SAMARINDA–Selain di SMP 13 Samarinda, longsor terjadi di Jalan Damai, Gang Intifadah, Kelurahan Sidodamai. Bahkan, kejadian itu mengulang pada akhir Januari lalu. Turap yang seharusnya menahan limpahan tanah bukit dari proyek pematangan lahan perumahan jebol.
Turap belum dibangun, longsor kembali terjadi. Dampak longsor kedua itu membuat akses jalan utama putus. Sekitar 15 meter panjang jalan tertutup tanah. Jalan yang tertutup membuat warga membuat jalan alternatif yang hanya dapat dilewati satu sepeda motor.
Tak hanya akses jalan, rumah warga ikut terkena imbasnya. Beberapa rumah warga masih tergenang air dan lumpur. Bahkan ada sebagian lainnya menjadi miring terhantam longsor.
Aktivitas pematangan lahan untuk perumahan dinilai warga setempat menjadi penyebabnya. Setidaknya ada dua aktivitas perumahan yang mengimpit permukiman. Yakni, Sungai Dama Residence di sisi kanan jalan ketika masuk Jalan Damai dan Gang Intifadah. Juga, Villa Damai yang berada di sisi seberang lainnya.
Warga yang merasa pihak pengembang perumahan tak kunjung menyelesaikan permasalahan, mengambil langkah tegas. Akses menuju aktivitas pembangunan Sungai Damai Residence ditutup sementara, (16/6).
Daryono, warga setempat menuturkan, penutupan dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga lantaran pihak pengembang Sungai Dama Residence yang area lahannya longsor, tak kunjung ada penyelesaian. "Sudah dua kali, mereka hanya ambil tanah di jalan dan dikembalikan saja, enggak diturap lagi," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Rahmat Samudera Alam M Arif Rohman selaku pihak pengembang Perumahan Sungai Dama Residence mengatakan, pihaknya tak bisa berupaya maksimal untuk menangani longsor. Kondisi tanah yang labil, ditambah hujan yang melanda menjadi alasannya.
Longsor sebelumnya sudah dibuang tanahnya sebanyak 500 kali pengangkatan, dan memang belum selesai. "Kalau warga merasa dirugikan tak jadi masalah dengan penutupan ini, kami akan fokus penanganan longsor dulu," lanjutnya.
Arif beralasan, longsor akibat kesalahan pihak pengembang sebelumnya yang tak memerhatikan jalur air pembuangan. Model turap menjadi penyebabnya. Berbekal kajian yang telah dilakukannya, pihaknya akan membuat turap baru dan akan terealisasi Juli.
"Turap itu memang salah sejak dibangun 2014, saya masuk dan disuruh melanjutkan. Kami akan buat turap yang berbeda bentuknya, dengan menggunakan batu bronjong, sehingga air bisa keluar, tanpa memuat material," kuncinya. (*/dad/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria