BALIKPAPAN – Alat pendeteksi virus corona atau polymerase chain reaction (PCR) akhirnya tiba di Balikpapan, Selasa (5/5). Diketahui, metode PCR inilah yang direkomendasikan badan kesehatan dunia atau WHO untuk mengecek virus corona. PCR yang sering disebut dengan swab test, menggunakan sampel cairan dari saluran pernapasan bawah pasien sebagai bahan pemeriksaan.
Tes ini dilakukan oleh para petugas kesehatan dengan menyeka bagian belakang tenggorokan. Karena itu, tes PCR digadang-gadang menjadi solusi akurat untuk menguji infeksi virus corona. Alat tes PCR di Balikpapan akan difungsikan di Rumah Sakit Pertamina. Keberadaan alat bantuan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu diharapkan mampu memangkas waktu tunggu pengujian sampel virus corona.
Direktur RSP Balikpapan (RSPB) dr Syamsul Bahri menuturkan, alat PCR tiba kemarin dengan pesawat Garuda Indonesia sekitar pukul 11.00 Wita. Menurutnya, GM Angkasa Pura I Balikpapan ikut membantu mempercepat proses keluarnya barang tersebut di bandara. “Alhamdulillah sekitar pukul 13.00 Wita, sudah tiba di RSPB,” ucapnya kepada Kaltim Post kemarin.
Alat PCR dikemas dalam empat peti kayu. Adapun jenis alat PCR yang didatangkan untuk RSPB adalah LightCycler 480. Bersama dengan reagen atau cairan untuk pemeriksaan dengan metode PCR sebanyak 5.640 buah. Dikutip dari laman resmi Roche selaku perusahaan farmasi asal Swiss yang memproduksi mesin itu, sekali dioperasikan, alat tersebut mampu memeriksa 96-384 sampel.
Syamsul Bahri melanjutkan, dalam satu kali difungsikan, alat tersebut mampu digunakan kurang dari 40 menit untuk 384 sampel. Sementara tidak kurang dari 60 menit untuk pemeriksaan 96 sampel. “Nanti akan kami jelaskan lebih lanjut tentang alat ini, besok (6/5) pagi,” katanya. Dia menyampaikan, pengoperasian PCR masih menunggu teknisi dari perusahaan Roche. Mengingat mesin itu merupakan alat kesehatan yang relatif baru yang digunakan di Indonesia.
“Mudah-mudahan teknisinya dari Roche segera bergabung dengan kita di Balikpapan. Untuk segera dilakukan tes running dan lain-lain. Terus sekali kalibrasi. Kalau semuanya dinyatakan valid, saya pikir sudah bisa beroperasi,” ungkapnya. Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan dr Andi Sri Juliarty mengatakan, alat tersebut akan diinstal lalu dilakukan uji fungsi. Setelah itu baru dilanjutkan uji coba.
Dokter yang akrab disapa Dio ini mengungkapkan, Diskes Balikpapan mengusulkan ke Diskes Kaltim agar spesimen swab pasien yang terindikasi virus corona di Kaltim cukup dibawa ke RSPB. Karena itu, pihaknya menunggu surat kerja sama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan dengan laboratorium RSPB. “Karena semua pemeriksaan swab, terkendali dari Puslitbangkes (Badan Litbangkes). Mudah-mudahan bisa cepat. Jadi kita bisa langsung kirim,” kata dia saat ditemui di Balai Kota kemarin.
Menurutnya, berdasarkan usulan Dinas Kesehatan kabupaten/kota lainnya di Kaltim, laboratorium RSPB diharapkan sebagai rujukan pemeriksaan swab. Sehingga memangkas waktu tunggu pemeriksaan. Sebelumnya, pemeriksaan swab dari Kaltim dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta. Sehingga waktu tunggunya bisa mencapai 14 hari sejak sampel dikirim.
Sehingga dengan adanya alat PCR di laboratorium RSPB, maka proses pemeriksaannya hanya membutuhkan waktu selama 6 jam. Namun pihak RSPB menyampaikan, akan memberikan hasil pemeriksaan keesokan harinya. Dengan jumlah sample yang diperiksa sekira 100 sampel per harinya. “Tetapi harus ada izin dari Puslitbangkes. Bahwa Puslitbangkes bekerja sama dengan RSPB,” ujar perempuan berkerudung ini.
Dio menerangkan, biaya pemeriksaan menggunakan alat PCR akan ditanggung oleh pemerintah. Tetapi jika permintaan secara mandiri, maka akan dibayar sendiri oleh yang bersangkutan. “Untuk tarifnya akan ditetapkan pihak rumah sakit. Seperti halnya sampel swab test yang dikirimkan ke BBLK Surabaya. Yang biaya pemeriksaannya ditanggung Kementerian Kesehatan,” katanya. (kip/riz/k18)
Editor : izak-Indra Zakaria