Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bangun Budaya Melayani, Satu-satunya dari Kalimantan

izak-Indra Zakaria • Kamis, 17 Desember 2020 - 19:27 WIB
BERDEDIKASI: Martina Yulianti diganjar anugerah ASN teladan dari KemenPAN-RB.
BERDEDIKASI: Martina Yulianti diganjar anugerah ASN teladan dari KemenPAN-RB.

Kiprah Martina Yulianti sebagai aparatur sipil negara (ASN) diapresiasi pemerintah pusat. Figur direktur RSUD AM Parikesit sekaligus kepala Dinas Kesehatan Kukar itu, masuk 10 besar pejabat pimpinan tinggi (PPT) pratama teladan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). Satu-Satunya yang berasal dari Kalimantan.

Kepada Kaltim Post, perempuan yang akrab disapa Dokter Yuli itu berbagi cerita. Berikut petikannya.

 

Bisa ceritakan sedikit tentang ajang anugerah ASN tersebut?

Itu semacam ajang penganugerahan yang dibuat KemenPAN-RB, kepada ASN untuk tiga kategori. Yaitu, PPT Pratama Teladan, PNS Inspiratif, dan The Future Leader. Masing-masing yang ingin dijaring memiliki kriteria yang telah ditentukan.

 

Yang menjadi penilaian apa saja, sehingga Ibu lolos 10 besar PPT Pratama teladan se-Indonesia. Satu-satunya dari Kalimantan.

Itu kategori untuk pejabat eselon dua. Yang dinilai yaitu unsur kepemimpinan, inovasi, dan menginspirasi. Salah satu tujuannya juga mengapresiasi sekaligus menjaring ASN yang bekerja melampaui batas.

Bagi saya, jika kita ingin mendapatkan hasil yang luar biasa, maka kita memang tidak bisa bekerja dengan biasa-biasa saja. Menurut saya, ajang ini bagus untuk memberikan motivasi kepada ASN lain. Supaya menghilangkan anggapan bahwa ASN itu bekerja sekadarnya saja. Tapi juga ada yang bekerja di luar batas itu tadi.

 

Bagaimana semestinya menurut Ibu seorang ASN itu?

Tidak sedikit ASN dijadikan sebagai ujung dari sebuah cita-cita. Sehingga, ketika cita-citanya sudah tercapai, dia menganggap itu sudah berakhir. Hanya menjalankan rutinitas harian, tanpa memiliki motivasi lebih. Mindset itu yang mestinya bersama-sama kita luruskan.

Ketika menjadi ASN, di situlah kita bisa berbuat selayaknya aparatur sipil. Sehingga bisa berinovasi dan berbuat lebih bagi masyarakat. Karena kita digaji dari uang rakyat juga. Tidak hanya di level staf, tetapi juga pada pejabat eselon.

 

Ketika menjadi pejabat di lingkungan pemerintahan, bagaimana semestinya?

Jika kita dipercaya memiliki kewenangan, maka sudah saatnya kita melakukan perubahan yang lebih baik. Kalau tidak, maka kita masuk dalam orang yang rugi. Manfaatkan kesempatan saat kita berada di dalam sistem tersebut. Memang tidak mudah, makanya memang perlu bekerja di luar batas itu tadi.

 

Apa hal yang sudah Ibu wujudkan ketika menjadi ASN, dan apa yang menjadi target selanjutnya?

Untuk di manajemen rumah sakit, alhamdulillah meski tidak sempurna sekali, tapi dalam standar ukuran tertentu kita sudah banyak perubahan. Baik dari sisi pelayanan publik disertai penghargaan-penghargaan lain. Termasuk juga berhasil menuju kemandirian keuangan dengan sistem BLUD. Selain menyehatkan sistem di rumah sakit, juga menghilangkan yang berpotensi munculnya sifat-sifat koruptif. Saya ingin mewujudkan budaya melayani di RSUD AM Parikesit.

Selanjutnya, saya ingin membangun tata kelola kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Melengkapi standar input di bidang kesehatan secara keseluruhan. Baik fisik maupun non-fisik. Itu yang sedang dibangun dan belum selesai.

 

Bagaimana cara membangun komunikasi yang baik dengan bawahan, di tengah kondisi geografis Kukar yang sangat luas?

Ketika pertama kali dilantik jadi kepala Dinas Kesehatan, saya berkeliling ke puskesmas. Saya berdialog meski singkat, tapi harapannya bisa satu frekuensi dan supaya yang ingin saya lakukan nanti bisa diketahui dengan seluruh perangkat struktural yang ada.

 

Apa motivasi awal Ibu menjadi ASN?

Selain karena saya dari keluarga ASN, saya memang ingin sekali membangun daerah.

 

Melihat kinerja Ibu, kabarnya pernah ingin ditarik ke pusat atau ke provinsi. Apa itu benar?

Hahahaha… Saya orangnya slow saja. Tawaran itu pasti ada. Tapi kan itu namanya lolos butuh. Kalau memang kita dibutuhkan, tapi belum lolos karena pimpinan kita belum mengizinkan, maka saya anggap belum waktunya untuk itu. Berarti Allah memang belum menunjukkan jalan itu buat saya.

 

Di balik apresiasi, tentu ada yang tidak puas. Bagaimana tanggapannya?

Bagi saya, penilaian orang itu penting. Tapi kita juga harus punya sikap. Kita juga harus menilai diri kita, apakah kita sudah on the track apa tidak. Saya sendiri mengambil kebijakan untuk kepentingan masyarakat luas.

 

Apa pesan yang bisa dibagi kepada para ASN?

Saya ingin, kita semua memiliki tanggung jawab ke atas. Kalau diberi kesempatan menjadi ASN oleh Allah, maka manfaatkan itu dengan baik. (qi/s/pms/dwi/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#Sosok #sosok inspirasi