Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Beragam Dugaan Penyebab Pilar Jembatan Mahkota Bergeser?

izak-Indra Zakaria • Rabu, 28 April 2021 - 03:00 WIB
Longsoran di proyek IPA Kalhol, dekat pilar jembatan Mahakam II.
Longsoran di proyek IPA Kalhol, dekat pilar jembatan Mahakam II.

Jembatan Mahkota II akan ditutup hingga hasil investigasi Jembatan Mahkota II dari Kementerian PUPR keluar dan dinyatakan aman.

 

SAMARINDA-Longsornya timbunan tanah pada proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) Kalhol tak hanya menenggelamkan satu orang, tapi merembet ke Jembatan Mahkota II. Dari pemeriksaan yang dilakukan Pemkot Samarinda Senin (26/4), pilar jembatan bergeser 7 milimeter ke sisi kanan dan turun sedalam 33 milimeter.

Kondisi itu memaksa pemerintah menutup jembatan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pengendara dari arah Kecamatan Palaran yang ingin ke pusat kota, atau sebaliknya dari Kecamatan Sambutan dan sekitarnya, diminta mencari akses alternatif. "Semua arus lalu lintas di jembatan dihentikan. Walaupun sebenarnya berbagai pihak menyarankan yang tidak boleh lewat hanya kendaraan roda empat ke atas. Keputusan ini diambil karena biasanya banyak masyarakat kalau ada musibah itu nonton. Ini agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan," kata Wali Kota Samarinda, Andi Harun, usai memantau pemeriksaan konstruksi Jembatan Mahkota II, Senin (26/4).

Pengecekan konstruksi jembatan dilakukan oleh konsultan Jembatan Mahkota II dan Dinas PUPR Samarinda. Titik longsor memang sangat berdekatan dengan pilar Jembatan Mahkota II. Lokasinya di Jalan Ampera, RT 22, Kelurahan Simpang Pasir, Palaran. "Saya tidak mau spekulasi sampai saya benar-benar yakin kalau jembatan ini aman. Memang kebijakan ini sedikit tidak mengenakkan bagi pengguna jalan, tapi hal ini diambil demi kepentingan yang lebih besar," tutur Andi Harun.

Mantan anggota DPRD Kaltim melanjutkan, kapan jembatan sepanjang 1.428 meter yang diresmikan pada 2017 lalu dibuka, baru dapat diketahui setelah ada pemeriksaan lanjutan. Pada pemeriksaan ini, Pemkot Samarinda akan meminta bantuan Kementerian PUPR. "Penutupan ini akan dilakukan sampai ada pengumuman keadaan baru mengenai dibuka atau dilanjutkannya penutupan yang didasari atas keadaan baru tersebut. Hari ini (kemarin) saya juga akan tanda tangani surat kepada menteri PUPR untuk melakukan assessment atas kejadian ini," ucapnya.

Andi Harun mengungkapkan, masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab pilar jembatan bergeser. "Kami tidak bisa berspekulasi apakah pergeseran pilar jembatan ini akibat pengerjaan proyek IPA Kalhol atau karena dorongan palung. Jadi kami akan menunggu pihak yang memiliki kewenangan untuk menyampaikan hasil investigasinya," ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda Herwan Rifai mengatakan, penjagaan akan diberlakukan di kedua sisi jembatan. "Ada dua personel yang bertugas untuk menjaga. Pada sisi Palaran dijaga dua orang, begitu juga di sisi Sungai Kapih. Saya juga akan perintahkan untuk ditutup dengan barrier beton biar nggak ada yang lewat. Itu beratnya 500 kilo jadi tidak bisa digeser," kata Herwan.

Dengan ditutupnya Jembatan Mahkota II, arus lalu lintas saat ini akan diubah sementara waktu. Pengendara dari arah Palaran dan sekitarnya, diminta melewati Jalan Pattimura atau Jalan Stadion Utama menuju Samarinda Kota atau sebaliknya.

"Sementara arus lalin (lalu lintas) dilewatkan ke Samarinda Seberang dan Palaran. Jalan Pattimura kan sudah bisa dilewati. Jalan Stadion juga akan dipasang lampu," tuturnya. Proyek pembangunan IPA Kalhol dikerjakan di atas lahan seluas 124.926 meter persegi. Proyek yang ditangani Balai Prasarana Permukiman (BPP) Kaltim ini, dikerjakan oleh PT Nindya Karya (Persero). Pembangunan fasilitas Perumdam ini menggunakan dana APBN 2020 dengan nilai pagu Rp 114.355.000.000.

Kepala BPP Kaltim Sandi Eko Bramono menuturkan, selama proyek berlangsung telah mengikuti prosedur yang berlaku. Termasuk penimbunan tanah di tepi Sungai Mahakam. Dia menyatakan, kegiatan telah mengikuti metode yang sesuai. Selama pengurukan, seperempat hektare lahan atau 2.500 meter persegi dengan tinggi 1,5 meter telah berpindah tempat. "Terkait metode pekerjaan yang tidak diturap. Ada dua metode. Ada yang penurapan darat dan penurapan laut. Ini kami gunakan penurapan darat. Pemadatan juga tidak menggunakan vibrator yang membuat getaran. Pembangunan juga tidak berada kurang dari 50 meter as jembatan, karena memang syaratnya," terangnya.

Menurut Eko, penyebab bergesernya tiang pancang bukan hanya karena proyek pengerjaan IPA Kalhol. Sebab, dari catatannya, beberapa kegiatan pernah dilakukan sebelum timbunan tanah ambrol. Mulai penambangan pasir sungai sebelum proyek berjalan hingga bergesernya bangkai kapal SPOB Mulia Mandiri yang tenggelam tak jauh dari kaki jembatan. "Penyebabnya mungkin multifaktor. Dan, seperti yang sempat disampaikan pak wali (Wali Kota Samarinda), penyebab belum tentu karena proyek ini. Sewaktu proyek ini mulai juga ada penambangan pasir. Dan, perlu diketahui, 13 jam sebelum longsor terjadi, ada kapal CPO yang tenggelam. Kapal yang semula tenggelam berada di 15 meter dari bibir terluar sungai dan sekarang posisi bergeser," terangnya.

Soal palung sungai yang berada tak jauh dari proyek IPA Kalhol, Eko mengaku tidak mengetahuinya. Sebab dirinya tidak mendapatkan informasi sebelum proyek berjalan. "Kalau palung, informasi itu tidak terinformasikan akurat kepada kami kalau ada palung ini. Tapi untuk retak-retak di pilon itu pada awal konstruksi memang susah ada," ungkapnya. Diwartakan sebelumnya, timbunan tanah proyek IPA Kalhol di Jalan Ampera, RT 22, Kelurahan Simpang Pasir, Palaran, Samarinda, Minggu (25/4) runtuh.

Tanah yang berada di fondasi tiang pancang juga ikut tergerus. Bahkan tanah urukan masih terus bergerak ke Sungai Mahakam. Saat meninjau lokasi kejadian dua hari lalu, Kepala Dinas PUPR Samarinda Hero Mardanus mengatakan, amblesnya tanah urukan karenatidak ada tiang pancang yang dibangun terlebih dahulu, sehingga tanah yang belum solid ditambah hujan yang beberapa kali terjadi membuat tanah uruk ambles.

"Pengurukan ini belum ada pancangnya. Agak ke tengah sini (sungai) ada palung jadi beban tanah ke atas itu masuk karena tidak ada penahannya akhirnya menurun tanah ke dalam, longsor jadinya," terang Hero. (*/dad/riz/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#jembatan mahkota ii #samarinda