Kabupaten Berau punya modal besar untuk mengembangkan pariwisatanya. Tinggal mengemas potensi-potensi dari keindahan alam yang dimilikinya. Menonjolkan kearifan lokal dari keberagaman budayanya. Dibarengi dengan promosi gencar untuk menarik wisatawan datang.
///////
KEINDAHAN alam bawah laut Kepulauan Derawan memang sudah dikenal. Bahkan hingga ke mancanegara. Ditambah segerombolan Hiu Paus (Whale Shark) yang setiap pagi mendatangi bagan nelayan di Talisayan, untuk meminta makan. Keunikan danau dua rasa Labuan Cermin di Bidukbiduk, merupakan potensi-potensi wisata yang harus dijaga.
Berau juga masih memiliki hutan belantara yang bisa menjadi objek wisata alternatif selain wisata bahari. Keanekaragaman flora dan fauna di Hutan Lindung Sungai Lesan, gugusan karst di pegunungan Merabu, hingga tumbuhnya Rafflesia Arnoldi di hutan Teluk Sumbang, Bidukbiduk yang baru ditemukan dalam beberapa tahun terakhir.
Potensi besar itu semua, tinggal diberikan sentuhan kreativitas. Baik dari pemerintah, maupun swasta yang ingin berkecimpung di bisnis pariwisata.
Itulah yang membuat Ronald Lolang, salah satu pengusaha sukses Kaltim, tetap bersemangat mengembangkan pariwisata, khususnya di Kampung Teluk Sumbang, walau usianya sudah tak lagi muda.
“Karena bicara pariwisata, selama ini fokusnya lebih ke wisata bahari. Padahal hutan kita di sini kaya. Di sini (Teluk Sumbang) ada Rafflesia Arnoldi. Itu masih kurang terekspos,” ujar Ronald saat berbincang dengan owner Maluang Raya Group, Oetomo Lianto, di Lamin Guntur, beberapa waktu lalu.
Menurut Ronald, Rafflesia Arnoldi selama ini diketahui hanya tumbuh di Bengkulu dan Taman Raya Bogor. “Masih kurang terekspos yang di Berau ini,” ujarnya.
Dia pun memberi saran ke pemerintah agar tidak sekadar fokus mengembangkan wisata bahari saja. Sebab Berau juga punya keberagaman budaya yang juga bisa dikemas menjadi event pariwisata.
Dia pun menyarankan, pemerintah mulai menginventarisasi potensi-potensi wisata dan budaya yang ada di setiap kecamatan. Potensi-potensi itu lantas dipadukan menjadi paket pariwisata komplet dari hulu ke hilir Bumi Batiwakkal. Setelah semua terinventarisasi, langkah lainnya adalah menggencarkan promosi. “Karena promosi itu juga jadi kunci, tapi masih kurang maksimal saya melihatnya selama ini,” ungkapnya.
Ronald yang punya jaringan luas, kembali menceritakan pengalamannya ketika berbincang dengan Bupati Banyuwangi, Azwar Anas.
Diakuinya, dunia pariwisata Banyuwangi saat ini, sudah maju sangat pesat. Banyuwangi yang bertetangga dengan Pulau Bali, memang sedikit banyak memanfaatkan ketenaran Pulau Dewata untuk menarik wisatawan datang. Khususnya dari mancanegara.
“Banyuwangi sekarang berhasil menjadi yang kedua wisata baharinya. Kalah tempat lain,” terangnya.
Menurut Ronald, pesatnya perkembangan pariwisata Banyuwangi, tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan pemerintah daerahnya. Sebelum pandemi Covid-19, Pemkab Banyuwangi rutin menggelar 10 festival dalam setahun.
“Mereka undang semua orang datang. Akhirnya sukses sekarang. Padahal dulu Banyuwangi yang dikenal jelek-jeleknya saja, sekarang naik,” ungkapnya.
Berbicara mengenai promosi pariwisata, Oetomo Lianto atau yang akrab disapa Aliang, turut menimpalinya. Sebab dirinya juga punya pengalaman ketika berwisata menggunakan kapal pesiar menuju Alaska. Di atas kapal, dirinya banyak mendapatkan brosur-brosur desa-desa wisata yang bisa dikunjunginya ketika sandar di Alaska. Dalam brosur tersebut juga tertera rincian biaya yang harus dikeluarkan jika mengunjungi masing-masing objek wisata. “Semua jelas, jadi kita (wisatawan) sudah bisa memilih tur mau saja yang akan datangi,” ujarnya.
Namun Aliang juga punya pengalaman unik saat berwisata di Alaska. Dirinya tertarik mengunjungi satu desa yang tidak ada wanitanya. Semua penduduknya adalah laki-laki. Namun yang membuatnya tertarik, karena dalam brosur yang dilihatnya, penduduk desa tersebut bisa berkembang biak, walau tidak ada perempuan.
“Jadi penduduk laki-lakinya kawin sama beruang, lahirnya manusia. Itu yang buat saya penasaran mau melihatnya,” jelasnya.
Sambil tertawa sendiri Aliang melanjutkan ceritanya. Sebab apa yang dibayangkannya, jauh berbeda dari yang disaksikannya di desa tersebut. “Sampai di sana, apa yang dilihat. Ternyata hanya ukiran, seperti ukiran Dayak. Manusia kawin sama beruang, lahir anaknya manusia. Berapa bus kami ke sana, karena penasarannya,” ungkapnya.
Tapi dirinya tidak merasa tertipu. Justru melihat betapa besarnya pengaruh promosi sehingga bisa mendatangkan orang untuk berkunjung. “Berapa bus kami ke sana, semua tertawa sendiri karena yang dilihat ternyata hanya ukiran. Tidak salah juga,” terangnya.
Dia pun menyarankan, semua potensi pariwisata di Berau, diinventarisasi dan dipetakan, untuk dibuatkan paket-paket wisata. “Jadi satu kali berkunjung, sudah bisa mendatangi beberapa destinasi. Aku melihatnya itu yang masih kurang, promosinya,” terangnya.
Ronald juga menambahkan mengenai pentingnya promosi. Dia mengilustrasikan keberadaan rumah sakit pemerintah di Samarinda, dengan rumah sakit di Singapura. Diungkapkannya, keberadaan rumah sakit pemerintah di Samarinda dan Singapura, sama-sama memiliki peralatan yang cukup canggih. Namun banyak masyarakat Indonesia, bahkan di Kaltim, yang lebih memilih untuk berobat ke Singapura.
“Karena di Singapura, ketika pasien datang dokternya sudah memberi tahu. Saya dokter yang akan menangani Anda. Dokternya menjelaskan, penyakit saya seperti ini, penanganannya seperti ini, obatnya apa saja, biayanya sekian. Semua dirincikannya. Artinya pelayanannya juga yang bisa membuat orang tertarik untuk datang,” ungkap Ronald.
Jadi, lanjut dia, dengan potensi besar yang dimiliki, juga harus dibarengi dengan menggencarkan promosi dan peningkatan pelayanan. “Agar wisatawan yang datang senang, dan akan datang kembali,” katanya. (udi/har)
Editor : uki-Berau Post