Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Khawatir Pulang, Jaga Kesehatan Mental dengan Seminar Online

izak-Indra Zakaria • Minggu, 24 Mei 2020 - 17:29 WIB
SEBELUM LOCKDOWN: Riki Herliansyah berdiri di The Water of Leith, sungai utama yang mengalir melalui Edinburgh, Skotlandia, seminggu sebelum lockdown.
SEBELUM LOCKDOWN: Riki Herliansyah berdiri di The Water of Leith, sungai utama yang mengalir melalui Edinburgh, Skotlandia, seminggu sebelum lockdown.

Tak semua warga di Britania Raya bisa memperoleh akses tes corona. Pun yang punya gejala, diminta isolasi mandiri selama 14 hari.

M RIDHUAN, Balikpapan

Sejak Britania Raya menerapkan lockdown pada 23 Maret lalu, banyak aktivitas masyarakat yang dibatasi. Untuk berbelanja pun, antrean diterapkan di luar toko. Membatasi jumlah manusia di dalam bangunan. Kondisi ini tentu menghabiskan banyak waktu. Apalagi pada jam tertentu antrean bisa mengular.

“Kami pun harus jaga jarak selama mengantre,” sebut Riki Herliansyah, dosen Program Studi Matematika, Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, yang kini berada di Edinburgh, Skotlandia.

Berjalan-jalan pun tak lagi menyenangkan. Jika dulu warga tak masalah berdekatan saat berpapasan, kini beberapa ada yang menghindar jika dalam satu trotoar. Hal ini tentu membawa efek bagi warga lokal yang dikenal ramah, maupun pendatang yang terbiasa dengan kenyamanan kota.

Berbagai cara dilakukan Riki untuk tetap semangat dan sehat menjalani aktivitasnya. Baik sebagai mahasiswa calon doktor filsafat (PhD) di Universitas Edinburgh, atau sebagai seorang muslim yang menjalani ibadah puasa selama Ramadan ini. “Di sini puasanya rata-rata kurang lebih 18-19 jam,” ungkapnya.

Bahkan dia sempat merasakan 20 jam berpuasa ketika waktu berbuka jatuh pada pukul 21.00 dan sahur di pukul 01.00. Namun, karena tinggal bersama teman dan keluarganya, suasananya menyenangkan karena ramai ketika berbuka dan sahur.

“Saat ini buka puasanya pukul 21.30 dan salat Isya pukul 23.11. Sedangkan salat Subuh mulai pada pukul 03.01,” ujarnya.

Kondisi ini membuatnya tidak tidur setelah salat Tarawih. Tanggung. Jadi, dia mengubah pola tidur setelah salat subuh sampai siang sebelum salat zuhur. Di sela waktu salat, dihabiskannya dengan melakukan riset dan tadarus.

“Pernah juga waktu di Australia saya sempat berpuasa. Namun, waktunya jauh lebih singkat dibandingkan di Indonesia,” kata pria yang menyelesaikan studi S2-nya di Universitas New South Wales, Sydney, Australia, itu.

Lantaran semua masjid ditutup akibat lockdown, salat Tarawih dilakukan di rumah. Berjamaah bersama teman dan keluarganya. Pengajian diubah secara online. Kini banyak diselenggarakan oleh Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR) bekerja sama dengan KBRI dan beberapa komunitas muslim lainnya.

“Sempat juga mengadakan bukber (buka bersama) online yang diselingi dengan lomba ‘Mug Coooking’ dan saya menang ternyata. Lumayan dapat voucher belanja, ha-ha-ha,” tawa pemuda asal Kutim itu.

Untuk menu berbuka, Riki tak khawatir selera Indonesianya hilang. Karena tinggal bersama teman yang pandai memasak, jadi menunya bervariasi. Kadang masak mi ayam, asinan bogor, siomay, bakwan, bakso, soto betawi, atau sekadar lalapan tahu tempe sambel mentah.

“Pengalaman puasa di sini, kalo dibilang capek rasanya tidak juga. Selama kita sahur dengan baik. Apalagi lockdown, lebih banyak di kamar,” katanya.

Terkait pelaksanaan salat Id, Riki menyebut, berdasar informasi yang diperolehnya, masjid masih belum diperkenankan dibuka. Jadi, kemungkinan besar, dirinya dan warga muslim lainnya hanya bisa melaksanakan salat Id di rumah masing-masing.

Bagaimana dengan bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di sana? Riki menjelaskan tidak ada bantuan khusus. Namun, KBRI melakukan pendataan seluruh mahasiswa Indonesia di Britania Raya tentang situasi terkini. Jadi, tindakan bisa segera diambil jika terjadi sesuatu.

“Saya bahkan sempat mendapat SMS dari KBRI. Menanyakan bagaimana keadaan kami,” sebutnya.

KBRI juga mengadakan seminar secara online. Ini berhubungan dengan kesehatan mental selama pandemi dan lockdown yang mungkin diderita WNI. Atau sekadar memberikan tips dan cara bagaimana menjaga diri selama pandemi ini

“Alhamdulillah saya belum ada mendapat kabar tentang mahasiswa Indonesia di Britania Raya yang terinfeksi Covid-19,” sambungnya.

Meski Britania Raya termasuk tinggi dalam penyebaran virus corona, pemuda berkacamata ini menyebut, belum ada kebijakan tes massal yang dilakukan otoritas setempat. Dia pun mengaku tidak mengikuti tes. Sebab, sistem yang ada, warga yang memiliki gejala hanya dianjurkan untuk melakukan isolasi atau karantina mandiri selama 14 hari.

“Layanan kesehatan hanya melayani tes jika kita termasuk dalam kategori yang berisiko tinggi terhadap kematian. Misalnya, orang tua atau mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu,” jelasnya.

Kekhawatiran Riki dan WNI lainnya di Britania Raya saat ini adalah situasi pandemi Covid-19 tidak segera membaik. Dan kebijakan lockdown masih terus diberlakukan. Mengingat banyak mahasiswa harus melakukan tugas lapangan untuk mengambil data dan melakukan eksperimen di laboratorium.

“Ini tentunya sangat mengganggu studi kami jika masih tidak dibolehkan untuk masuk lab atau melakukan field trip,” ungkapnya. Beruntung dirinya tidak ada memiliki program field trip dan kegiatan laboratorium.

Lalu sejumlah kabar juga didengar dari Tanah Air. Hal ini disebut membuat cemas mahasiswa yang merencanakan pulang dalam waktu dekat. Informasi yang diperoleh adalah situasi pemeriksaan di bandara yang ada di Indonesia banyak mengalami masalah.

“Beberapa waktu yang lalu kami mendapatkan broadcast dari salah seorang rekan yang pulang ke Indonesia dan harus dikarantina di Wisma Atlet,” ujarnya.

Disebut, teman yang pulang itu menggambarkan situasi di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, cukup kacau dan sangat memprihatinkan. Mereka yang tadinya merasa tidak terinfeksi punya kekhawatiran justru terinfeksi selama karantina.

“Disebutnya management system kurang baik. Tetapi saya dengar kabarnya sudah dibenahi. Mudah-mudahan saja benar demikian,” harapnya. (***/dwi/k16)  

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature