Angka tengkes (stunting) di PPU berada di angka 17 persen. Angka yang tergolong tinggi bila dibandingkan dengan target penurunan pada 2024 yang menjadi 14 persen.
HAL tersebut kemudian menjadi atensi Penjabat (Pj) Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Penajam Paser Utara (PPU) Linda Romauli Siregar. “Tentu harus optimis menurunkan itu dengan kegiatan lebih keras,” kata Linda kepada Kaltim Post saat ditemui usai upacara peringatan ke-95 Hari Sumpah Pemuda di Kantor Bupati PPU, Sabtu (28/10).
Saat ini penanganan tengkes masih dalam bentuk pemberian makanan tambahan. Ke depannya, dia bersama tim terkait berencana membangun sebuah sistem yang ditujukan sebagai muara atau titik pencegahan. “Kami akan membuat sistem itu berawal dari membangun sistemnya dahulu. Kemudian nge-link ke KUA (kantor urusan agama) hingga ke gereja-gereja,” ujarnya.
Fungsinya, mengedukasi calon pasangan yang hendak menikah dan mendaftar di KUA atau gereja. Jadi, sejak mereka mendaftar, pihaknya dengan melibatkan Dinas Kesehatan (Diskes) PPU akan membimbing para calon pengantin tersebut. “Diskes PPU hadir untuk penyuluhan agar kehidupan rumah tangga mereka nantinya dapat hidup sehat dalam melahirkan generasi yang tidak stunting. Itu yang harus dilakukan,” timpalnya.
Selain itu, pencegahan-pencegah juga sudah dilakukan dengan mengedukasi ke sekolah-sekolah di PPU. Salah satunya, pencegahan yang sudah dilakukan dengan mengedukasi ke SMK 2 PPU. “Mendampingi anak-anak untuk meminum tablet penambah darah, khususnya remaja putri. Kami hadir di sana supaya kesehatan mereka terjaga sejak dini, sejak remaja,” tuturnya.
Sambil menunggu arahan dari penjabat bupati PPU, kegiatan juga menjamah ke kantong-kantong kawasan stunting untuk membantu dalam memberikan pelayanan kesehatan. “Hampir seluruh kecamatan di PPU terdapat stunting. Namun yang paling tinggi saat ini, berdasarkan data terdapat di kawasan Babulu Laut,” imbuhnya.
Selain itu, upaya lain yang sudah berjalan terdapat pemberian makanan tambahan yang sudah dimasak oleh masyarakat dan diberikan kepada anak-anak yang kurang gizi melalui puskesmas. “Itu juga sebagai upaya dalam rangka pencegahan kepada mereka yang belum terdeteksi stunting. Kalau kita tidak bantu dari sekarang, khawatirnya mereka nanti akan terkena stunting,” pungkasnya. (ndy/k16)
AHMAD MAKI
maki@kaltimpost.co.id
Editor : izak-Indra Zakaria