Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Polemik Sampah Belum Selesai, Imbauan Tak Mempan

izak-Indra Zakaria • Kamis, 2 November 2023 - 16:56 WIB
AROMA TAK SEDAP: Tumpukan sampah kembali terjadi di Jalan Nusyirwan, Rabu (1/11).  Padahal sebelumnya sudah dipasang imbauan untuk tidak dibuang di kawasan tersebut.
AROMA TAK SEDAP: Tumpukan sampah kembali terjadi di Jalan Nusyirwan, Rabu (1/11). Padahal sebelumnya sudah dipasang imbauan untuk tidak dibuang di kawasan tersebut.

Tumpukan sampah kembali terjadi di Jalan Nusyirwan Ismail, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang. Belum diketahui oknum yang membuang, namun perilaku tersebut tetap menyalahi aturan.

 

SAMARINDA–Sebelumnya upaya Pemkot Samarinda dalam menertibkan di kawasan tersebut sudah dilakukan. Itu bermulai pembersihan dan pengangkutan sampah sampai memasang spanduk imbauan yang tertulis larangan membuang sampah di kawasan sekitar.

Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Sebab, hingga kemarin (1/11), tumpukan sampah jenis pecahan kaca, batu-batu, sayuran, plastik dan kayu-kayu masih berserakan.

Praktik yang dilakukan oknum membuang sampah di kawasan tersebut sempat terabadikan kamera warga. Di beberapa grup WhatsApp, video berdurasi singkat itu memperlihatkan truk berkelir kuning bermuatan sampah bertengger di kawasan tersebut. Kendaraan itu diduga hendak membuang muatan yang dibawanya. “Sebelumnya sudah bersih, setelah itu ada lagi yang membuang. Itu bukan warga Lok Bahu karena imbauan sudah kami sampaikan,” ucap Plh Lurah Lok Bahu Samarinda Saiful Anwar, Rabu (1/11).

Aroma tak sedap itu jelas berasal dari tempat penampungan sementara (TPS) ilegal. Dari pantauan harian ini, ada tiga titik yang jaraknya sekitar 30 meter dari titik lainnya. Sedangkan, TPS resmi di wilayah Kelurahan Lok Bahu terdapat tiga titik, yakni di Jalan Teuku Umar (depan Kantor DPRD Kaltim), Perumahan Daksa, dan kawasan Jalan Nusyirwan Ismail yang di bangun melalui swadaya masyarakat sekitar. Nah, lanjut Saiful, penjagaan dan pembersihan sudah dilakukan. Bahkan saat penjagaan dilakukan selama satu pekan, praktik tak elok tersebut tak terjadi. “Tapi anehnya setelah penjagaan sedikit longgar, mereka kembali membuang. Sepertinya mereka mengamati petugas juga, tapi yang pasti bukan warga Lok Bahu,” sambungnya

TPS yang di bangun melalui swadaya masyarakat memiliki ukuran 10x10 meter persegi, yang tertutup di bagian kiri, kanan dan belakang, menggunakan seng biru. Jam operasional pembuangan sama seperti aturan yang ditentukan pemerintah. Namun, TPS tersebut diperuntukan hanya beberapa RT yang turut serta dalam membangun TPS tersebut. “Untuk warga sekitar saja, yang tertulis ada 10 RT, dan kami jaga kalau ada yang dari luar kami tidak izinkan buang di situ,” jelas Ketua RT 15 Hadri. “TPS itu berdiri sejak 1 September lalu, dan yang jaga kadang saya sendiri, dibantu sama koordinator lapangan (korlap) dan pemulung di situ,” tegasnya.

Hedri menambahkan, polemik adanya oknum yang membuang sampah di Jalan Nusyirwan Ismail, tepatnya masuk di RT 27, merupakan oknum di luar dari warga Lok Bahu. “RT 27 masuk di 10 RT itu, dan yang membuang kebanyakan bukan orang sini (Lok Bahu),” tegasnya.

Kembali ke lurah, setelah kejadian itu, pihaknya berencana berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda untuk membicarakan situasi tersebut. “Nanti kami koordinasi lagi, bagaimana tindak lanjutnya. Untuk oknum yang membuang, tolong sayangi lingkungan,” pungkasnya. (dra)

 

EKO PRALISTIO

pralistioeko@gmail.com

 

Editor : izak-Indra Zakaria