APA yang menarik ketika berkunjung ke rumah makan Padang? Apakah daging rendangnya? Sambal ijonya? Ayam popnya kah? Atau pelayan yang wajahnya ayu?
Semuanya saya suka. Saya suka daging rendangnya. Suka ayam popnya. Suka sambal ijonya. Suka perkedelnya. Suka dendeng baladonya. Dan, sangat suka dengan wajah pelayannya yang ayu dan murah senyum.
Sepekan ini, saya mengunjungi beberapa rumah makan padang. Warung cepat saji yang dalam setahun ini jumlahnya cukup banyak. Bila selera makan sedikit menurun, maka nasi padang dengan daging rendang ditambah sambal ijo, bisa memulihkan suasana itu.
Teman saya asal Padang, namanya Anjas. Dia tidak buka warung, tapi sering membuatkan pesanan beberapa menu masakan padang. Praktis, Ia tahu warung mana yang rendangnya nyaman. Warung mana yang ayam popnya enak. Dan, warung mana yang menggunakan beras berkualitas.
Saya bertanyalah pada teman saya itu. Untuk menu daging rendang, warung padang manakah yang paling nyaman. Ia lalu menunjuk, salah satu warung padang yang jualan di Jalan Pemuda. “Itu nyaman, daging rendang dan ayam popnya,” kata Anjas.
Jangan dibandingkan dengan daging rendang dengan warung padang yang ada di Jakarta. Saya pun terbayang warung padang di kawasan Pluit, Jakarta. Rendangnya warnanya lebih gelap dan nyaman.
Pun pernah memesan daging rendang ditambah rendang paru lewat jasa online. Tiba setelah tiga hari dari pemesanan. Rasanya beda dengan rendang yang dibuat para juru masak warung padang di Berau. Kan, beda koki beda rasanya?
Mengunjungi beberapa rumah makan padang untuk apa? Ya, membeli dan makannya di rumah. Saya tidak mempersoalkan perbedaan rasa antarsemua warung padang yang saya kunjungi. Tidak mempersoalkan rasa daging redang antara semua rumah makan padang.
Ada yang saya cermati, di setiap mengunjungi warung itu. Apanya? Bukan jenis lauknya yang banyak. Tapi, bagaimana cara membungkusnya. Itu yang saya lihat tahapannya secara detail.
Rumah makan Padang yang tidak jauh dari rumah saya, butuh sedikit waktu saat membungkus. Cara bungkusnya kan, tidak sama dengan membungkus nasi kuning. Bungkusnya ke atas. Tidak melebar. “Saya belum lincah mas, membungkus nasinya,” kata penjualnya.
Saya tidak bertanya, apakah Ia berasal dari padang atau bukan. Sebab, tahapan membungkus nasi padang, bisa dengan mudah dipelajari. Itupun, sang penjual di antara semua warung padang, membungkusnyatidak sama rapinya.
Hari Senin (8/5) kemarin, saya mampir di warung padang milik teman saya yang memang asal padang. Membeli dua bungkus nasi yang menunya daging rendang dan perkedel, ditambah sayur daun singkong serta sambal ijo. Saya hanya ingin melihat bagaimana urutan membungkusnya.
Cepat sekali dan rapi sekali. Kertasnya ada gambar rumah gadang. Bagian dalamnya dilapisi dengan daun pisang. Dan, terakhir diberi ikatan karet gelang. Ada tahapan paling akhir. Karet gelang itu ditarik dan dilepas sehingga menimbulkan bunyi. Mengasyikkan.
Apa yang saya tangkap dari sekian banyak warung padang, yang saya kunjungi? Bahwa cara mengemas yang menarik, akan menjadi salah satu daya tarik. Jadi, tidak hanya sekadar membungkus dengan kertas. Ada unsur seni dalam mengemas, ditambah lagi hal kecil yang menjadi nilai tambah.
Soal rasa mungkin beda-beda tipis. Sebab, masakan daging rendang dan sambal ijo, bumbu atau bahan dasarnya sama. Walau ada rahasia yang dimiliki sang koki. Bagaimana kemasannya, itu juga bisa mengundang para penikmat warung padang untuk datang.
Dan, satu lagi. Bila membuka pintu, lalu disambut pelayan berambut panjang dengan senyum terbaiknya. Semakin membuat kita betah dan bisa duduk berlama-lama. Tambo cieeek. (*/sam)
@cds_daengsikra
Editor : uki-Berau Post