Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

“Jangan Pernah Puas dengan Hasil dan Permainan Terbaikmu”

uki-Berau Post • 2021-11-08 19:29:58
BERPRESTASI: Nenni Marlini, peselancar asal Tanjung Batu peraih medali perak dan perunggu di PON XX Papua 2021.
BERPRESTASI: Nenni Marlini, peselancar asal Tanjung Batu peraih medali perak dan perunggu di PON XX Papua 2021.

Nenni Marlini kembali membuktikan kemampuannya di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua 2021. Meski lepas target medali emas, tapi peselancar asal Tanjung Batu ini mampu bawa pulang dua medali sekaligus, perak dan perunggu. 

SUMARNI, Tanjung Batu

SEGUDANG prestasi sudah dicatat Nenni Marlini. Peraih medali perunggu di ajang SEA Games 2019 lalu, kembali dipercaya memperkuat kontingen Kalimantan Timur di PON XX Papua, yang telah dihelat Oktober lalu. 

Dalam ajang tersebut, Nenni berhasil mengantongi dua medali. Yakni medali perak di class RS One Putri, dan perunggu di class Maraton Open kategori putri.  

"PON tahun ini, menjadi kesempatan yang kedua kalinya bagi saya ikut tampil. Sebelumnya, PON 2016 lalu di Jawa Barat. Dapat medali perunggu di class techno putri," ujar wanita kelahiran 7 Maret 2001 ini. 

Tampil sebagai salah satu kontingen Kaltim, tentu bukan perkara mudah. Butuh perjuangan dan latihan yang keras. Apalagi saat melakoni race demi race di laut Hamadi, Jayapura. Yang merupakan venue bagi cabor layar. Kesulitan terbesar yang dihadapi Neni saat lomba cuma satu. Yakni masih kurang bisa mengontrol diri. 

"Jika saya kalah sekali dalam satu race, terus saya susah untuk mengejar, pasti saya agak blank (tak bisa konsentrasi),” katanya.

Biasanya, untuk mengatasi situasi tersebut, sebelum memulai pertandingan Nenni biasanya menyiapkan bekal permen karet. “Sebenarnya setiap saya bertanding saya selalu mengunyah permen karet agar saya bisa konsen," terangnya. 

Namun pada perhelatan PON kemarin, ‘senjata rahasianya’ itu justru terlupakan. “Kenapa saya tidak beli itu permen, karena saya keburu blank duluan," katanya sambil tersenyum. 

Kepada awak media, Nenni mengaku, di PON tahun ini banyak kisah dan cerita yang dijadikan pengalaman berharga. Terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19 yang memberikan banyak plus dan minus dalam perhelatannya. 

"Pengalaman paling berharga saat dikalahkan sama pemain dari DKI dengan total poin sama," katanya. 

"Yang membedakannya itu di race terakhir, dia nomor 1, sedangkan saya nomor 2, kenapa bisa nomor 2? Ya, seperti itulah di pantai Hamadi banyak sekali sampahnya. Jadi pas detik-detik pertengahan jalan, saya terbalap oleh pemain dari DKI," bebernya. 

"Sukanya, alhamdulillah bisa dapat juara walau nggak sesuai sama target," sambungnya.

Menurut Nenni, perjalanan menjadi seorang atlet yang profesional itu tidak ada yang santai, enak, apalagi instan. Pasti ada lika-likunya. Nah lika-likunya itu yang sudah menjadi makanan atlet sehari-hari. 

"Jadi dijalani saja. Kalau dapat seperti itu ikuti saja, karena itu demi kebaikan, bukan untuk keburukan diri kita," tuturnya. 

Nenni juga mengaku PON tahun ini memberikan kesan tersendiri. Karena untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Papua. Bukan hanya itu, kata Nenni PON tahun ini juga unik. Karena meski beredarnya kabar tentang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, pelaksanaan PON tetap berjalan sukses dan meriah. 

"Itu keren sih. Itu menurut saya berkesan sekali, apalagi pertama kalinya juga menginjakkan kaki di Papua," bebernya. 

Meski begitu, Nenni masih tetap menunjukkan semangatnya untuk menyelesaikan perlombaan hingga akhir. Semangatnya itu juga berkat dorongan orang-orang di sekitarnya. Terlebih orangtua dan saudara-saudara Nenni di Tanjung Batu yang selalu mendoakan kesuksesan dirinya. 

"Semangat saya adalah orangtua dan kakak-adik saya. Karena jika saya menang, saya bisa membanggakan Mama dan mendiang Bapak saya. Itu yang mendorong saya untuk tidak pantang menyerah," ucap anak ke-3 dari 5 bersaudara itu. 

Menjadi salah satu atlet yang digadang-gadang bisa menyumbangkan medali emas, Nenni terpaksa harus rela lepas target di PON tahun ini. Tapi dengan medali perak dan perunggu yang dibawanya pulang, dirasa cukup untuk Nenni memperlihatkan bahwa dirinya sudah melakukan yang terbaik untuk Kaltim dan Bumi Batiwakkal.

"Kalau dibilang kecewa, pasti kecewa dong. Tapi rezeki sudah diatur masing-masing sama Allah. Jadi saya tetap bersyukur," tuturnya. 

Nenni mengakui, kekecewaan juga dirasakan Ketua Porlasi Kaltim, Teddy Abay, torehan emas PON. Meski tidak pernah menunjukkan kekecewaannya secara langsung, Nenni bisa merasakannya. Sebab, ujar Nenni, Teddy yang selama ini disebut sebagai ‘Bapaknya Layar’ adalah orang yang selalu mendukung dirinya dan rekan-rekannya dalam membesarkan olahraga layar di Berau dan Kaltim.

"Karena mereka paling berpengaruh selain mama saya. Merekalah pengganti orangtua saya ketika saya bertanding," ungkapnya. 

Apa yang menjadi kekurangannya di PON Papua, menjadi bahan evaluasi bagi dirinya dan tim pelatih.

"Evaluasinya, harus bisa bermain dengan santai, tapi bukan santai-santai. Jika lebih rileks tanpa tekanan, saya bisa memperbaiki kekurangan saya," katanya. 

Karena setelah PON Papua, dirinya dan rekan-rekannya akan kembali bersiap mengikuti Casal Cup di Jakarta. "Insyaallah emas," katanya dengan percaya diri. 

Selain target terdekat itu, Nenni juga punya keinginan yang sangat dicita-citakannya. Yaitu mewakili Indonesia di Olimpiade. Tapi sebelum itu, dirinya harus mengalahkan atlet-atlet terbaik negara-negara Asia lainnya, sehingga ingin ambil bagian lagi di SEA Games dan Asian Games. 

"Kalau saya sudah bisa menjuarainya, saya pasti bisa main di Olimpiade," ucapnya. 

Selain itu, Nenni juga punya harapan besar lainnya, sekaligus memberi motivasi kepada atlet-atlet Berau lain agar bisa mencatatkan prestasi. “Intinya tetap semangat. Itu saja. Jangan pernah puas sama hasil terbaikmu, juga permainan terbaikmu, jangan pernah puas tentunya," pesannya. (bersambung/udi) 

 

Editor : uki-Berau Post
#feature