Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

TERSEOK DI JULI

uki-Berau Post • 2021-08-02 19:54:39
Ilustrasi
Ilustrasi

TANJUNG REDEB – Hantaman badai Covid-19 sepanjang Juli 2021, membuat ‘pertahanan’ Dinas Kesehatan bersama Satgas Covid-19 Berau porak-poranda. Ratusan orang dalam sehari terkonfirmasi Covid-19. Padahal kasus yang tercatat sejak Maret 2020 lalu, sempat melandai pada Juni 2021. Dengan angka kasus terkonfirmasi tersisa 45 pasien dengan gejala ringan.

Namun memasuki Juli lalu, kasus tiba-tiba melonjak naik. Kenaikannya langsung signifikan. Mencapai 3.324 kasus terkonfirmasi hanya dalam sebulan. Angka pasien meninggal dunia juga fantastis. Tercatat sebanyak 108 pasien meninggal dunia. Angka kematian tersebut sama dengan jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Berau sepanjang tahun 2020 hingga Juni 2021.

Kondisi itu diakui Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau Iswahyudi. Malah dijelaskannya, tenaga kesehatan kewalahan menangani kasus Covid-19 sepanjang Juli. Bahkan hingga memasuki Agustus, angka kasus terkonfirmasi dan pasien meninggal, juga belum melandai.

Dikatakan, ruang isolasi bagi pasien bergejala berat maupun sedang, selalu penuh. Bahkan setelah Pemkab Berau mengaktifkan kembali Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 yang menggunakan eks Hotel Cantika Swara, ruang perawatan pasien Covid-19 di RSUD dr Abdul Rivai tetap dipenuhi pasien bergejala berat.

“Juli kita seok-seok hadapi Covid-19,” ujar Iswahyudi kepada Berau Post kemarin (1/8).

Dari data pihaknya, lonjakan kasus mulai terlihat sejak 4 Juli lalu. Yakni kasus terkonfirmasi langsung bertambah 85 pasien. Puluhan kasus tersebut didominasi klaster perusahaan dan klaster keluarga. Serta pada hari yang sama, terjadi dua kasus pasien Covid-19 meninggal dunia. Pasien dengan kode Berau 5.267 dan 5.280 yang merupakan pasien transmisi lokal, mengembuskan napas terakhirnya di RSUD dr Abdul Rivai. Selanjutnya, nyaris setiap hari pihaknya merilis inisial pasien meninggal dunia.

Pada 13 Juli lalu, untuk pertama kalinya kasus pasien meninggal dunia sebanyak 5 orang dalam sehari. Empat hari berselang, kasus kematian dalam sehari kembali meningkat sebanayk 6 pasien meninggal dunia. Sementara tambahan kasus terkonfirmasi mencapai 125 kasus dalam satu hari. 

Dari 13 kecamatan, hanya Kecamatan Maratua dan Tabalar yang berstatus zona hijau akibat tingginya kasus terkonfirmasi setiap harinya. Sampai akhirnya, Berau masuk dalam daerah di luar Jawa dan Bali yang harus menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat hingga kini menjadi PPKM level IV.

Sejak menerapkan PPKM darurat, pemerintah melakukan berbagai upaya. Mulai dari penyekatan di 11 titik jalan, pemberlakuan jam malam untuk membatasi aktivitas masyarakat dan pedagang di berbagai titik. Namun kasus Covid-19 tetap saja mengganas. Malah puluhan tenaga kesehatan (Nakes), baik di rumah sakit maupun pusat kesehatan masyarakat (PKM) mulai tumbang setelah ikut terpapar.

“Sepanjang Juli, ada 30 nakes yang terpapar. Kita butuh tambahan nakes,” ungkapnya.

Sejak pertengahan Juli lalu, kasus terkonfirmasi selalu berada di atas 100 kasus per hari. Rekor tertinggi pasien terkonfirmasi terjadi pada 21 Juli lalu. Pasien terkonfirmasi mencapai 180 orang. Jumlah ini membuat pasien yang menjalani perawatan mencapai 1.046 orang. Sedangkan untuk pasien sembuh, tidak pernah lebih dari 100 dalam sehari. Sementara di rumah sakit plat merah tersebut hanya menyiapkan 76 tempat tidur. Akhirnya, banyak pasien yang terpaksa dirawat di lorong rumah sakit. RSD Cantika Swara juga mendapatkan tambahan tempat tidur yang ditempatkan di aula hotel. Karena sebanyak 100 tempat tidur yang disediakan di RSD Cantika Swara, semuanya sudah diisi pasien dengan gejala ringan. “Tapi sekarang sudah ditambah tempat tidurnya,” ungkapnya.

Lonjakan pasien yang diikuti dengan tumbangnya satu per satu nakes, membuat pihaknya membuka lowongan perawat di RSUD dr Abdul Rivai, dengan kuota 50 orang. Namun dari 80 pendaftar, yang lolos seleksi hanya 30 orang. Dan yang terpilih hanya 20 orang, karena 10 lainnya berada di luar Berau. Dengan keterbatasan nakes tersebut, memaksa pihaknya memaksimalkan keberadaan nakes yang ada untuk bekerja 24 jam.

“Kita masih kekurangan nakes. Itu yang membuat kami berat membuka ruang Anggrek dijadikan tempat pasien Covid-19, karena nakesnya yang kurang,” jelasnya.

Upaya pencegahan dan penyelamatan pasien memang terus dimaksimalkan. Mulai dari pelaksanaan vaksinasi massal, hingga memastikan ketersediaan oksigen bagi pasien bergejala berat. Sayang, walau stok oksigen masih dikatakan aman, namun alat ventilator yang dimiliki RSUD dr Abdul Rivai hanya 5 unit.

Keterbatasan alat tersebut membuat tim dokter harus membuat keputusan tepat dalam penanganan pasien. Terutama dalam menentukan pasien mana yang harus mendapatkan bantuan oksigen menggunakan ventilator terlebih dahulu, demi menyelamatkan nyawa pasien yang sudah kritis.

Rekor kasus kematian dalam sehari, tercatat pada 28 Juli lalu. Yakni sebanyak 13 pasien Covid-19 meninggal dunia. Bahkan esok harinya, kasus kematian tetap tinggi walau sudah terjadi penurunan. Yakni sebanyak 12 pasien dinyatakan meninggal dunia.

“Dalam sebulan (selama Juli), pasien yang meninggal dunia akibat Covid-19 mencapai 108 kasus. Tertinggi selama pandemi di Berau. Untuk case fatality rate saat ini sudah 2,6 persen. Sedangkan untuk skala provinsi minimal 3 persen,” ujarnya.

Tingginya kasus kematian dan terkonfirmasi selama penerapan PPKM di Berau, ujar Iswahyudi, salah satunya disebabkan masih minimnya kesadaran sebagian masyarakat dalam disiplin protokol kesehatan (Prokes). Bahkan disebutnya, ada yang menyepelekan karena menganggap virus ini seperti flu biasa saja. Hal itu, lanjut dia, didasari dari banyaknya kasus terkonfirmasi dari masyarakat yang sudah bergejala parah, baru melaporkan kondisi kesehatannya ke tim kesehatan. “Padahal sebelum melapor, sudah menyebarkan ke mana-mana,” ungkap dia.

Untuk itu, dirinya mengajak seluruh masyarakat Berau untuk bergabung menjadi relawanCovid-19. Khususnya sebagai relawan di lingkungan keluarga dan orang terdekat. Dengan terus mengingatkan pentingnya prokes dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.  

Walau menganggap kesadaran sebagian masyarakat masih rendah, Iswahyudi tetap tidak ingin menyalahkan masyarakat. Namun tetap berharap kesadaran masyarakat terus meningkat akan pentingnya penerapan protokol kesehatan. Sebab sepanjang bulan Juli lalu, kasus kematian pasien yang menjalani isolasi mandiri juga cukup banyak. Mencapai 14 pasien. “Itu karena terlambat ditangani. Gejalanya sudah semakin berat baru melapor. Tapi ada juga yang tetap ngotot tak mau dirujuk ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dinyatakan harus isolasi di rumah sakit, tetap ngotot ingin pulang. Itu semua karena kesadaran dari pasiennya yang kurang. Itu yang kami harapkan bisa berubah, kesadaran masyarakat semakin baik. Karena itu saja sudah sangat membantu tim nakes dalam melakukan penanganan,” pungkasnya.

Pada Sabtu (31/7), Bupati Berau Sri Juniarsih mengikuti rapat evaluasi perkembangan pelaksanaan PPKM level 4 di luar Jawa dan Bali melalui zoom meeting. Rapat dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Dalam rapat tersebut, Kabupaten Berau menjadi salah satu daerah yang mendapatkan perhatian khusus pemerintah. Airlangga turut mempertanyakan progres vaksinasi Covid-19, serta persediaan oksigen dan obat-obatan di Bumi Batiwakkal –sebutan Kabupaten Berau. “Bagaimana untuk proses vaksinasinya di Berau,” ujar Airlangga.

Dalam rapat tersebut bupati menyampaikan, animo masyarakat untuk divaksin cukup tinggi. Hanya saja vaksinasi di Kabupaten Berau terkendala jatah vaksin yang sedikit. Sedangkan untuk mencapai herd immunity, harus mencapai 70 persen.

Sedangkan untuk cadangan oksigen dan obat-obatan, Sri Juniarsih menyebutkan tidak menemui kendala.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau Thamrin menuturkan, hasil rapat evaluasi tersebut akan disampaikan ke Presiden Joko Widodo. Pemkab Berau sifatnya hanya menunggu keputusan dari Presiden. Setelah ada keputusan dari Presiden Joko Widodo, akan dituangkan dalam instruksi Menteri Dalam Negeri. “Jadi kita menunggu saja. Belum ada kepastian apakah PPKM level 4 diperpanjang atau tidak. Kan PPKM level 4 berlaku sampai 2 Agustus 2021,” ujarnya. (hmd/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Seputar Berau