Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sejarah Museum Nasional Indonesia, Ada Sejak Zaman Belanda dan Beberapa Kali Pindah Gedung

izak-Indra Zakaria • Minggu, 17 September 2023 - 13:39 WIB
Museum Nasional Indonesia. (Website: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Museum Nasional Indonesia. (Website: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Museum Nasional mengalami kebakaran hebat pada Sabtu (16/9) malam. Insiden tersebut diduga karena adanya korsleting. 
Meskipun demikian, kepolisian masih akan menyelidiki penyebab pasti kebakaran tersebut. Petugas akhirnya berhasil memadamkan api di kompleks Museum Nasional sekitar pukul 22.00.
 
Museum Nasional memiliki sejarah panjang karena didirikan sejak zaman kolonial Belanda. Hal itu berawal dari masa akhir abad ke-18 saat pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan mulai berkembang. Dikutip dari laman resmi Museum Nasional, latar belakang pembangunan museum tersebut adalah didirikannya perkumpulan ilmiah Belanda bernama De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen pada 1752 di Harlem.
 
Pemerintah Belanda di Batavia kemudian menginginkan adanya perkumpulan sejenis. Akhirnya didirikanlah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) pada 24 April 1778.
 
Organisasi independen tersebut bertujuan memajukan penelitian di bidang seni dan pengetahuan antara lain biologi, fisika, arkeologi, sastra, serta sejarah. 
 
BG juga menerbitkan hasil-hasil penelitian mereka. Organisasi ini memiliki semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” yang berarti untuk kepentingan masyarakat umum.
 
Sebagai lembaga yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan, BG kemudian berinisiatif untuk memiliki gedung yang bisa menyimpan koleksi bersejarah.
 
Maka, salah seorang pendiri lembaga ini, JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di jalan Kalibesar, yang kala itu merupakan salah satu pusat perdagangan penting di Batavia. Rumah tersebut digunakan untuk menyimpan koleksi benda-benda budaya dan buku-buku yang merupakan sumbangan dari pemilik rumah yaitu JCM Radermacher. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Museum Nasional. 
 
Pemerintah Inggris kemudian sempat berkuasa di Jawa pada 1811-1816. Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung “Societeit de Harmonie”). 
 
Hal itu dikarenakan rumah di jalan Kalibesar tersebut sudah tidak cukup untuk menyimpan benda-benda dan buku bersejarah.  
Maka didirikanlah gedung baru di jalan Majapahit nomor 3. Gedung ini kini beralih fungsi menjadi bagian dari kompleks gedung Sekretariat Negara, di dekat Istana Kepresidenan.
 
Koleksi museum ini kemudian semakin bertambah sehingga butuh gedung baru lagi. Pada 1862, pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah gedung museum baru di Koningsplein Westokasi yang sekarang Jalan Medan Merdeka Barat No. 12.
 
Namun, gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada 1868 yang dikenal sebagai Museum Gajah atau Gedung Gajah karena terdapat patung gajah dari perunggu di halaman depan. Patung itu merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand saat mengunjungi museum pada 1871.
 
BG memiliki jasa yang besar bagi pemerintah kolonial karena memberikan sumbangsih di bidang ilmu pengetahuan dan berperan dalam proyek pemerintah.
 
Maka, pada 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar “Koninklijk” sehingga menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
 
Memasuki era pasca kemerdekaan, organisasi ini kembali mengubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 26 Januari 1950, karena Indonesia sudah menjadi negara berdaulat.
 
Lembaga Kebudayaan Indonesia kemudian memiliki motto baru yaitu 'memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya'.
 
Lembaga ini menyerahkan pengelolaannya kepada pemerintah Indonesia pada 17 September 1962 karena museum memiliki nilai yang penting bagi kehidupan bangsa. Namanya pun berubah menjadi Museum Pusat.
 
Statusnya kemudian meningkat menjadi Museum Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979.
 
Hingga kini Museum Nasional menyimpan lebih dari 190 ribu benda-benda bersejarah yang terdiri dari tujuh jenis koleksi yakni Prasejarah, Arkeologi masa Klasik atau Hindu – Budha; Numismatik dan Heraldik; Keramik; Etnografi, Geografi dan Sejarah. 
 
Museum Nasional terdiri dari dua gedung, yaitu Gedung A digunakan untuk ruang pamer dan wahana Imersifa.
 
Sedangkan Gedung B atau Gedung Arca, selain untuk pameran, juga digunakan untuk kantor, ruang konferensi, laboratorium, ruang pameran temporer, area komersil dan perpustakaan.
 
Pada 22 Maret 2021, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 117/KMK.05/2021, Museum Nasional ditetapkan sebagai instansi pemerintah pusat dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU) di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
 
Sebagai informasi, BLU (Badan Layanan Umum) adalah instansi pemerintah yang menyediakan barang atau jasa untuk dijual tanpa mengutamakan keuntungan komersil dalam melakukan kegiatannya. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria