Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bercita-cita Membuat Buku

uki-Berau Post • 2023-02-17 01:06:34
TERIMA PENGHARGAAN: Adji Zahra Mahdiyyah, menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi.
TERIMA PENGHARGAAN: Adji Zahra Mahdiyyah, menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi.

Menulis memang dianggap mudah. Namun untuk bisa dinikmati semua dan dipahami berbagai kalangan, perlu ketelitian maupun pengolahan kata yang baik. Khususnya dalam membedah buku, ini untuk sebagian orang bukan perkara mudah, namun hal inilah malah membawa Zahra, menyabet gelar juara di lomba resensi buku tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

 

MAULID HIDAYAT, Tanjung Redeb

 

SEBUAH pena digenggam Adji Zahra Mahdiyyah, lalu mulai membuatnya ‘menari’ di atas kertas putih kosong itu. Genggaman jemari halusnya, menulis kata per kata. Tatapannya fokus, dahinya berkerut untuk mengeluarkan apa yang dirasakannya melalui karya tulis. Bagi orang lain, menulis ya tinggal menulis saja. Tapi tidak bagi dirinya.

Ditemani cemilan dan teh hangat di ruang tamu rumahnya, halaman per halaman dibukanya, untuk membedah isi sebuah buku karya Inni Idarpuri. Zahra benar-benar tidak ingin terlewat satu halaman pun, untuk mencari inti sari buku tersebut.

Berjam-jam, ia habiskan waktu untuk membedah buku berjudul Gampiran Takdir Munita itu. Ia jauh-jauh sudah mempersiapkan semuanya untuk mengikuti lomba Resensi buku tingkat Provinsi Kalimantan Timur. “Huahh selesai juga,” ucap riang Zahra, sapaan akrabnya.

Perjuangan tidak mengkhianati hasil, Dara manis kelahiran Berau, 19 September 2004 ini berhasil menyabet juara 1. Bangga dan haru dia rasakan. Bagaimana tidak, untuk mengikuti lomba itu, dia harus benar-benar pintar membagi waktu dan pikirannya, karena saat ini dia juga masih bersekolah di bangku kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanjung Redeb. “Bersyukur, ini terus menjadi motivasi saya,” ucapnya.

Bukan hanya sekali ia menyabet gelar tersebut, sebelumnya ia juga meraih peringkat pertama untuk lomba yang sama tingkat Kabupaten Berau. “Itu (buku yang dibedah, red) yang tentukan panitia. Peserta tidak bisa menentukan judul sendiri,” paparnya.

Hingga saat ini pun, berbagai piagam dan penghargaan sudah berhasil diperoleh anak dari pasangan Adji Sumarly Saputera dan Helda Mildiana, dimana sang ibunda merupakan wartawati senior di Bumi Batiwakkal.

Dia bahkan sudah memperoleh gelar sejak masih duduk di sekolah dasar. Mulai dari Juara 2 FLS2N lomba menggambar cerita tingkat SD/MI, Juara I kompetensi sains madrasah (KSM) Bidang IPS tingkat kabupaten, Juara Harapan 2 lomba Pidato PAI tingkat Provinsi Kalimantan Timur oleh Kementerian Agama, dan juara 1 Lomba Pemilihan Pelajar Pelopor Lalu Lintas dan Angkutan Umum tingkat kabupaten, serta, juara 2 Lomba Pemilihan Pelajar Pelopor Lalu Lintas dan Angkutan Umum tingkat Provinsi Kalimantan Timur. “Alhamdulillah, ini juga berkat doa semuanya,” tuturnya.

Tidak hanya jago dalam membedah sebuah buku, Zahra juga memiliki blog pribadi untuk menyalurkan hobi menulisnya. Sudah puluhan karya puisi atau sajak yang ia ciptakan. Namun ia yang pemalu, mengaku baru menyunting 10 karyanya di blog pribadinya tersebut. Salah satunya “Semakin Kesini, Semakin Kesana”, yang bercerita tentang kehidupan tanpa tentu arah.

Sedikit gambaran sajak yang ia tulis tentang “Semakin Kesana, Semaki Kesini”.

~

“Semakin kesini semakin kesana.

Melebihkan-lebihkan retorika gelap berujung sesat.

Diriku tak akan melihat hal itu berwarna putih lagi.

Semakin kesini semakin kesana.

Nelangsaku kian tak mampu terbaca bahasa manusia.

Hati hati durjana berwajah ganda menghipnotis bahlul licik sementara

Buih-buih kepercayaan tak nampak lagi disana.

Kau menghitamkan kacamataku yang selalu naif akan dunia,

Namun ternyata gemerlap dunia selalu tampak redup jika kupuisikan.

Semakin kesini semakin kesana,

Ternyata sawah padiku tak selamanya memuntahkan buahnya.

Namun, kutemui Pak Kumis yang selalu mencuri makna di musim gagalnya.

Semakin kesini semakin kesana,

Aku mencoba hormat pada angin yang menyejukkan senduku,

Memburamkan bulir bulir takut akan kerasnya hidup,

Namun angin bercakap, “Coba kau tanya pada Sirius, mengapa ia tetap menguatkan sinarnya di semesta di saat Horna meredupkan cahayanya?”

 ~

“Kalau cita-cita sampai saat ini masih banyak, namun yang pasti, saya ingin membuat buku. Saya ingin kuliah yang tidak ada jurusannya sama hobi saya ini,” ujarnya tertawa.

Ia mengaku mendapat inspirasi dari berbagai hal. Baik itu tentang kehidupan di sekitarnya, curhat teman sebayanya tentang asmara, hingga problematika yang terjadi saat ini. Ia mengaku jika menulis puisi, mengalir saja, dan tergantung moodnya. “Awalnya hobi menulis quotes, diary, lah sekarang malah hobi ke puisi. Jadi ya ngalir saja,” tutupnya. (*/sam)

Editor : uki-Berau Post
#feature