SEKETIKA Dwi Muhammad Soleh kebingungan begitu tiba di Polsek Samarinda Kota, Jalan Bhayangkara, Samarinda Kota. Dengan membawa kantong plastik berisi air mineral, minuman berenergi, serta makanan ringan, dirinya bolak-balik menanyakan lokasi pasti si pemesan sembari memperlihatkan nota di tangannya.
Mata pemuda 31 tahun yang bekerja sebagai ojek online (ojol) itu langsung berkaca-kaca ketika diberitahukan jika dirinya telah ditipu. Pemesan mengaku seorang polisi berpangkat bripda. Bernama Wijaya.
Namun, saat tiba dan menelepon si pemesan, rupanya nomor Dwi telah diblokir. Walhasil, laki-laki yang baru bekerja sebagai ojol selama dua hari itu hanya pasrah uang Rp 153 ribu miliknya melayang. "Sebenarnya sampingan saja. Aslinya kerja sekuriti. Untuk bantu biaya bapak sakit. Sudah seminggu masuk rumah sakit. Itu juga pinjam modal Rp 200 ribu sama tetangga," keluhnya.
Berselang 30 menit, seorang ojol bernama Dedi (38) juga datang ke Polsek Kota. Kantong plastik yang dijinjingnya pun serupa. Dua air mineral, minuman berenergi, dan sebungkus kacang. Bahkan Dedi telah dua kali membelikan pulsa. Masing-masing senilai Rp 100 ribu. "Lebih Rp 200 ribu saya rugi. Padahal buat modal keliling. Saya juga baru seminggu jadi ojol. Jadi, enggak ngerti kalau ditipu," timpal Dedi.
Orderan fiktif dan penipuan ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Dengan modus dan titik pengantaran serupa, setidaknya sudah 35 ojol berjaket kuning tertipu. Dwi dan Dedi berencana melaporkan penipuan tersebut ke kantor perwakilan. "Akan melapor ke kantor, harapannya kantor dapat mengatasi," pungkasnya. (*/dad/dra/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria