Media and Publication Lead Community Development RDMP Balikpapan JO
SAAT memasuki dunia kerja, seberapa pentingkah aktivitas membaca dalam hidup Anda? Perkara membaca ini agaknya perlu kita runut sejak masa mengenali aksara. Ketika kita mendapat kemampuan baru mengenali wujud dan ekspresi bahasa yang berbeda. Saat itu membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus menantang.
Rasa-rasanya apapun ingin kita baca meski lisan terbata mengeja. Mulai deretan artikel pada halaman koran, buku pelajaran, membaca nama-nama toko, stiker, hingga goresan iseng di tembok-tembok kota. Namun, beberapa dari kita kehilangan rasa cinta membaca saat usia kian beranjak dewasa. Membaca menjadi laku yang begitu biasa.
Hal itu beriring dengan aktivitas belajar secara umum yang kian menekan dan membosankan. Tuntutan belajar dengan instrumen membaca tidak lagi menyenangkan. Godaan tampilan video lebih mengasyikkan dan berwarna lengkap dengan suara yang memainkan unsur rasa dan pesona. Jadilah membaca bukan lagi prioritas.
Tapi tiada yang lebih memengaruhi lunturnya minat baca melebihi atmosfer keluarga. Umumnya orangtua yang tidak memiliki budaya baca, cenderung memiliki anak-anak yang rendah apresiasinya pada aksara. Sederas apa pun rangsangan membaca diberikan oleh guru di sekolah, panggung rumah tangga selalu jadi rujukan utama.
Ayah yang penat sehabis bekerja sibuk mengutak-atik gawainya, atau sang ibu yang lebih asyik memilih drama opera sabun dengan remote di tangan ketimbang membaca kalimat demi kalimat pada lembar-lembar buku lantas jadi anutan.
Lalu tibalah saat seseorang memasuki dunia kerja. Keadaan lantas jadi kambing hitam. Rutinitas mekanis kerap dituding sebagai penyebab tiadanya waktu membaca. Aktivitas harian terbilang terlampau melelahkan tubuh dan pikiran.
Namun, benarkah klaim tersebut? Apakah membaca sekadar aktivitas sambil-lalu yang kelewat melelahkan hingga layak ditepikan dalam daftar agenda harian? Ataukah ia semacam kesibukan sia-sia yang menjemukan hingga tak dapat disanding-bandingkan dengan bermain game di smartphone misalnya?
Lagi-lagi ini soal persepsi yang tertanam namun kadung malas untuk dipertanyakan. Dalih kelelahan yang kerap diajukan para pekerja semestinya diuji dengan menjalankan aktivitas membaca itu sendiri. Sebab dalam ritme rutinitas, kelelahan sejatinya lebih didominasi aspek fisik bukan pikiran. Hal itu dapat dibuktikan dengan kecenderungan masih terbukanya pikiran untuk menyerap pelbagai informasi lewat pergunjingan atau gosip.
Di dunia kerja, fenomena tersebut merupakan hal lazim dan dilakukan baik oleh pria maupun wanita bukan melulu domain ibu rumah tangga. Tak pelak salah satu penyebab suburnya pergunjingan dalam interaksi sosial adalah ekses dari pikiran menganggur yang tak mendapat “makanan” tepat. Misalnya, seorang pekerja kantoran memang disibukkan banyak urusan, namun sering kali yang letih hanya fisiknya sementara pikirannya belum tentu.
Akibatnya interaksi sering mengondisikan mereka untuk menjejali “makanan pikiran” berupa gunjingan remeh-temeh dan aib orang lain. Tentu saja hal ini patut disayangkan mengingat ada banyak sumber informasi bergizi yang bisa didapatkan melalui aktivitas membaca membaca buku.
Karenanya tidak heran apabila penyakit insan pekerja dan ibu rumah tangga hari ini adalah kejenuhan. Sedangkan kejenuhan semata-mata buah dari pikiran menganggur yang terlalu lapar akan informasi baru yang padat nutrisi.
Konon ada dalih lain yang biasa diajukan insan pekerja guna mengelak dari aktivitas membaca: harga buku mahal. Harga buku di negeri ini memang terbilang tinggi. Namun setinggi-tingginya harga buku toh bukan berarti tak terbeli andai saja orang-orang memiliki minat baca dan etos belajar tinggi. Buktinya, kelas menengah negeri ini lebih memilih membayar secangkir kopi seharga 30–50 ribuan ketimbang buku. Atau paket data ratusan ribu yang digunakan untuk sekadar bersosial media.
Lepas dari dalih, tidak jarang juga para pekerja beralih ke retorika substitusi. Berselancar di dunia maya toh juga menggunakan aksara. Bukankah buku dan media kertas sudah berganti format digital? Portal-portal online juga informatif, bahkan lebih up to date. Zaman sudah berubah!
Memang etos membaca tak melulu perkara medium. Tapi berinteraksi dengan aksara juga bukan berarti seseorang sudah membaca dengan benar. Ini persoalan yang sering disalahpahami.
Aktivitas membaca pertama-tama untuk mengetahui, lalu menelaah, kemudian berpikir, dan melihat keutuhan di balik subjek yang dibaca. Itu sebabnya informasi perlu diterima dengan utuh dan didialogkan dengan bacaan serta pengalaman hidup sebelumnya. Muaranya tidak lain demi meningkatkan kualitas hidup dan basis pengetahuan.
Etos semacam inilah yang sulit lahir di dunia maya yang cenderung memiliki ritme cepat dan terpenggal-penggal. Informasi memang melimpah, tapi pikiran justru kian kosong dan dangkal. Jadi jika hari ini pemerintah dan banyak kalangan ramai-ramai meributkan bahaya hoaks, jelaslah ada persoalan serius dalam etos membaca bangsa atau ia disalahpahami sekadar mengeja aksara.
Sebab berita palsu nan banal hanya mungkin merebak bukan di masyarakat yang buta aksara, melainkan yang rendah etos membacanya. Pun jika hari ini muncul keluhan soal mutu tenaga kerja di Indonesia, kita bisa kembalikan lagi keluhan tersebut dengan mengajukan pertanyaan, seberapa besar investasi perusahaan di negeri ini untuk menumbuhkan etos literasi karyawannya?
Barangkali itu pertanyaan cum tuntutan yang berlebihan. Maka ketimbang menanti perhatian perusahaan, bukankah akan lebih baik jika para pekerja membangun kesadaran membacanya sendiri? Rasanya tidak perlu mengulas satu persatu manfaat membaca pada tulisan ini. Lagi pula mengetahui manfaat membaca toh tidak terlalu ampuh menggugah orang-orang untuk membaca.
Sebab barangkali ini persoalan atribut identitas. Atau lebih parah lagi: soal pemaknaan hidup selaku manusia yang terbenam dalam rutinitas khas perusahaan. Untuk apa membaca jika bukan akademisi? Untuk apa membaca jika bukan lagi anak sekolahan? Selalu akan banyak alasan. Ringkasnya, “aku pekerja maka aku tak lagi membaca”. (ndu/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria