Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mulai Vaksin Covid-19 hingga Sebaran Dokter Tak Merata

izak-Indra Zakaria • Jumat, 13 November 2020 - 00:44 WIB
Photo
Photo

Hari ini (12/11) merupakan Hari Kesehatan Nasional (HKN). Adanya pandemi Covid-19 seolah membuka bagaimana kondisi tata laksana kesehatan di Indonesia.

 

TENAGA kesehatan jadi tumbal ganasnya virus asal Wuhan, Tiongkok, itu. Penelitian vaksin dan obat yang begitu panjang menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Indonesia tengah mengembangkan vaksin Covid-19 yang diberi nama Merah Putih. Eijkman selaku peneliti vaksin itu menyatakan pada 2022 vaksin itu akan siap. Sementara negara lain sudah banyak yang melakukan penelitian tahap 3. Salah satunya vaksin Pfizer yang digadang-gadang efektif mengatasi Covid-19 hingga 90 persen.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan inovasi sangat penting di tengah pandemi Covid-19. Semua negara berlomba melahirkan inovasi di berbagai bidang. Di Tanah Air, inovasi juga terus tumbuh, salah satunya di bidang kesehatan. “Kita akan segera menghasilkan vaksin sendiri, vaksin Merah Putih,” terangnya.

Para inovator juga berhasil menemukan karya-karya yang diperlukan bagi percepatan penanganan Covid-19. Seperti GeNose yang bisa mendeteksi virus melalui embusan napas dari mulut. Komunitas peneliti juga sedang berupaya mengembangkan obat yang efektif untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Artinya, Indonesia punya banyak talenta hebat.

Menurut Jokowi, yang tidak kalah penting adalah ekosistem yang kondusif untuk mendukung munculnya inovasi. Harus ada fasilitasi terus-menerus untuk kerja sama antar-stakeholder, antara inovator dan industri, serta antara pemerintah dan masyarakat. Sehingga karya para inovator tidak hanya menjadi prototipe, namun bisa diproduksi massal.

Bila karya inovator diproduksi massal, akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Juga, memiliki nilai tambah bagi perekonomian dan mampu menciptakan lapangan kerja baru. “Indonesia memerlukan lebih banyak lagi inovator di berbagai sektor yang diperlukan masyarakat,” tambahnya.

Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Sri Rezeki Hadinegoro menyatakan imunisasi merupakan satu standar kesejahteraan suatu negara. Dia menyatakan jika satu negara memiliki persediaan air bersih dan cakupan imunisasinya baik, 70 persen masalah kesehatan bisa teratasi.

Vaksin Covid-19 merupakan suatu upaya yang harus dilakukan. Dia menyatakan kadang yang menjadi ketakutan adalah kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI). “Tapi tidak takut dengan penyakitnya,” tuturnya.

Dia mencontohkan penyakit polio. “Imunisasi polio tetes itu murah. Namun, kalau tidak diberi, bisa jadi terkena polio dan biaya lebih besar,” ungkapnya. Jika sudah telanjur sakit, biaya akan lebih mahal dan produktivitas menurun.

Ketua Tim Riset Uji Klinik Vaksin Covid-19 Universitas Padjadjaran Prof Kusnandi Rusmil mengomentari adanya fenomena antibody dependent enhancement (ADE) yang sempat muncul mengiringi pemberitaan vaksin Covid-19 di tengah proses uji coba.

Kusnandi menjelaskan fenomena ADE yang diketahui sampai saat ini hanya timbul pada vaksin demam berdarah. Sebab, vaksin itu memiliki empat antigen di dalamnya. “Itu tidak terjadi pada Covid-18 yang memiliki satu antigen,” katanya.

Dikatakan penelitian mengenai kemungkinan timbulnya ADE pada vaksin Covid-19, sebelumnya sudah dilakukan pada uji klinik fase pertama dan kedua. Tetapi ternyata di dalam uji klinik kedua fase tersebut, fenomena ADE tidak muncul.

Fenomena ADE adalah sebuah kondisi yang bisa muncul pada pemberian antibodi. Baik itu vaksin atau antibodi bentuk lainnya. Fenomena ADE berupa reaksi yang memperkuat infeksi, sehingga menyebabkan terjadinya suatu imunopatologi yang lebih berat.

KERJA SAMA

Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Wien Kusharyoto mengatakan, dalam produksi vaksin, penting untuk menjalin kerja sama. Di antaranya kerja sama di bidang penyediaan fasilitas untuk good manufacturing practice (GMP). Dia menjelaskan, GMP adalah suatu proses produksi yang baik. “Dalam hal ini vaksin,” katanya.

Dia menuturkan, kerja sama untuk GMP menjadi penting karena sesuai syarat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang harus dipenuhi. Kerja sama untuk GMP di antaranya bisa dilakukan lembaga penelitian dengan PT Tempo Scan.

Wakil Presiden Direktur PT Tempo Scan Made Darma Wijaya mengatakan, mereka berkomitmen membangun kemandirian dalam konteks menghadapi pandemi Covid-19. Menurut dia, kemandirian tersebut salah satu langkah kemajuan bangsa Indonesia.

Dia menjelaskan, dengan adanya kemandirian tersebut, bangsa Indonesia bisa menyediakan alat-alat yang diperlukan dan relevan dengan penanganan pandemi Covid-19. “Termasuk di dalamnya diagnostic test seperti rapid test yang berbasis antibodi maupun antigen. Serta diskusi pengembangan vaksin (Covid-19),” katanya.

Dia mengagumi kapasitas sumber daya manusia (SDM) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan fasilitasnya. Di antaranya, LIPI memiliki laboratorium dengan standar BSL-3 di kawasan Cibinong, Bogor. Dia menilai, ada potensi terbuka kerja sama dengan LIPI. Mulai kerja sama vaksin, herbal, hingga produk lainnya.

KEWALAHAN

Selain itu, pada kesempatan HKN di tengah pandemi juga membuka mata bahwa problematika terkait SDM kesehatan. Waketum 1 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Adib Khumaidi SpOT menyatakan bahwa pemerintah seharusnya berkaca dari pandemi Covid-19 saat ini.

Keteteran dalam penanganan Covid-19 seharusnya dianggap sebagai sinyal untuk memperbaiki layanan kesehatan. Mulai kemampuan sarana dan prasarana kesehatan. Belakangan berita terkait kekurangan ruang isolasi maupun ICU khusus Covid-19 menjadi masalah. Akhirnya angka kesakitan dan kematian cukup tinggi. “Maldistribusi SDM juga terlihat,” tuturnya kemarin.

Sehingga ketika ada satu dokter yang positif Covid-19 atau meninggal, akan jadi masalah serius dalam layanan kesehatan. Bisa jadi satu wilayah pelosok hanya ada satu atau dua dokter spesialis tertentu. Jika ada yang meninggal, layanan kesehatan di wilayah tersebut akan kelimpungan.

Tidak bisa dimungkiri bahwa banyak dokter menumpuk di kota-kota besar. Selain soal kesejahteraan, alat pendukung untuk praktik di wilayah menjadi persoalan. “Supply chain (rantai pasok) obat dan vaksin di Indonesia juga lemah,” tuturnya. Begitu juga soal teknologi terkini dalam pengobatan.

Adib menyatakan dokter di Tanah Air bukannya tak mampu menggunakan alat-alat yang modern. Banyak dokter yang belajar dari luar negeri. “Namun, sampai sini tidak bisa praktik karena alkes (alat kesehatan) luar masuk ke Indonesia mendapat pajak yang besar,” katanya.

Dia membandingkan negara tetangga yang bisa menyediakan layanan kesehatan yang murah. Adib mencontohkan Malaysia yang mampu membangun institut jantung nasional. “Itu masalah komitmen pemerintah dalam menyediakan alkes dan obat yang mudah dan murah,” bebernya.

Selanjutnya program promotif dan preventif di tingkat fasilitas primer yang lemah. Apa yang digaungkan pemerintah terkait gerakan pencegahan Covid-19 salah satu bentuk promotif dan preventif. Untuk itu, Adib berharap pada momen HKN ini ada perhatian serius pada sektor kesehatan. (lyn/byu/JPG/rom/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#satgas covid