MOSKOW – Vsevolod tak mau mati sia-sia di Ukraina. Karena itu, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan dekrit mobilisasi parsial, Vsevolod memilih untuk meninggalkan negaranya. Dia berkendara selama empat hari dari Moskow melewati perbatasan selatan Rusia menuju Georgia.
Eksodus besar-besaran membuat jalan di perbatasan tersebut macet mengular hingga beberapa kilometer. Vsevolod meninggalkan mobilnya di satu titik dan memilih berjalan kaki. Selasa (27/9) dia akhirnya tiba di Georgia.
’’Di usia 26 tahun ini, saya tidak ingin dibawa pulang dalam peti mati berlapis seng atau menodai tangan saya dengan darah seseorang karena perang satu orang (Vladimir Putin, Red) yang ingin membangun sebuah kerajaan,’’ ujarnya seperti dikutip Los Angeles Times. Dia memilih menyembunyikan nama belakangnya untuk menghindari deteksi pemerintah Rusia.
Hingga kemarin, ada sekitar 200 ribu warga negara Rusia yang melarikan diri ke negara-negara tetangganya. Misalnya, Georgia, Kazakhstan, dan Finlandia. Mayoritas kaum pria. Mereka mengendarai mobil, sepeda, bahkan berjalan kaki. Membeli tiket pesawat sudah sulit karena harganya kelewat mahal akibat tingginya permintaan.
Jumlah penduduk lelaki yang melarikan diri itu masih akan terus bertambah. Saat ini belum ada tanda-tanda arus migrasi berhenti. Terlebih penjaga perbatasan Rusia melonggarkan peraturan dan mengizinkan orang untuk menyeberang dengan berjalan kaki.
Kementerian Dalam Negeri Georgia mengatakan, lebih dari 53 ribu orang Rusia telah memasuki negaranya sejak pekan lalu. Di Kazakhstan, jumlahnya mencapai 98 ribu orang, 43 ribu di Finlandia, dan 3 ribu di Mongolia. Itu belum termasuk golongan kaya yang memilih ke Dubai, Turki, dan beberapa negara lainnya yang memberlakukan bebas visa.
Sementara itu, Putin dijadwalkan mengadakan upacara penandatanganan masuknya empat wilayah Ukraina ke Rusia. Itu adalah wilayah yang menggelar referendum beberapa hari lalu. Yaitu, Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia.
’’Besok (hari ini, Red) pukul 15.00 di St George Hall, Istana Grand Kremlin, upacara penandatanganan akan diadakan untuk memasukkan wilayah baru ke dalam Rusia,’’ ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Presiden Rusia itu direncanakan menyampaikan pidato terpisah di hadapan majelis tinggi parlemen Rusia pada 4 Oktober mendatang. Parlemen memiliki peran penting untuk meratifikasi aneksasi Rusia tersebut. Itu seakan mengingatkan pencaplokan Krimea yang dilakukan Rusia pada 2014.
Di sisi lain, negara-negara Barat sedang menyiapkan sanksi untuk Rusia. Namun, mereka mulai terbelah. Hungaria menyatakan bahwa mereka tidak akan mendukung usulan sanksi baru Uni Eropa (UE) terhadap Rusia jika di dalamnya termasuk sanksi energi. Eropa selama ini memang sangat menggantungkan kebutuhan gas alam dan minyak ke Rusia. Menjatuhkan sanksi di bidang energi sama saja dengan mempersulit diri sendiri.
Namun, langkah itulah yang justru akan diambil UE dalam usulan sanksi putaran ke-8 untuk Rusia. Di dalamnya termasuk membatasi harga minyak Rusia dan memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada perdagangan teknologi tinggi. ’’Sanksi baru ini dirancang untuk membuat Kremlin membayar atas eskalasi perang terhadap Ukraina,’’ ujar Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen seperti dikutip The Guardian.
Terpisah, Wakil Presiden AS Kamala Harris kemarin berkunjung ke Korea Selatan (Korsel). Dia menyempatkan diri ke zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Utara (Korut) dan Korsel.
’’Kedua pemimpin mengkritik retorika nuklir yang provokatif dan peluncuran rudal balistik Pyongyang,’’ bunyi pernyataan bersama Harris dan Presiden Korsel Yoon Suk-yeol yang dirilis oleh Gedung Putih. Mereka juga tetap berkomitmen melakukan denuklirisasi di Korut. Kunjungan Harris tersebut bertujuan menguatkan kerja sama militer dua negara.
Pyongyang sepertinya tidak gentar dengan ancaman-ancaman yang dilontarkan Harris. Hanya berselang beberapa jam setelah Harris meninggalkan Korsel, Korut meluncurkan dua misil balistik lagi dari Sunchon, Pyongyang. Itu adalah uji coba ketiga dalam sepekan terakhir.
NHK mengungkapkan bahwa proyektil misil tampaknya jatuh di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang. Sepanjang tahun ini, Korut sudah menguji coba lebih dari 30 misil. Itu adalah rekor uji coba terbanyak Korut dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (sha/c6/bay)
Editor : izak-Indra Zakaria