Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ini Dia Skenario Terburuk Puncak Kasus Covid-19 di Samarinda, 500 Orang Dirawat Dalam Sekali Kejadian...!!

izak-Indra Zakaria • 2020-04-14 12:29:38
Salah satu ruangan isolasi di RSUD AW Syahranie, Samarinda. Pemerintah memastikan kapasitas rumah sakit masih cukup, kalaupun mendesak akan disiapkan RS darurat. (MYAMIN)
Salah satu ruangan isolasi di RSUD AW Syahranie, Samarinda. Pemerintah memastikan kapasitas rumah sakit masih cukup, kalaupun mendesak akan disiapkan RS darurat. (MYAMIN)

SAMARINDA-Kebijakan yang diambil pemerintah serta kepatuhan masyarakat dalam mematuhi imbauan, jadi kunci berakhirnya wabah virus corona atau Covid-19 di Indonesia. Akhir dari pandemi ini diprediksi Mei mendatang. Setelahnya, aktivitas masyarakat diyakini berangsur normal kembali.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kaltim Andi M Ishak menuturkan, dari simulasi yang dilakukan pemerintah, puncak Covid-19 di Samarinda terjadi pada awal Mei 2020 jadi. Kalkulasi ini mengacu pada tren di berbagai wilayah lain. Yaitu puncak pandemic corona 42 hari dari kasus pertama.

Diketahui, kasus pertama Covid-19 di Kaltim terjadi di Samarinda pada 18 Maret lalu. "Dari yang ada ini, kemungkinan outbreak di Samarinda, sekitar 500-an penduduk dirawat dalam sekali kejadian. Tempat yang mungkin disiapkan semacam rumah sakit darurat untuk itu," kata Andi kemarin. Rumah sakit darurat bisa juga bukan hanya dari rumah sakit yang tersedia. Semacam hall atau aula besar, bisa digunakan untuk penanganan Covid-19 jika terjadi outbreak.

"Kapasitas rumah sakit masih mencukupi. Jika tidak, ada beberapa wacana mengubah aula besar jadi rumah sakit darurat. Ada juga disiapkan TNI berupa tenda darurat. Namun, dari berbagai masukan yang ada adalah memanfaatkan hall, misal (Samarinda) convention hall," sambungnya. Terkait tenaga medis ketika masa outbreak, disebut Andi beberapa kabupaten/kota sudah menghitung dan merekrut relawan.

Sementara itu, hasil pemeriksaan uji swab pasien yang bergantung laboratorium di Surabaya dan Jakarta, membuat data yang didapatkan terkait Covid-19 jadi tak maksimal di Kaltim. Data yang masuk begitu lambat. Untuk pemeriksaan satu spesimen saja hasilnya bisa diketahui paling cepat dua hari. Sementara potensi puncak kasus ini diprediksi pada awal Mei.

Andi melanjutkan, pihaknya juga masih menunggu soal kejelasan alat tes PCR kapan datang ke Kaltim. Secara resmi, pihaknya belum mendapat info. Padahal, jika alat tersebut datang, Kaltim akan lebih mudah mendeteksi pasien Covid-19 secara efektif. Hasilnya bisa diketahui cepat dan tindakan yang dilakukan lebih efektif. Saat ini saja, ada 86 pasien dalam pengawasan (PDP) harus bersabar menunggu hasil laboratorium.

Terkait bakal ditempatkan dimana ketika alat tes PCR datang, menurutnya laboratorium kesehatan jadi opsi yang cukup memungkinkan. "Tapi sejauh ini, Laboratorium Kesehatan Kaltim dari kasus flu burung yang lalu saja, bisa," kata Andi,

Sedangkan, keberadaan rapid test atau tes cepat memang membantu. Namun, rapid test bukan untuk mendiagnosa. Tetapi, untuk screening awal. Sebab, hasil rapid test bergantung dengan reaksi antibodi tubuh. Seperti beberapa kasus hasil rapid test yang awalnya negatif. Setelah dites ulang 10 hari kemudian, hasilnya negatif. (nyc/riz)

 

 

 

 

Wilayah di Indonesia yang menerapkan PSBB

 

Provinsi

Kota Pekanbaru Riau

Kabupaten Tangerang Banten

Kota Tangerang Banten

Kota Tangerang Selatan Banten

Kota Depok Jawa Barat

Kabupaten Bekasi Jawa Barat

Kota Bekasi Jawa Barat

Kabupaten Bogor Jawa Barat

Kota Bogor Jawa Barat

Provinsi DKI Jakarta

 

Alasan (kriteria) penerapan:

Jumlah kasus dan/atau jumlah kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan dan cepat ke beberapa wilayah.

 

Terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain.

 

Mengusulkan namun ditolak Kemenkes:

Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur (NTT)

Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

Kota Sorong Papua Barat

 

Alasan penolakan: Belum memenuhi kriteria penetapan PSBB.

 

Sumber: Kementerian Kesehatan

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona