Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Anta Kusuma, Pakaian Adat Kutai dengan Kasta Tertinggi

Redaksi Sapos • 2024-06-24 12:15:00
BAJU KUTAI. Baju Adat Kutai perlu terus dilestarikan dan disesuaikan penggunaannya baik di acara sakral hingga kenegaraan.
BAJU KUTAI. Baju Adat Kutai perlu terus dilestarikan dan disesuaikan penggunaannya baik di acara sakral hingga kenegaraan.

Untuk melestarikan dan menggali kekayaan budaya di Benua Etam, Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim terus berupaya melestarikan pakaian adat Kutai dan diinformasikan kepada publik. Dispar Kaltim mengajak sejumlah pihak untuk membahas terkait sejarah, filosofi, hingga aturan penggunaannya.

Pemerhati peninggalan Kesultanan Kukar, yang juga Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Muhammad Roni, menjelaskan tentang berbagai jenis baju adat Kutai, seperti Baju China, Baju Sakai, Baju Takwo, Baju Kustim, dan puncaknya, Baju Anta Kusuma.

 

Pertama, Baju China, dengan motif khasnya, biasa dikenakan oleh kerabat kesultanan saat menghadiri upacara adat seperti Naik Ayun atau Tasmiyahan. Kemudian, Baju Sakai, yang awalnya hanya diperuntukkan bagi puteri keraton, kini juga tersedia dalam versi pria sejak tahun 1980.

Beralih ke Baju Takwo, baju ini dulunya hanya dipakai pada perayaan Erau, namun kini telah menjadi busana resmi untuk acara-acara besar. Sementara Baju Kustim, yang melambangkan kebesaran, biasanya dikenakan oleh anak raja atau kerabat bergelar pangeran.

Selanjutnya, Baju Anta Kusuma, yang dinobatkan sebagai baju adat Kutai dengan kasta tertinggi. Baju berwarna kuning ini memiliki makna sejarah yang kuat, dengan ornamen pewayangan seperti Mahabarata. Penggunaannya pun sangat khusus, yaitu hanya boleh dipakai pada upacara pernikahan. 

Menambahkan, Sekretaris Dinas Pariwisata Kaltim, Yekti Utami, menyampaikan bahwa forum pariwisata ini merupakan tindak lanjut dari keresahan pihak Kesultanan Kutai mengenai penggunaan Baju Anta Kusuma yang sering kali digunakan tidak sesuai aturannya.

 

Photo
Photo
 
Ditegaskannya, kegiatan ini bertujuan untuk edukasi dan sosialisasi mengenai pakaian adat Kutai. Diharapkan pemahaman dan sosialisasi yang kuat dapat meminimalisir kesalahan dalam penggunaannya. 

“Jadi sebelumnya kami telah mengadakan FGD (Forum Group Discussion) untuk menggali lebih dalam mengenai pakem dari baju-baju adat ini karena pentingnya kesepakatan bersama untuk mencegah kesalahan dalam pemakaiannya,” ungkapnya.

Diusulkan agar Baju Anta Kusuma dan Kustim hanya dipakai pada upacara pernikahan, sementara Baju China, Takwo, dan Sakai dapat dipakai lebih bebas dengan tetap menjaga marwahnya.

 

“Dengan memahami keindahan dan makna di balik baju adat Kutai, masyarakat dapat menggunakannya dengan tepat, sehingga warisan budaya ini dapat terus lestari di generasi mendatang,” bebernya.

Kedepannya, Dia berharap tercipta panduan resmi tentang penggunaan pakaian adat Kutai yang menjadi acuan bagi masyarakat dan perias pengantin. Upaya pelestarian pun tak berhenti di situ, Dinas Pariwisata berencana untuk mendaftarkan pakaian adat ini sebagai warisan budaya tak benda dan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

“Semoga pakem-pakem yang telah disepakati bisa tersosialisasi dengan baik dan menjadi pedoman bagi semua pihak. Mari kita jaga dan lestarikan warisan budaya kita dengan baik,” pungkasnya. (mrf/nha)

Editor : Indra Zakaria