Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Punya Deposit 17.861 Ton Uranium, Solusi Mengaliri Listrik IKN

izak-Indra Zakaria • 2021-11-12 13:35:55
Pembangkit tenaga nuklir sudah banyak digunakan di negara maju.
Pembangkit tenaga nuklir sudah banyak digunakan di negara maju.

Energi baru terbarukan (EBT) terus digaungkan oleh pemerintah. Terlebih ibu kota negara (IKN) baru di Kaltim akan banyak mengandalkan EBT.

 

M RIDHUAN, Balikpapan

 

DI Kalimantan, power plan ramah lingkungan itu menyimpan potensi besar di Sungai Kayan, Bulungan Kaltara. Dari sungai itu diklaim mampu menghasilkan listrik hingga 9.000 Megawatt (MW).

Pengamat kelistrikan Bob Soelaiman Effendi menyebut, meski memiliki potensi besar, namun energi intermiten itu suatu saat bisa berdampak pada krisis energi di ibu kota baru. “Secara lokasi, PLTA (pembangkit listrik tenaga air) Sungai Kayan juga terlalu jauh dari IKN,” ungkapnya.

Dia menilai, PLTA Sungai Kayan memiliki jarak lebih dari 1.000 kilometer dari IKN. Dengan jarak tersebut, membuat sistem kelistrikan sangat rentan. Idealnya, panjang transmisi pembangkit hanya kurang dari 500 kilometer beban. “Dan yang tidak disadari banyak pihak, Sungai Kayan secara posisi adalah hilir. Sementara hulunya di Malaysia,” ungkap Bob.

Sebuah penelitian dari Universitas Kaltara terkait daerah aliran sungai (DAS) Kayan pernah dilakukan. Mengambil peran banjir kiriman dari Sabah, Malaysia yang memiliki dampak pada banjir di Tanjung Selor, Kaltara pada 9 Februari 2015 lalu. Banjir diakibatkan oleh luapan Sungai Kayan ditambah kiriman banjir dari Sabah tersebut mencapai ketinggian 1-7 meter.

“Debit air yang masuk ke Sungai Kayan juga dipengaruhi sungai-sungai di sisi Malaysia. Bisa dibayangkan, jika Malaysia membendung-bendung sungai-sungai tersebut. Belum lagi jika terjadi kemarau panjang,” ujarnya.

Jika IKN menggunakan PLTA Sungai Kayan sebagai sumber energi listrik, maka Bob menyebut ada risiko Malaysia memiliki kemampuan menekan Indonesia melalui Sungai Kayan. Karena kondisi itu sudah terjadi di berbagai belahan dunia. Seperti yang terjadi di Sungai Nil.

“Sungai bisa menjadi senjata politik sebuah negara untuk menekan negara lain. Seperti Mesir, Sudan, dan Ethiopia yang bersengketa karena pembangunan Waduk Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD),” jelasnya.

Padahal, sebuah negara tidak boleh menggantungkan sumber energi dari negara lain. Apalagi itu untuk ibu kota negara. Di sisi lain, di radius 500 kilometer dari lokasi ibu kota baru tidak ada EBT yang andal. Karena itu, menurut Bob, nuklir adalah solusi paling praktis dan cepat untuk diimplementasikan di IKN.

“Dengan alasan tersebut, PLTA Kayan sudah tidak realistis sebagai penyokong energi di IKN. Di sisi lain kita tidak bisa menutup mata, Malaysia bisa menjadikan Sungai Kayan sebagai alat politik. Karena kita tahu, konflik dan ketegangan Indonesia-Malaysia kerap terjadi,” bebernya.

Apalagi, PLN menyebut dalam RUPTL 2021-2030, jika selain batu bara, terdapat potensi uranium di Kutai Barat dan Kutai Kartanegara yang bisa digunakan sebagai energi primer PLTN. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) juga menyebut Kaltim memiliki deposit 17.861 ton uranium.

“Dan pertanyaan selanjutnya, apakah mampu hidro dan surya melistriki banyaknya penduduk baru di IKN. Sementara orang Jakarta yang akan pindah ke Kaltim itu rata-rata punya konsumsi listrik hingga 3-3,5 ribu kWh per kapita. Sementara saat ini, konsumsi listrik di Kalimantan hanya 300 kWh per kapita,” urainya.

Bob yang juga kepala perwakilan ThorCon Indonesia itu mengungkapkan riset kajian terhadap implementasi PLTN sebagai bauran energi sebenarnya sudah dilakukan. “Dan saat ini, ThorCon dalam posisi sangat tepat untuk bisa membawa nuklir masuk bauran energi pada 2030-2035. Karena kami sudah mempersiapkannya dari sekarang,” ungkapnya.

Juli lalu, PT ThorCon Power Indonesia menjalin kerja sama riset dan pengembangan teknologi nuklir Thorium Molten Salt Reactor dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain dengan ITB, sebelumnya ThorCon menggaet Virginia Tech University dan University of California di Berkeley untuk penelitian dan pengembangan bahan bakar reaktor nuklir itu.

ThorCon sendiri hingga kini terus menjajaki pembangunan Thorium Molten Salt Reactor 500 MW yang akhirnya populer disebut PLTT (pembangkit listrik tenaga torium). Dengan investasi swasta tanpa APBN melalui skema independent power producer (IPP) dengan target harga jual listrik di kisaran USD 6 sen/kWh. “Dari sisi biaya konstruksi sampai produksi, ini bisa menyaingi batu bara,” ucapnya.

Diketahui, torium adalah salah satu logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element yang tergolong unsur radioaktif dan memiliki potensi sebagai bahan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Bahkan, energi listrik yang dihasilkan dari pengolahan torium diklaim jauh lebih bersih daripada listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik lain, seperti PLTU atau PLTG.

Meski bisa menghasilkan bahan bakar nuklir alternatif, thorium tidak bisa langsung menghasilkan reaksi nuklir. Torium hanya bisa menghasilkan reaksi nuklir jika dipicu oleh bahan bakar nuklir lain, seperti uranium-235, plutonium-239, dan uranium-233.

Ketiga bahan nuklir tersebut merupakan bahan fisi (dapat membelah) yang bila bereaksi dengan neutron akan mengalami reaksi fisi serta menghasilkan unsur sebagai produk fisi, neutron, dan panas. Panas yang dihasilkan digunakan untuk membangkitkan listrik. Sedangkan neutron dipakai untuk bereaksi dengan torium menjadi bahan fisi U-233. (rdh/rom/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#PLN dan Kelistrikan #nuklir