Oleh: Dr Salamia
IRO Society Balikpapan
Guru Matematika MTs 1 Balikpapan
Ibu-ibu milenial memiliki karakteristik yang sangat jauh berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Perbedaan muncul karena kemajuan teknologi yang berakibat pada perkembangan dan pergeseran nilai budaya dan peradaban manusia secara global dan berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Seiring perkembangan serta pergeseran nilai budaya dan peradaban manusia secara global, ibu-ibu milenial memiliki tugas, tanggung jawab, dan tantangan yang tidak dapat dikatakan mudah. Baik dalam keluarga, tempat bekerja, maupun lingkungan sekitar mereka. Selain itu, ibu-ibu milenial juga memerlukan persiapan mental yang kuat agar mampu berkontribusi dalam membangun martabat bangsa yang diawali dari keluarga.
FONDASI MARTABAT BANGSA
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata martabat adalah derajat, pangkat, dan kedudukan. Martabat bangsa menjadi cerminan kehormatan dan harga diri suatu bangsa. Masyarakat suatu bangsa berkewajiban memahami, memelihara, menjaga, dan mempertahankan martabat bangsanya. Sebab itu, pemahaman yang baik mutlak diperlukan.
Perwujudan martabat bangsa Indonesia dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945. Jika merujuk pada pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, maka bangsa Indonesia memiliki hak-hak kemanusiaan untuk menentukan masa depan dan mempertahankan martabat bangsa sendiri.
Fondasi martabat bangsa adalah landasan dasar yang kuat untuk membangun martabat suatu bangsa. Merujuk KBBI, fondasi adalah dasar bangunan yang kuat, berada di bawah permukaan tanah tempat bangunan itu didirikan. Landasan dasar yang kuat tentu akan mempertahankan kestabilan suatu bangunan.
Jika martabat suatu bangsa diibaratkan sebuah bangunan maka menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk membangun fondasinya sekuat mungkin. Kekuatan fondasi martabat suatu bangsa akan menghasilkan ketahanan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang akan mengancam dan bahkan menggoyangnya.
Untuk membangun fondasi martabat bangsa diperlukan kerja sama yang baik dari seluruh masyarakatnya. Kontribusi masyarakat dalam membangun fondasi martabat bangsa dapat dimulai dari keluarga yang terwujud dalam pendidikan awal anak. Kenalkan kepada anak-anak kita sejak dini untuk menghargai dan menghormati diri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya.
Karakter menjadi fondasi martabat suatu bangsa yang perlu dikembangkan, dipelihara, dan dijaga bersama-sama sebagai warga negara. Karakter menurut KBBI, memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain (tabiat, watak, kepribadian). Sebab itu, tentu saja setiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda.
Jenis karakter terdiri dari dua; yang sifatnya positif dan yang sifatnya negatif. Karakter positif akan memberi manfaat yang baik atau menguntungkan. Sebaliknya, karakter negatif tidak memberi manfaat yang baik atau merugikan. Karakter positif seseorang (individu) ditunjukkan dalam perilaku, kesadaran, ide, gagasan, inovasi, dan kreativitas yang bersumber dari keberhasilan dalam mengolah pikiran, rasa, dan karsa dengan baik.
Jika masyarakat memiliki karakter positif secara kolektif maka fondasi martabat bangsa akan menjadi kuat dan kokoh. Karakter positif telah dikembangkan dalam kurikulum merdeka yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
TANGGUNG JAWAB IBU MILENIAL
Ibu-ibu milenial adalah ibu-ibu yang telah menikah dan lahir pada 1980 hingga awal 2000. Saat ini, umurnya berkisar 22-42 tahun. Pada umumnya, lebih produktif karena tidak senang berdiam diri, senang mencari kesibukan walaupun berstatus sebagai ibu rumah tangga, pegawai kantoran, baik swasta maupun PNS.
Juga tampak lebih cerdas, terbuka, dan cepat tanggap terhadap perubahan. Pola asuh anak lebih menyenangkan, santai, tidak kaku, dan suportif. Informasi tentang pola asuh anak bagi mereka banyak diperoleh dari media sosial, seperti Facebook, YouTube, TikTok, Twitter, dan lain-lain. Mereka pastinya lebih cepat dalam menggunakan teknologi sehingga lebih senang bertransaksi secara online.
Kualifikasi pendidikan bagi ibu-ibu milenial tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi perkembangan teknologi di era digital. Kehidupan di era digital menghendaki mereka harus pintar, cerdas, toleran, dan literat sehingga mampu mendidik anak-anak juga disebut dengan anak-anak milenial.
Meskipun tidak menjamin bahwa mereka dengan kualifikasi pendidikan yang tinggi pasti mampu mendidik anak-anak milenial dengan baik sesuai dengan zamannya, namun tentu akan berpengaruh baik terhadap pendidikan anak-anak milenial dalam asuhan mereka. Kualifikasi pendidikan mereka akan menjadi contoh, motivasi, dan inspirasi bagi anak-anak milenial dalam asuhan mereka.
Hasil pendidikan anak-anak milenial dalam asuhan mereka dengan kualifikasi pendidikan sarjana (S-1, S-2, dan S-3) tentu akan berbeda dengan hasil pendidikan anak-anak milenial dalam asuhan mereka dengan kualifikasi pendidikan di bawahnya.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak milenial memerlukan pendidikan yang sesuai perkembangan zaman (era). Era digital memerlukan kemampuan literasi tingkat tinggi bagi siapa saja yang menjalani kehidupan di dalamnya. Ibu-ibu milenial seharusnya memiliki kemampuan spesial yang diperoleh dengan lebih banyak belajar tentang fenomena kehidupan. Kemampuan belajar yang tinggi pasti tecermin pada diri para ibu milenial yang memiliki kualifikasi pendidikan tinggi dan berkualitas.
Sesungguhnya, tugas ibu-ibu milenial di era digital sangat banyak dan berat. Mereka tidak hanya bertugas untuk mendampingi dan menjaga suami, melainkan mereka juga harus mampu berkontribusi terhadap berbagai macam sendi kehidupan keluarga. Mereka bertugas untuk meningkatkan kualitas kehidupan keluarga dan mempersiapkan generasi milenial untuk menjalani kehidupan tak pasti di masa yang akan datang.
Termasuk di dalamnya memberi perlindungan serta pendidikan berkualitas, baik, dan bermakna kepada anak-anak mereka yang sedang berproses menjalani kehidupan di era digital. Pendidikan berkualitas dalam keluarga yang ditanamkan sejak dini dapat membentuk karakter positif bagi anak.
Selain itu, tugas ibu-ibu milenial adalah menjadi pengawas, pembimbing, pembelajar, pengarah, dan penggerak (motivator) yang andal bagi anak-anak asuhnya. Mewujudkan sosok menjadi ibu-ibu milenial yang andal tidak mudah. Diperlukan pengetahuan dan wawasan luas, kerja keras, kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan untuk mewujudkannya.
TANTANGAN
Survei komunitas Orami Parenting melibatkan 1.200 ibu milenial berusia 25-35 tahun, menemukan bahwa 85 persen ibu-ibu milenial (orangtua) khawatir anaknya memiliki pergaulan yang kurang baik. Hanya 8 persen yang khawatir anaknya tidak berprestasi di sekolah.
Ibu-ibu milenial lebih mengharapkan anak-anak mereka memiliki ilmu agama yang baik, toleransi, dan kesopanan yang tinggi. Selain itu, mereka mengharapkan agar anak-anak mampu mengurus orangtua di masa yang akan datang.
Hasil survei ini mengonfirmasi bahwa telah terjadi pergeseran pola pikir para ibu milenial dalam mempersiapkan masa depan anak-anak mereka. Prestasi akademik anak-anak di sekolah sudah tidak mengkhawatirkan bagi mereka, melainkan lebih khawatir anak-anak mereka memiliki pergaulan yang kurang baik.
Selain itu, mereka menghendaki anak-anak memiliki ilmu pengetahuan agama yang baik. Pola pikir ibu-ibu milenial lebih fokus pada pendidikan karakter dan ilmu agama. Pendidikan karakter dan ilmu agama merupakan sarana untuk membentengi anak-anak dari hantaman pergaulan kurang baik.
Ibu-ibu milenial seharusnya termotivasi untuk menggali informasi sebanyak mungkin agar peran sebagai ibu dapat terlaksana dengan baik. Pergeseran nilai budaya dan peradaban manusia secara global memaksa mereka harus berupaya menjadi lebih cerdas dalam mencermati perkembangan anak asuhnya.
Upaya mereka dalam membangun fondasi martabat bangsa sangat diperlukan. Fondasi untuk membangun martabat bangsa pastilah tidak lepas dari kontribusi mereka. Mereka dipaksa harus berilmu yang lebih dibandingkan anak-anak asuhnya, terutama anak-anak yang telah memasuki usia remaja dan tergolong dalam generasi milenial.
Ibu-ibu milenial yang berilmu akan mampu mencari solusi jika anak-anak mereka menghadapi masalah dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, mereka harus berupaya memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan yang terkait kehidupan anak-anak mereka. Mereka harus berupaya menjadi ibu-ibu yang cerdas, pintar, toleran, literat, dan berilmu yang lebih anak.
Ilmu pengetahuan memadai yang dimiliki akan membantu dalam mengasuh, mendidik, membimbing, mengarahkan, dan mendampingi anak-anak. Pendidikan perempuan tidak perlu tinggi-tinggi karena ujung-ujungnya juga akan ke dapur dan momong anak “sudah tidak berlaku lagi di era digital”.
Tantangan yang dihadapi ibu-ibu milenial di era digital bermunculan akibat pergeseran nilai budaya dan peradaban manusia secara global. Pergeseran tersebut muncul seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Oleh karena itu, pergeseran nilai budaya dan peradaban manusia secara global menjadi tantangan berat bagi ibu-ibu milenial.
Tantangannya, terutama dalam mendidik anak-anak remaja milenial atau generasi milenial. Generasi milenial memerlukan pola asuh atau pendidikan yang sesuai perkembangan nilai budaya dan peradaban manusia. Sulit bagi mereka menerima pola asuh lama baik di rumah maupun di lembaga pendidikan dan bahkan mereka pelan-pelan cenderung mengabaikannya.
Akibatnya, muncul fenomena di kalangan generasi milenial seperti mengalami degradasi perilaku, tingkat kepercayaan kepada orangtua dan guru semakin menurun, kecanduan gadget, malas belajar, cenderung tidak jujur, dan cenderung menyukai hal-hal yang serba-instan. Fenomena ini tidak hanya menjadi bahan bacaan menarik bagi ibu-ibu milenial, tetapi benar-benar memerlukan perhatian khusus, pengetahuan, kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan dalam menyikapinya.
Perlu ditanamkan dan ditegaskan bahwa penanaman nilai budaya dan pendidikan yang pertama adalah keluarga. Ibu-ibu milenial yang cerdas, memiliki pengetahuan memadai, memiliki perilaku terpuji, berwawasan luas, menguasai teknologi, sabar, jujur, dan ikhlas akan menghasilkan generasi milenial tangguh, berperilaku baik, tidak malas belajar, senang berproses, dan percaya kepada orangtua.
Ketangguhan ibu-ibu milenial dalam menghadapi dan menyikapi degradasi perilaku anak-anak saat ini dapat menjadi cermin tegaknya fondasi martabat bangsa. Tangguh dalam makna tidak mudah putus asa, tidak lepas tanggung jawab, tidak mudah terpengaruh, dan tidak membiarkan anak-anak mereka membendung pergeseran nilai budaya dan peradaban sendiri.
Selain itu, ketangguhan mereka juga tecermin dalam upaya dan kerja keras dalam memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan melalui belajar tanpa henti atau menjadi pembelajar sejati. Mereka harus mampu menjadi ibu tangguh yang dapat diandalkan dan dicontoh oleh anak-anak. Mereka harus menunjukkan kemampuan menjadi pendamping, pembantu, dan guru utama bagi anak-anak.
Tantangan-tantangan akibat terjadinya pergeseran nilai budaya harus dihadapi dengan penuh tanggung jawab dan kebijakan. Mereka berpotensi menjadi “superhero” bagi anak-anak asuhnya. Artinya, mereka berpotensi pula menjadi peletak dasar fondasi martabat bangsa yang kuat dan kokoh. Gadget adalah salah sumber terjadinya konflik antara orang tua dan anak.
Ibu-ibu milenial yang tangguh tidak akan mudah terkalahkan oleh gadget. Tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa gadget adalah sumber informasi yang dapat menyesatkan akan tetapi di sisi lain dapat juga menjadi sumber informasi pengetahuan yang mudah diakses.
Kualitas ketangguhan ibu-ibu milenial dapat ditunjukkan melalui pengetahuan yang memadai, kecerdasan, kesabaran, keikhlasan, dan keterbukaan dalam menyikapi pergeseran nilai budaya dan peradaban manusia secara global akibat kemajuan teknologi informasi. (dwi/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria