Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mike Edward yang Berfilantropi di Pelbagai Daerah hingga Negara Tetangga

izak-Indra Zakaria • Jumat, 10 November 2023 - 16:35 WIB
BANYAK PENGALAMAN: Pengabdian ke daerah terpencil, terluar, maupun tertinggal, memberikan Mike Edward Maramis banyak mendapat cerita dan pengalaman berharga. DOKUMENTASI PRIBADI
BANYAK PENGALAMAN: Pengabdian ke daerah terpencil, terluar, maupun tertinggal, memberikan Mike Edward Maramis banyak mendapat cerita dan pengalaman berharga. DOKUMENTASI PRIBADI

Belakangan berfilantropi seperti volunteer semakin digemari mahasiswa. Banyak organisasi, komunitas, dan lembaga non-profit turut dalam upaya pengabdian, serta untuk memperkenalkan daerah- daerah tertinggal.

 

MIKE Edward Maramis atau kerap disapa Mike, mahasiswa asal Balikpapan yang telah mengikuti tujuh kali pengabdian dalam satu tahun dengan lokasi berbeda-beda. Mulai desa tertinggal hingga ke negeri tetangga.

Menurutnya, meski terdapat banyak organisasi dan kegiatan kepemudaan, kegiatan pengabdian berbeda dengan yang lain, yaitu terlibat secara langsung dan tinggal bersama masyarakat di pulau terluar dan terpencil. Melalui pengalaman itu, Mike memperoleh pengetahuan tentang adat istiadat dari berbagai daerah. Merasakan langsung berbagai masalah yang dihadapi setiap tempat yang dikunjungi.

Dia ikut dalam National Volunteer Festival di Bali untuk pengabdian di Desa Tenganan, sebuah desa adat tertua di Pulau Dewata. Dia juga pernah mengikuti Changemaker Youth Excursion di Kuala Lumpur, untuk mengenal sistem pendidikan di sana. Kemudian berpartisipasi dalam Ekspedisi Jejak Budaya di Sumatra Barat, khususnya di Desa Sungai Batang, tempat kelahiran Buya HAMKA, sastrawan serta pernah menggeluti dunia kewartawanan. Mike juga terlibat dalam agenda Village Development Expedition di Pulau Runduma, Wakatobi, dengan melakukan pengabdian di pulau terluar dan terpencil tersebut, serta berbagai pengabdian lainnya.

Sebelum mengikuti volunteer, Mike menjalani serangkaian seleksi untuk mendapatkan jalur fully funded. Seleksinya online, dan terdiri beberapa tahap. Mulai berkas, wawancara, hingga mengikuti focus group discussion (FGD). Sistem seleksi itu bersifat gugur, artinya jika tidak lolos pada satu tahap, peserta akan langsung dinyatakan gugur. Dalam seleksi tersebut, biasanya dari sampai 3 ribu pendaftar, dan hanya 5–7 orang yang terpilih untuk mendapatkan fully funded.

Peserta yang lolos fully funded akan mendapatkan fasilitas berupa transportasi pulang-pergi dari domisili mereka ke tempat pengabdian, makanan selama berada di lokasi pengabdian, akomodasi, transportasi lokal, serta sertifikat baik tingkat nasional maupun internasional. Semua fasilitas itu disediakan secara gratis untuk mendukung partisipasi mereka dalam kegiatan volunteer tersebut.

Proses itu tidak mudah baginya. Karena dari 16 kali mencoba mendaftar, 9 kali ia dinyatakan gugur. Namun, berkat kegigihannya dalam mengikuti seleksi itu, ia lolos tujuh kali. "Ada dua moto hidup saya, muda berkelana tua bercerita, dan Si Tou Timuo Tumou Tou. Sebuah peribahasa bahasa Minahasa yang artinya kita hidup dengan menghidupi orang lain, atau kita hidup untuk memanusiakan manusia lain," sambungnya.

Untuk selanjutnya ia berharap dapat mengabdi kembali di Indonesia Timur, dan saat ini ia sedang dalam tahap seleksi conference and summit internasional. (dra/k8)

 

BUNGA MEILINIA SAFIRA

bungameilinia14@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria