Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal yang mana sel tersebut bisa tumbuh dan menyebar ke bagian tubuh lainnya bahkan menyebabkan kematian dan merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di dunia.
Pada tahun 2015, berdasarkan data WHO, terdapat 8,8 juta kematian yang diakibatkan oleh penyakit kanker dan dari data Riskesdas tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4% atau sekitar 347.792 orang.
Biaya penanganan kanker relatif mahal / tinggi mulai dari diagnosis hingga pengobatan.
Pengobatan pasien kanker juga harus menyediakan dana yang cukup besar untuk tindakan kemoterapi, radioterapi, dan lainnya.
Meskipun kanker merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti.
Namun hal itu kemungkinan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti merokok / terkena paparan asap rokok, mengkonsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet pada kulit, obesitas dan diet tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan infeksi yang berhubungan dengan kanker.
Para ahli memperkirakan bahwa 40% kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko terjadinya kanker tersebut.
Untuk itu diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat untuk mencegah faktor risiko kanker dan peningkatan program pencegahan dan penanggulangan yang tepat.
Waspadai konsumsi makanan karsinogenik adalah salah satu cara ampuh untuk menghindari munculnya penyakit kanker.
Pola makan yang tidak sehat dan tidak seimbang, seperti kurang serat, banyak lemak, dan berkalori tinggi, serta cemaran yang masuk melalui makanan diketahui dapat memicu terjadinya kanker.
Sebanyak 95% dioksin (zat karsinogenik) masuk tubuh manusia melalui makanan dan sisanya lewat sistem pernapasan dan kulit.
Guna mengurangi risiko kanker, disarankan untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan yang sehat, diantaranya makanan yang menggunakan bahan baku alami dan diolah secara higienis.
Makanan sehat terdiri dari makanan nabati, seperti serealia atau biji-bijian, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan polong-polongan.
Pada bahan pangan nabati terdapat banyak zat-zat gizi seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan terdapat banyak senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan serta serat yang dapat berpotensi menghambat perkembangan kanker.
Berikut adalah beberapa makanan dan minuman dapat menjadi faktor risiko kanker, terutama kanker pada saluran pencernaan. Seperti :
1. Makanan yang diasap dan diasamkan
Makanan yang mengalami proses asap dan pengasinan, seperti acar, memang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung.
Proses pengasapan dan pengasaman dapat menghasilkan senyawa karsinogenik, yang kemudian dapat mempengaruhi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan atau secara terus-menerus.
2. Minuman yang mengandung alkohol
Konsumsi alkohol yang berlebihan telah terbukti meningkatkan risiko terjadinya kanker kerongkongan.
Kandungan alkohol dalam minuman beralkohol dapat merusak jaringan di kerongkongan dan memicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali, yang dapat berujung pada perkembangan kanker.
Faktor-faktor lain, seperti merokok dan pola makan yang buruk, juga dapat memperburuk risiko ini.
3. Makanan dan minuman yang mengandung zat pewarna dan Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Beberapa zat pewarna dan bahan tambahan pangan (BTP) tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung, kanker kolon, kanker hati, dan kanker pankreas.
Penggunaan zat pewarna dan BTP dalam makanan dan minuman dapat menyebabkan paparan kronis terhadap senyawa-senyawa tertentu yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan kanker.
4. Makanan dan minuman yang mengandung logam berat seperti merkuri
Logam berat seperti merkuri dapat terkandung dalam makanan laut, terutama dalam ikan tertentu yang hidup di perairan yang terkontaminasi.
Paparan berkepanjangan terhadap merkuri dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk kerusakan pada sistem saraf, kerusakan pada organ vital, masalah perkembangan pada anak-anak serta dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya kanker kolon dan kanker ginjal.
Oleh karena itu, penting untuk mengkonsumsi makanan laut dengan penuh hati-hati dan pastikan berasal dari sumber yang terjamin kebersihannya.
5. Makanan dan minuman yang mengandung bahan kontaminan seperti aflatoxin, dioksin, melamin, dan lain sebagainya.
Aflatoxin merupakan senyawa racun yang diproduksi oleh jamur Aspergillus, terutama Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus, yang dapat tumbuh pada makanan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan rempah-rempah.
Paparan jangka panjang terhadap aflatoxin telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker hati.
Dioksin adalah senyawa kimia beracun yang dapat dihasilkan oleh proses industri tertentu, termasuk pembakaran limbah, produksi pulp dan kertas, serta peleburan logam.
Paparan jangka panjang terhadap dioksin telah dikaitkan dengan risiko peningkatan kanker tertentu, terutama kanker kulit, kanker paru-paru, dan beberapa jenis kanker lainnya.
Melamin adalah bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan berbagai produk, termasuk peralatan makanan, bahan pengisi plastik, dan pupuk.
Kontaminasi makanan dengan melamin dapat terjadi terutama melalui produk susu yang dipalsukan.
Meskipun hubungan langsung antara melamin dan kanker belum sepenuhnya dipahami, paparan melamin dalam jumlah besar telah dikaitkan dengan risiko kerusakan ginjal dan masalah kesehatan lainnya.
6. Makanan yang terbuat dari tepung murni atau dari daging yang diproses secara berlebihan.
Makanan yang terbuat dari tepung murni atau daging yang diproses secara berlebihan, seperti daging olahan, sosis, kornet, dan daging olahan lainnya yang berwarna merah, telah dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko terjadinya beberapa jenis kanker, termasuk kanker prostat, kanker kolorektal, dan kanker pankreas.
Cara lain pencegahan kanker adalah dengan menambah makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah, memperbanyak beraktivitas fisik, mengupayakan berat badan yang ideal, dan pola hidup yang sehat baik itu kebersihan pribadi maupun lingkungan.
Penting untuk memperhatikan sumber makanan dan minuman yang dikonsumsi serta memastikan bahwa makanan dan minuman tersebut berasal dari produsen yang terpercaya dan terjamin kebersihannya.
Membatasi paparan terhadap bahan kontaminan tersebut penting untuk menjaga kesehatan dan mencegah risiko kanker yang tidak diinginkan.(*)
Editor : izak-Indra Zakaria