Selalu ada hikmah di balik musibah. Ketika akses pengajian umum dibatasi saat pandemi korona seperti sekarang, Lembaga Ittihadul Mubalighin Ponpes Lirboyo melakukan terobosan. Mereka berdakwah melalui podcast.
SAMSUL ABIDIN, Kota, JP Radar Kediri
Ramadan tahun ini benar-benar berbeda di Ponpes Lirboyo. Ponpes dengan jumlah santri puluhan ribu itu saat ini sangat sepi. Tidak ada lalu-lalang para santri. Hampir semuanya sudah kembali ke tempat asal mereka di berbagai pelosok tanah air. Meskipun proses belajar sebenarnya belum sepenuhnya usai, wabah korona yang membuat para santri itu akhirnya pulang lebih awal.
Dari sedikit aktivitas itu, salah satunya di studio milik Lembaga Ittihadul Mubalighin (LIM). Tempat ini berada di lantai dua Rusunawa Lirboyo. Ada beberapa santri yang tengah berdiskusi. Mencoba merumuskan tema dakwah yang akan ditampilkan di laman podcast Youtube milik mereka.
“Ini untuk mempercepat langkah kami masuk ke ranah digital. Akhirnya, satu-satunya peluang dakwah saat ini ya lewat media. Terlebih di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini,” ucap Yusuf Fadululloh mengawali perbincangan. Yusuf adalah salah satu pengurus LIM Production.
Awalnya, ide menggunakan podcast muncul seiring dengan banyaknya pembatasan aktivitas sosial kegamaan seiring wabah korona. Mereka tak mungkin lagi berdakwah dengan mengumpulkan banyak orang. Akhirnya, keinginan yang dulu masih sebatas ide akhirnya segera mereka realisasikan.
“Yang bergerak biar medianya saja, kan gitu. Sekarang teknologi sudah lengkap. Sangat-sangat bisalah kita mau masuk ke ranah digital,” ujar pria berkaca mata ini.
Soal ilmu keagamaan, LIM Ponpes Lirboyo yang berdiri sejak 2003 ini tak perlu diragukan. Mereka juga telah banyak memberi kontribusi ke masyarakat melalui beragam aktivitas dakwah. Kali ini, dengan meluncurkan dakwah melalui podcast Youtube sekaligus menjawab tudingan minor masyarakat. Yaitu anggapan bahwa santri itu gaptek alias gagap teknologi.
“Kami membuktikan santri itu bisa masuk ke media. Kami menunjukkan santri itu mumpuni dan kompeten di bidang seperti ini. Akhirnya kami masuk juga ke media dan mengubah perspektif orang-orang,” terang santri 19 tahun yang asli Kabupaten Kediri ini.
Setelah ide terumus oleh 11 santri, mereka mulai mempersiapkan studio untuk rekaman. Beberapa peralatan mereka beli. Seperti kamera, mikrofon, serta mixer audio. Setelah siap podcast dakwah mereka luncurkan 24 April. Atau tepat dengan 1 Ramadan 1441 H. Sekaligus pula peluncuran laman Youtube bernama LIM Production.
Hingga saat ini sudah delapan konten video dakwah yang mereka upload. “Pertama kali upload pada 1 Mei. Alhamdulillah sudah ada 1.500 subscriber dan rata-rata viewers-nya sekitar 2 ribu sampai 3 ribu per videonya,” tambah Yusuf.
Proses pengambilan video mereka lancar-lancar saja. Hanya, awal take video masih diwarnai perasaan grogi. Maklum mereka jarang berakting di depan kamera. “Satu dua kali shoot itu masih grogi. Baru setelah itu kami terbiasa bagaimana ketika di depan kamera,” kenangnya.
Dakwah lewat podcast Youtube bukan tanpa alasan mereka pilih. Paling mendasar karena anak-anak muda selalu membawa gawai. Di gawai itu pasti ada aplikasi Youtube-nya. Itulah awal bagaimana berdakwah lewat podcast Youtube muncul.
Format podcast dipilih karena bisa lebih bebas. Tidak hanya satu arah seperti kultum. Mereka juga bisa mendatangkan narasumber dengan berbagai kompetensi. Materinya pun kian kaya dengan pembahasan masalah sehari-hari.
Selain itu, podcast dipilih karena bisa dua arah atau lebih interaktif. “Karena dua arah itu sangat mudah diserap ilmunya,” imbuh Ahmad Zulfa, salah satu ketua ponpes Lirboyo.
Karena membawa nama besar Ponpes Lirboyo, narasumber yang dihadirkan tak sembarangan. Untuk saat ini masih dari kalangan internal ponpes. Baik itu pengurus, keluarga besar ponpes Lirboyo, maupun tokoh yang ahli di bidang-bidang tertentu.
Sasaran mereka tentu saja kalangan muda. Baik yang pernah mondok atau belum. Tantangannya tentu saja meraih viewer. Karena dari sisi jumlah viewer, video mereka kalah dengan yang bersifat hiburan belaka. “Video di Youtube kan banyak yang kurang berfaedah namun viewersnya banyak. Ini kan eman. Mereka menghabiskan kuota dengan hal yang kurang berfaedah, yang tidak bersifat edukasi dan tidak bermanfaat,” ungkap Yusuf.
Saat ini tema yang disajikan tentu saja terkait dengan Ramadan. Namun, sangat mungkin akan berkembang lebih luas. “Ke depan akan membahas hukum-hukum fikih seperti zakat, salat, bersuci, dan sebagainya,” lanjut Zulfa.
Baik Yusuf atau Zulfa sadar dakwah melalui medsos ini punya dua wajah. Satu sisi bisa mempermudah jangkauan. Di sisi lain juga punya hal kurang bagus. “Seumpama dakwah offline itu kita sama guru harus menjaga adab dan perilaku. Tapi kalau kita online kita gak akan sesopan seperti ketika di depan guru kita langsung,” imbuh Yusuf.(fud)
Editor : izak-Indra Zakaria