Bisnis rokok elektrik makin ke sini makin menjanjikan. Makin banyaknya perokok tembakau yang beralih ke rokok elektrik atau biasa disebut vape, membuat pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di bidang ini makin bertambah cuannya.
HENDRA Hermawan (31) adalah pemilik toko Wiz Cloud Vape Store di Kota Tana Paser. Dia termasuk yang paling konsisten sejak 2017 di bisnis ini.
Sampai 2022 ini, dia telah memiliki tiga cabang. Pertama di Jalan Modang toko pertamanya pada 2016, lalu di Jalan Ahmad Yani (Paya Rupiah) pada 2019, dan terakhir 2022 ini kembali membuka di Jalan Kandilo Bahari.
Bercerita pahit manisnya bisnis ini, Hendra optimistis ke depan bakal makin besar prospeknya. Di samping upaya pemerintah yang mengurangi asap rokok, mengisap rokok elektrik dengan vape atau pod kini sudah banyak jadi gaya hidup. Apalagi sejak dikenakannya cukai dari Kementerian Keuangan untuk liquid ini, artinya rokok elektrik ini sudah diakui pemerintah legalitasnya.
Ditambah lagi makin banyaknya varian liquid (isi ulang). Bahkan dulunya liquid yang mayoritas diproduksi dari luar negeri, kini pangsa pasarnya dikuasai produk lokal. Pelanggannya banyak yang menyukai liquid produksi lokal. Termasuk produksi liquid dari para artis dan konten kreator ternama.
"Dulu produk vape dan liquid pasokannya dari luar negeri, kalau sekarang liquid mayoritas banyak yang saya jual produk lokal, untuk vape atau pod masih imbang dari luar negeri dan lokal," kata Hendra, Senin (27/6).
Kendala bisnis ini kata Hendra ialah distribusi barang yang masih sulit ke Kabupaten Paser. Karena masih banyak memesan dari produsen Pulau Jawa, sehingga ongkos kirimnya cukup besar dan waktu sampainya lumayan lambat. Untuk pesaing, dia tidak khawatir karena yakin rezeki sudah ditetapkan masing-masing.
"Usaha bisa di-copy, cara menjalankannya juga bisa dic-opy, tapi rejeki tidak bisa di-copy karena masing-masing sudah ada takarannya," sebutnya.
Tinggal berusaha maksimal promosi dan lainnya. Selain menjual vape dan liquid, pendapatan dari bisnis ini ialah servis pergantian kapas atau perbaikan vape. Banyak pelanggan yang tidak mau repot, mempercayakan ganti kapas atau servis vapenya ke penjual.
Diakui Hendra saat ini pengguna rokok elektrik masih jauh kalah jumlahnya dengan perokok tembakau. Karena tidak semua perokok cocok dengan rokok elektrik. Apalagi perokok lama yang tidak terlalu paham teknologi, enggan mencoba vape ini.
Untuk tanggung jawabnya terhadap pelanggan, Hendra mengikuti komitmen para pebisnis rokok elektrik se-Indonesia. Yaitu tidak boleh menjual ke pelanggan di bawah umur, minimal harus memiliki KTP. Dia sangat menjaga komitmen ini, banyak selama ini pelanggan di bawah umur yang mencoba membeli vape atau liquid ditolaknya. Meskipun harus rela kehilangan cuan.
"Ini bagian dari tanggung jawab kita menjaga komitmen dan membantu mengawasi anak-anak remaja yang belum seharusnya boleh merokok," katanya. Meskipun banyak cara lain anak di bawah umur mengkonsumsi rokok elektrik, yaitu dengan membeli dari online.
Tantangan yang lain dirasakan selama berbisnis ini ialah saat pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, keijakan pembatasan warga ke luar rumah, ditambah lagi pedagang dibatasi jam berjualan malam, ini sangat dirasakan pelaku usaha. Apalagi rokok elektrik yang pangsa pembelinya umumnya pada malam hari. Sementara jam berjualan dibatasi saat itu.
"Semoga tidak ada lagi kebijakan tersebut dan Paser bebas dari kasus Covid-19," pungkasnya. (jib/far)
Editor : izak-Indra Zakaria