MUHAMMAD Wahib Herlambang. Dialah salah satu pasien pertama yang ditetapkan mengidap Coronavirus disease (Covid-19) di Kota Minyak. Ketika mendengar kabar itu, Wahib malah lega. Bukan berarti dia tidak khawatir, namun ada hasil pemeriksaan yang jelas membuatnya tahu harus berbuat apa.
“Jangan sampai menulari orang-orang sekitar, jadi tahu harus isolasi. Saya ikhtiar dan pasrah kepada Allah saja,” tuturnya kepada Kaltim Post, Senin (6/4). Saat dihubungi melalui video call, Wahib menyebut, perasaan itu lebih baik dibanding saat masa menunggu hasil tes.
“Awalnya sempat isolasi di rumah empat hari, pertama kali swab, gejala juga tidak begitu terlihat,” sebutnya. Pria 44 tahun itu bercerita, perasaan campur aduk dan tidak karuan selama menunggu hasil tes. Menurut dia, saat seperti itu yang bisa membuat pasien drop.
Sejak awal menerima telepon kabar hasil pemeriksaan positif terinfeksi corona hingga proses isolasi sangat membekas dalam ingatan. Terutama kekhawatiran karena siapa yang harus menjaga keluarga ketika dia berada di rumah sakit dan tidak bisa apa-apa.
“Saya tidak bisa bayangkan sebelumnya berada di ruang isolasi. Ada rasa khawatir dan takut,” ucap owner Roti Gembong Kota Raja tersebut. Namun, dia bersyukur ketika berada di ruang isolasi, kondisinya sangat berbeda. Cukup baik untuk beradaptasi.
Dia telah menghabiskan waktu selama 16 hari di ruang isolasi RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan. Tepatnya berada di ruangan sekitar 3x5 meter. Ada fasilitas hiburan televisi, AC, sampai kamar mandi. “Selama dua minggu ini jadi pengalaman hidup. Saya merasakan begitu banyak berkah,” ujarnya.
Suami dari Musyarofah itu mengatakan, perjuangan melawan penyakit, yang terberat adalah perang mental. Akibat informasi yang berkembang luar biasa dan bisa membuat seseorang stres tingkat tinggi. Apalagi beredar video yang melaporkan kondisi terkini di rumah saat kabar positif itu begitu heboh.
“Saya dikabari kritis, meninggal, dan dijemput paksa. Jadi, tekanan begitu besar, astagfirullah,” ujarnya. Daripada fokus pada hal-hal buruk, Wahib memilih untuk menjaga kesehatan dan daya imun. Itu kunci untuk melawan perkembangan virus dalam tubuhnya.
Salah satu caranya tidak boleh stres. Dia mencoba membuat situasi sebaik mungkin dan senang. Walau secara manusiawi, wajar ada rasa sedih dan jenuh. Namun, dia berusaha semaksimal mungkin. “Saya serahkan kepada Allah. Dari sekian juta orang, saya dipilih untuk berjuang. Saya yakin ini takdir dan ada hikmahnya,” kata dia.
Ada berbagai cara yang dilakukannya agar tetap memiliki daya imun dan kesehatan baik. Pertama, dia tidak mau menyalakan atau mengakses informasi dari televisi. Apalagi banyak berita seputar penambahan pasien positif, kematian, dan semua berbau corona.
“Saya ingin memosisikan diri se-enjoy mungkin untuk bisa melawan kondisi ini. Berusaha riang gembira, komunikasi dengan keluarga dan teman,” ungkapnya. Dia bersyukur masih ada handphone yang bisa digunakan untuk komunikasi. Selanjutnya dia kerap mengisi waktu dengan olahraga. Cukup olahraga ringan yang bisa dilakukan di dalam ruang isolasi.
Bagian terpenting bagaimana membuat sirkulasi darah dalam tubuh lancar. “Saya olahraga dan buat video singkat dibagikan kepada teman-teman. Itu membuktikan kondisi saya baik,” sebut pria yang pernah menjadi atlet pencak silat pada PON Kaltim itu. Intinya bagaimana bisa enjoy dalam ruangan.
“Alhamdulillah saya bisa menjaga dengan kegiatan positif. Sekarang saya bisa keliatan tambah sehat dan bugar,” imbuhnya. Rasa optimistis juga datang ketika seluruh keluarga dan teman dekatnya memilki hasil tes negatif. Itu membuatnya semakin semangat untuk sembuh.
Kekuatan dia dapatkan juga dari siraman rohani. Komunikasi dengan ustaz membuatnya lebih tenang dan yakin. “Ustaz menenangkan kalau ini bukan aib, musibah dunia, saya diyakinkan dan mental terbantukan. Saya akhirnya bisa enjoy,” bebernya.
Selama di ruang isolasi, ayah dari lima anak itu selalu mendapat pengawasan melalui CCTV, sehingga kondisi pasien benar-benar diperhatikan. Perawat selalu datang dengan alat pelindung diri (APD). Dalam sehari, perawat dan dokter berkunjung setiap pukul 06.00 Wita dan 22.00 Wita untuk cek pemeriksaan suhu tubuh hingga tensi.
Dia juga mendapatkan sarapan yang bergizi, sayur, dan buah. Konsumsi vitamin dua kali dalam sehari. “Kami dapat nomor WhatsApp. Kalau hanya hal-hal kecil cukup lewat nomor itu,” tuturnya.
Selama isolasi, Wahib mengaku mendapat banyak hikmah. Isolasi pun dibuat terasa seperti menjalani training center (TC). Perbedaannya, jika TC bisa bebas, isolasi hanya bisa melakukan aktivitas kecil. “Malah lebih komplet isolasi karena kondisi kesehatan dicek terus. Makan terjamin dan badan semakin sehat,”
Setelah dinyatakan sembuh, suami dari Musyarofah itu berada di rumah observasi yang disediakan Pemkot Balikpapan. Sesuai jadwal, dia harus di sana hingga 9 April.
Wahib mengaku sangat enjoy karena rumah observasi itu berbeda jauh dari ruang isolasi di rumah sakit. Dia bisa berjemur dan beraktivitas seperti di rumah sendiri. Bahkan sudah boleh menerima tamu. Namun, tetap mengatur jarak. “Sudah ketemu dengan istri dan anak karena sudah lama tidak berjumpa,” sebutnya.
Selama di rumah observasi tidak ada tes lagi, tapi ada tim dari Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan yang memantau kondisi. Wahib menyarankan kepada seluruh orang, baik yang dinyatakan positif, pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), atau isolasi mandiri di rumah untuk terus berjuang.
Bagaimana pun harus bisa memutus mata rantai penyebaran. Buat diri senang dan jauh dari pikiran negatif agar imun terjaga. Sementara untuk masyarakat, tetap ikuti protokol pemerintah dengan menghindari keramaian dan pertemuan. “Kalau bisa disiplin, wabah segera berakhir,” tutupnya. (gel/rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria