TANJUNG REDEB - Belum adanya data valid mengenai perkebunan sawit di Bumi Batiwakkal, membuat ada tim yang akan melakukan audit guna menentukan penjumlahan kebun sawit.
Dijelaskan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau Lita Handini, Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI), telah menggelar rapat koordinasi sebagai persiapan audit perkebunan kelapa sawit. Audit tersebut bertujuan untuk mengetahui data valid izin perkebunan, luasan kebun, luas plasma, luas kebun mandiri, dan berapa jumlah pabrik pengolahan kelapa sawit.
"Hasil audit ini digunakan sebagai sarana dan prasarana pendukung dalam penyelesaian permasalahan apa yang dialami kabupaten/kota penghasil sawit," jelas kemarin (20/7).
Lita menyebut, hingga saat ini pemerintah pusat belum memiliki data terkini, terkait luasan perkebunan kelapa sawit di indonesia. Termasuk dampaknya terhadap masyarakat. Padahal melalui data itu, BPK dan BPKP akan melakukan audit.
Hasil audit nantinya akan memberikan masukan kepada pemerintah pusat, bagaimana mengatur segala sistem yang memengaruhi sektor usaha kelapa sawit di Indonesia.
"Sampai saat ini belum ada data yang valid. Karena setiap daerah tidak ada data yang riil. Dan wacananya karena ada Undang-Undang Cipta Kerja, ada bagian yang mengisyaratkan terdapat dana bagi hasil terkait dengan pendapatan CPO," jelasnya.
Dirinya menyebut, belum mengetahui kapan tim audit akan datang ke Kabupaten Berau, mengingat tim akan mengaudit kebun kelapa sawit di seluruh Indonesia. Begitupun mekanisme audit yang belum diketahui.
"Kita hanya bisa menunggu dari tim audit," ucapnya.
Dari data yang dimiliki Disbun Berau, Pemkab Berau telah memberikan 15 izin operasional bagi perusahaan perkebunan dengan luasan lahan di atas 1.000 hektare. Dari data terbaru, sedikitnya tercatat luasan perkebunan sawit di Berau 139.315,14 hektare di tahun 2021.
"Tahun lalu harga bagus, banyak masyarakat membuka lahan sawit hingga pindah komoditas. Karena menjanjikan itu yang mendorong. Mulai april 2022 harga turun. Petani banyak yang mengeluh, tapi harga sawit yang menenetukan pasar dunia," pungkasnya. (hmd/udi)
Editor : uki-Berau Post