah mengingatkan seseorang bisa terjerumus ke dalam api neraka karena membiarkan seekor kucing kelaparan hingga mati, sementara ada orang yang akan diampuni segala dosanya jika memadamkan rasa haus anjing dengan air dari sumurnya.

Kasih sayang Rasulullah pada hewan juga dikisahkan dalam sebuah hadis Bukhari Muslim. Disebutkan, Rasulullah menyeka wajah kudanya dengan kain. “Beliau juga melarang memisahkan hewan dari keturunannya”. Bahkan ada pula larangan untuk membakar sarang semut tanpa alasan memadai.

Hal serupa itulah yang dilakukan Pak Agus Tantomo, dalam prosesi jelang pergantian musim Imlek. Komunitas Tiongkok di Tanjung Redeb, Minggu (19/1) berkumpul di tepian Sungai Segah.

Kebetulan bersamaan dengan kegiatan Car Free Day (CFD) dan senam pagi bersama. Suasana tepian menjadi meriah. Saya sebetulnya berencana ikut serta. Sayang, saya terlambat bangun. Baru mau bergerak ke lokasi, acara sudah selesai.

Pak Agus bersama warga Tiongkok dan disaksikan warga yang usai melaksanakan senam pagi menyaksikan pelepasan sebanyak 1,2 ton ikan lele. Ini merupakan bagian dari prosesi Fang Sheng.

Sungai Segah yang luas itu rasanya bila hanya melepas sebanyak 1,2 ton ikan lele tak cukup. Tapi soal jumlah agaknya tak disoal. Banyak warga Tionghoa yang diam-diam melepas ikan lele dalam jumlah yang banyak, tanpa publikasi. Itu karena ‘Fang’ dan ‘Sheng’.

Ada yang menarik, dari kegiatan Fang Sheng itu. Bahwa di lokasi pelepasan sebanyak 1,2 ton ikan Lele, juga menjadi lokasi bagi para pemancing. Sementara tak ada imbauan untuk beberapa lama tak ada kegiatan memancing setelah pelepasan ikan.

Karena sifatnya mungkin ikan Lele setelah dilepaskan ke sungai, langsung berpencar dan menepi. Warga yang lagi asyik duduk di turap tepian sungai, sesekali melihat ikan lele itu muncul untuk bernafas.

Di situlah dimanfaatkan warga untuk memancing ikan. Barangkali warga tak berniat memancing lele, karena sepanjang sungai biasanya yang berhasil dipancing jenis ikan Patin maupun udang.

Ternyata, ikan lele yang disebar pagi hari, juga terkena pancing dengan umpan cacing. Jadi ramailah warga datang untuk memancing. Ada yang dapat beberapa ekor. “Ikan lele ini pas ukurannya untuk digoreng,” kata mereka.

Saya berpikir, ini hikmah lain dari ‘Fang Sheng’. Ada kehidupan lain yang memanfaatkan. Ikan lele punya nilai gizi yang tinggi. Lele seberat 100 gram di goreng kandungannya 19,9 gram protein, 19,1 gram lemak, 233 mg kalsium, 23,8 IU Vitamin A dan 0,58 mg vitamin B. Yang mengonsumsi jadi sehat. Sesuai program pemerintah ‘gemar makan ikan’.

 

Melihat pemandangan itu, saya berpikir menggelar lomba memancing. Para pemancing sangat setuju. Caranya, kata mereka, bila kegiatan berlangsung hari Minggu, maka panitia bisa menebar  jenis ikan beberapa hari sebelumnya. Yang saya tebar, pastilah di antaranya ikan lele. Ikan Lele ‘Fang Sheng’. (*/har) 

Lele Fang Sheng

Editor : uki-Berau Post
#Catatan