Ironis, ketika pasokan solar subsidi justru melebihi kuota yang ditetapkan, malah memicu antrean di SPBU. Pemerintah mengakui ada kebocoran.
SAMARINDA-Truk tambang batu bara ataupun perkebunan sawit yang harusnya mengonsumsi solar industri, diduga memperparah antrean di SPBU karena diam-diam mengantre solar subsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif berjanji akan menertibkan truk nakal ini, sehingga kelangkaan solar subsidi dan antrean truk di SPBU di Kaltim tak terjadi lagi.
Hal itu disampaikannya saat melakukan inspeksi di lima SPBU di Samarinda, Kamis (7/4). Turut dalam rombongan, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan perwakilan dari BPH Migas. "Saat ini, harga-harga komoditas BBM di dunia ‘kan naik. Selain itu, komoditas tambang atau perkebunan naik semua. Faktor itu mendorong konsumsi dalam negeri. Sedangkan kuota BBM yang bersubsidi ‘kan kuotanya terbatas. Bukan untuk industri. Hanya untuk warga tak mampu. Jangan sampai dialihkan ke yang di luar aturan. Kalau bocor terlalu banyak, pemerintah bisa kebebanan terlalu besar," jelas Arifin.
Dia melanjutkan, selain di Samarinda, tim Kementerian ESDM juga menyasar Balikpapan untuk memantau antrean dan kelangkaan BBM, khususnya solar subsidi.
Sejauh tinjauannya, dia melihat antrean di SPBU sudah tertib. Menariknya, saat sidak di SPBU Jalan Sentosa, Samarinda, Arifin mendapat laporan dari salah seorang sopir truk yang mengatakan adanya kelangkaan di SPBU Loa Janan. Arifin pun langsung bergerak melakukan sidak di SPBU dimaksud. Namun setibanya di lokasi, tidak ditemukan adanya antrean dan kelangkaan.
Arifin berharap, ke depannya antrean di SPBU lancar terus, tidak hanya saat dia turun ke lapangan. Arifin mengatakan, memang banyak sebab mengapa terjadi antrean di SPBU. Salah satunya, BBM bersubsidi bocor ke tempat yang tak berhak. Dia menyatakan, penanganan kebocoran pemakaian solar subsidi akan dilakukan satgas dan aparat penegak hukum. "Soal antrean karena truk tambang, nanti akan ditertibkan. Kalau pertambangan enggak boleh BBM subsidi. Enggak boleh subsidi, harus pakai pertadex," tegasnya.
Dia mengatakan, akan mengolah sejumlah aturan tentang kriteria dan jenis alat transportasi mana yang bisa mendapat BBM subsidi. Apalagi, praktik curang masih rentan karena harga BBM naik. Adapun sekarang, sambung dia, harga minyak mentah naik luar biasa. Waktu awal pandemi Covid-19 drop hingga USD 20, tapi sekarang di angka USD 110 per barrel. "Kenapa? Karena ada recovery, tumbuh ekonomi. Ada konflik Rusia-Ukraina, karena produk BBM mereka diembargo. Itu yang sebabkan, biaya produksi BBM meningkat," ungkapnya.
Sementara itu, Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, pihaknya memberikan jaminan stok seluruh BBM dan elpiji selama Ramadan hingga Idulfitri. Pihaknya mengklaim juga tahu betul ada peningkatan permintaan konsumsi dan disiapkan perencanaan suplai serta distribusinya."Itu kita keliling tidak liat antrean," kata dia.Tetapi Nicke mengakui sebelumnya memang ada antrean. Antrean yang terjadi sebelumnya karena konsumsi solar sudah melebihi kuota yang ditetapkan.
"Di beberapa wilayah di Kalimantan Timur, kuotanya ada yang mencapai lebih dari 20 persen, over kuota. Kemudian kita berikan kelonggaran walaupun over kuota kita tetap suplai, itu mulai Maret. Jadi antrean mungkin terjadi sebelum itu. Karena over kuota dan itu barang subsidi,” kata Nicke. Menurutnya, hampir semua wilayah di seluruh Indonesia terjadi kelangkaan. Karena itu pihaknya sudah membentuk tim Satuan Tugas BBM yang anggotanya terdiri dari Kementerian ESDM, BPH Migas dan kepolisian untuk menanggulangi terjadinya kelangkaan, serta menindak jika terjadi penimbunan dan penyalahgunaan. "Karena kalau ini tidak kita atur maka beban negara luar biasa dan hak masyarakat, rakyat yang kurang mampu dinikmati oleh pengusaha besar, ini tidak boleh terjadi," pungkasnya. (riz/k16)
NOFIYATUL CHALLIMAH
Nofi.office@protonmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria