Japan Indonesia Trading Association (JITA) atau Asosiasi Perdagangan Jepang-Indonesia beralamat di Tokyo, Jepang menyatakan minat berinvestasi dalam bidang teknologi terapan pertanian di Penajam Paser Utara (PPU).
PENAJAM-Pernyataan minat asosiasi Negeri Matahari Terbit itu dinyatakan oleh representasi JITA Fujiki Junichi, Niehi Daisuku, dan Tsutomu Taguchi saat bertemu Pelaksana Tugas (Plt) Bupati PPU Hamdam, di Kantor Bupati PPU Jalan Propinsi, Km 9, Nipahnipah, Kecamatan Penajam, PPU.
Pertemuan di lantai III gedung sekretariat bupati PPU itu, JITA menawarkan fasilitas teknologi untuk ketahanan pangan menyongsong berdirinya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Sepaku, PPU, terutama memperkuat ketahanan pangan PPU, selepas salah satu kecamatannya menjadi IKN Nusantara berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2022 tentang IKN.
“Untuk menjadi ibu kota yang paling maju di seluruh dunia, JITA telah mempersiapkan berbagai teknologi, termasuk yang dibutuhkan yaitu ketahanan pangan terutama padi, bambu, dan juga udang. JITA ingin menjadi bagian yang membuat IKN ini menjadi yang paling maju di seluruh dunia,” kata Ketua JITA Fujiki Junichi. Dia juga presiden Direktur Global Holdings yang telah menandatangani kerja sama pembangunan tangki timbun untuk penampungan minyak kelapa sawit di Kawasan Industri Maloy, Kutai Timur, tahun lalu.
Di depan Hamdam, Fujiki Junichi memaparkan, teknologi ketahanan pangan dari penelitian butuh proses lima tahun. Disebutkannya, yang dibutuhkan masyarakat utama yaitu sandang, pangan, dan papan. JITA ingin bekerja sama dalam bidang tersebut. Dengan teknologi yang digunakan JITA seperti penanaman padi dan bambu dapat menjadi bahan makanan pokok secara cepat dengan hasil produksi berlimpah dalam sekali panen.
“Satu butir benih padi bisa didapatkan satu ikat sebanyak seratus butir padi. Tadinya, Jepang dalam setahun hanya sekali panen. Sekarang, bisa mencapai lima kali panen, dan tinggi padi hanya dua puluh sentimeter sudah bisa panen serta dalam jangka dua bulan pun bisa panen,” kata Fujiki Junichi. “Dengan kondisi iklim tropis Indonesia maka panen padi bisa minimum 6 atau 8 kali dalam setahun,” tambahnya. Plt Bupati PPU Hamdam sangat antusias menyambut tawaran kerja sama itu. “PPU adalah pilihan tepat untuk bekerja sama di bidang ketahanan pangan berupa padi, bambu dan juga udang serta merangkul badan usaha perorangan,” kata Hamdam. (far/k16)
ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id