Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bayi 9 Bulan Meninggal di Tengah Banjir

uki-Berau Post • 2023-02-21 14:43:11
BERPOTENSI SEMAKIN PARAH: Hingga kini belum ada tanda banjir yang melanda sejumlah kampung di empat kecamatan akan mereda, menyusul arus dari hulu sungai masih deras dan curah hujan masih cukup tinggi.
BERPOTENSI SEMAKIN PARAH: Hingga kini belum ada tanda banjir yang melanda sejumlah kampung di empat kecamatan akan mereda, menyusul arus dari hulu sungai masih deras dan curah hujan masih cukup tinggi.

TELUK BAYUR – Banjir yang melanda Kampung Tumbit Melayu telan korban. Anak berusia 9 bulan dikabarkan tenggelam sekitar pukul 11.00 Wita, kemarin (20/2). Hal ini pun dibenarkan Kepala Kampung Tumbit Melayu, Maspri.

Dijelaskannya, diketahuinya anak tersebut tenggelam, setelah ayah korban yang sedang memasak di dapur karena sang istri tertidur dalam keadaan sakit mencari keberadaan korban di dalam rumah, namun tidak ditemukan.

Setelah memastikan anaknya tidak ada di dalam rumah, ayah korban langsung melihat ke arah pintu rumah yang dalam keadaan terbuka. Saat di teras dan melihat sekeliling, ayah korban langsung melihat sesuatu mirip boneka dengan keadaan tertelungkup, dia pun langsung turun melihat halnya, saat didekatinya itu merupakan jasad anaknya.

“Saat itu ayah korban langsung berteriak histeris dan meminta pertolongan warga. Jasad korban ini ditemukan sekitar 80 meter dari rumahnya. Dugaan sementara korban itu tercebur, karena lolos dari pengawasan,” katanya.

Sementara itu, Paur Humas Polres Berau, Iptu Suradi mengatakan, pihaknya setelah mendapatkan informasi langsung menuju ke lokasi kejadian. Korban katanya coba dibawa ke puskemas, namun dinyatakan meninggal dunia. “Korban itu anak kedua. Saat ini (kemarin, red) langsung dimakamkan oleh pihak keluarga,” tuturnya.

Kejadian itu juga turut dalam pantauan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat. Selain kejadian itu, kemarin warga Kampung Tumbit Melayu juga mengamankan buaya berukuran 1 meter. Buaya tersebut ditemukan warga tengah berjalan di tengah permukiman warga yang terendam banjir. “Sudah diamankan warga, dan dilepaskan lagi,” bebernya.

Akibat kejadian ini warga sempat takut turun ke jalan, khawatir akan muncul buaya lainnya. Di sisi lain, Nofian mengatakan, saat ini ada 10 kampung yang terendam banjir, yakni Pegat Bukur, Inaran, Bena Baru, Tumbit Dayak, Long Lanuk, dan Siduung Indah yang masuk dalam Kecamatan Sambaliung. Kemudian, di Kecamatan Teluk Bayur, Kampung Tumbit Melayu, sedangkan di Kelay, yakni Kampung Merasa, Long Ayap, Long Laay, Long Ayan.

“Kemungkinan akan bertambah, mengingat curah hujan masih cukup tinggi. Bahkan saat ini belum ada tanda-tanda surut,” ujarnya.

Dirinya pun kembali mengimbau agar masyarakat untuk berhati-hati dalam melakukan aktivitas di luar rumah. Terlebih curah hujan masih cukup tinggi. “Arus masih sangat deras. Curah hujan cukup tinggi, segera laporkan kepada kami jika ada kejadian,” pungkasnya.

Terpisah, Bupati Berau Sri Juniarsih, memastikan kalau Pemkab Berau akan segera menyalurkan bantuan untuk korban terdampak banjir.

Bahkan disebutnya, dirinya telah berkoordinasi dengan Pj Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau Agus Wahyudi dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, mempersiapkan upaya penanganan jangka panjang agar banjir tidak terus terulang.

“Saya sudah update dengan masalah tersebut, dan akan ditangani. Saya sudah perintahkan sekkab untuk segera mengambil tindakan mengenai musibah yang setiap tahun dialami masyarakat itu,” singkat bupati, kemarin.

Terpisah, Pj Sekkab Berau Agus Wahyudi, mengatakan, penanganan banjir ataupun beronjong bukanlah solusi untuk mengatasi penyebab banjir di sejumlah kampung di kawasan tersebut.

“Itu banjir tahunan, itu memang daerah rawan. Tapi masyarakat tidak ingin pindah. Sehabis banjir kesuburan tanahnya meningkat. Tanah endapan itu naik ke atas,” katanya.

Sebenarnya kata Agus, warga pernah ingin direlokasi di area lebih tinggi, antara Jalan Poros Labanan dan Tumbit, namun ada warga enggan untuk pindah, dengan alasan kesuburan tanah yang kurang. Akhirnya, badan jalan yang ditinggikan oleh pemerintah daerah, agar warga mudah direlokasi jika terjadi banjir.

“Ini kejadian banjir merupakan fenomena alam. Karakteristik sungainya berliku-liku, ini yang menyebabkan genangan banjir,” jelasnya.

Dilanjutkanya, pihaknya akan melihat kondisi air, apakah terus mengalami peningkatan atau surut. Jika terus alami peningkatan, pihaknya bersama dengan Dinas Sosial, akan membangun posko dan dapur umum.

“Untuk logistik, Berau masih aman. Saya juga sudah minta kepala BPBD Berau agar terus memonitor ketinggian air,” pungkasnya. (hmd/sam)

Editor : uki-Berau Post
#banjir