Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Usung Konsep Ketahanan Iklim, Pembangunan Ruang Terbuka di Samarinda Target Selesai September

Denny Saputra • Sabtu, 4 Mei 2024 - 02:00 WIB

PERCONTOHAN: Wali Kota Samarinda Andi Harun (tengah) menuang semen di salah satu area dalam groundbreaking proyek Embracing The Sun dari Adaptation Fund di belakang Pasar Segiri, Kecamatan Samarinda U
PERCONTOHAN: Wali Kota Samarinda Andi Harun (tengah) menuang semen di salah satu area dalam groundbreaking proyek Embracing The Sun dari Adaptation Fund di belakang Pasar Segiri, Kecamatan Samarinda U
 

 

Sebuah ruang terbuka dengan konsep ketahanan iklim dibangun di belakang Pasar Segiri, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu.

 

SAMARINDA–Dulu lokasi tersebut permukiman kumuh. Nantinya disulap menjadi ruang terbuka dengan pendanaan dari Adaptation Fund (AF) yang disalurkan melalui KEMITRAAN, dan bekerja sama dengan Center of Climate and Urban Resilience (CeCUR). Proyek fisik senilai Rp 5 miliar itu ditarget rampung September mendatang.

Direktur Eksekutif KEMITRAAN Laode M Syarif mengatakan, kegiatan itu menjadi awal pembangunan ruang terbuka, yang mendukung penggunaan energi hijau atau terbarukan. Diharapkan menjadi contoh untuk perkembangan kota-kota lainnya.

“Sumber listrik lampu taman akan menggunakan tenaga bayu atau menggunakan wind turbine,” ucapnya.

Dia berharap kepada pemerintah daerah, khususnya Pemkot Samarinda, ketika proyek tersebut rampung dan berhasil, bisa direplika di titik lainnya. Di titik awal, dirinya melihat tantangan dalam pemeliharaan, karena berada di tepi sungai dan pasar, sehingga selain ruang terbuka yang bersih, sungai, dan pasar juga diharapkan ikut bersih. “Itu hanya stimulan agar masyarakat bisa menghidupkan area tersebut. Misalnya membangkitkan ekonomi yang bersih,” jelasnya.

Sementara itu, lebih rinci soal pembangunan, Direktur Eksekutif CeCUR Prof Retno Hastijanti mengatakan, anggaran fisik proyek senilai Rp 5 miliar dari sekitar Rp 11 miliar yang diperoleh dari hibah AF. Selain fisik, anggaran juga dialokasikan untuk community building untuk memberi pemahaman tentang perubahan iklim hingga persiapan perencanaan pembangunan.

“Bahwa ruang terbuka akan menjadi sebuah tempat berkumpul. Khususnya sebagai infrastruktur adaptasi, dalam rangka mengurangi dampak bencana dan sarana pembelajaran terkait bencana tersebut,” jelasnya.

Di area itu menekankan konservasi air, yakni memelihara air di Sungai Karang Mumus (SKM) menjadi lebih baik. Karena kondisi saat ini, ketika musim panas atau kering, aliran air menurun drastis, sedangkan sebaliknya jika musim hujan, aliran air berlebih bahkan bisa menyebabkan banjir. “Program itu bisa berkelanjutan, dengan penanganan dan kebijakan.

Dia memerinci terkait kebijakan, saat ini ada program pemkot untuk mengembangkan ruang terbuka hijau (RTH) sepanjang SKM yang nantinya menjadi masterplan ruang terbuka tepi sungai. Hal itu sangat menunjang keberlanjutan. “Kami juga sedang membangun komunitas yang nantinya peduli terhadap ruang publik, sehingga bisa mengaktivasi kawasan tersebut nantinya. Seperti membuat kelompok sadar lingkungan. Sementara masih terus dikomunikasikan dengan pemerintah,” tegasnya.

Dari semua itu, dia berharap, masyarakat bisa belajar, mampu menyesuaikan diri terhadap bencana yang terjadi. Bahwa perubahan iklim tidak dapat dihindari, dan dampaknya sedikit banyak merugikan. “Diharapkan warga khususnya Samarinda bisa mereduksi kerugian tersebut. Mengubah secara kreatif menjadi bagian dari gaya hidup ke depannya,” kuncinya. (dra/k8)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46

Editor : Indra Zakaria