Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Buah Kepemimpinan Edi Damansyah untuk Kukar, Komitmen Mewujudkan Air Bersih di Semua Desa

Elmo Satria Nugraha • Senin, 26 Agustus 2024 - 10:30 WIB
AKSES AIR BERSIH: Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah, berinteraksi dengan warga desa saat meninjau implementasi Program Air Bersih Desa di salah satu desa di Kutai Kartanegara. (istimewa)
AKSES AIR BERSIH: Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah, berinteraksi dengan warga desa saat meninjau implementasi Program Air Bersih Desa di salah satu desa di Kutai Kartanegara. (istimewa)


DI ANTARA bukit-bukit yang menjulang dan sungai-sungai yang meliuk tenang, ada cerita yang jarang terdengar namun berdampak besar bagi ribuan warga di pedalaman Kutai Kartanegara. Cerita ini tidak tentang pembangunan gedung tinggi atau jalan raya yang mulus, melainkan tentang perjuangan masyarakat untuk mendapatkan hak dasar mereka—air bersih. Sebuah perjuangan yang kini berubah menjadi kenyataan melalui inisiatif Program Air Bersih Desa, salah satu dari sekian banyak gagasan yang lahir dari visi Bupati Edi Damansyah dalam menciptakan Kukar Idaman.

Desa-desa di Kutai Kartanegara, yang tersebar di antara pegunungan dan lembah, selama bertahun-tahun harus menerima kenyataan pahit: air bersih adalah barang langka. Di wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur modern, banyak desa hanya bisa mengandalkan air hujan yang dikumpulkan seadanya atau air sungai yang keruh sebagai sumber kehidupan. Namun, kondisi ini mulai berubah. Sebuah inisiatif besar diluncurkan dengan satu tujuan sederhana namun esensial—mengalirkan air bersih ke setiap rumah di desa.

Program Air Bersih Desa tidak hanya tentang memasang pipa dan tangki, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik. Di balik setiap keputusan yang diambil, ada visi yang jauh melampaui sekadar proyek infrastruktur. Bupati Edi Damansyah, dengan semangat dan komitmennya, melihat air bersih sebagai fondasi untuk memberdayakan masyarakat desa. Program ini tidak hanya memberikan akses terhadap air yang layak konsumsi, tetapi juga membuka peluang bagi desa-desa untuk menjadi mandiri dalam mengelola sumber daya mereka.

Dalam pelaksanaannya, Program Air Bersih Desa mengadopsi pendekatan yang unik. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi pilar utama dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas air bersih. Ini bukan hanya soal keberlanjutan fisik, tetapi juga tentang memberdayakan masyarakat setempat untuk menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlangsungan program ini. Di desa-desa yang sudah menerima fasilitas air bersih, BUMDes memainkan peran penting dalam memastikan bahwa setiap tetes air yang mengalir terus dapat dinikmati oleh seluruh warga.

Muhammad Aidil, Plt Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kutai Kartanegara, menceritakan dengan antusias bagaimana program ini telah menjangkau berbagai desa. “Kami telah membangun sistem penyediaan air minum di beberapa titik, dan mayoritas desa kini bisa merasakan manfaatnya,” katanya. Meski begitu, tantangan masih ada. Dua desa, Long Lalang dan Buluksen, hingga kini masih belum teraliri air bersih. Namun, Aidil menegaskan bahwa rencana untuk menyelesaikan masalah ini sudah diatur dengan matang, termasuk mempertimbangkan apakah Long Lalang akan memiliki sistem air minum desa sendiri atau menghubungkannya dengan PDAM terdekat.

Transformasi yang terjadi di desa-desa lain adalah bukti nyata dari dampak program ini. Di Lamin Telihan, misalnya, dulu warga harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan air layak minum. Kini, mereka bisa dengan mudah membuka keran di rumah mereka dan mendapatkan air yang jernih. Perubahan ini bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi tentang memulihkan martabat dan memberikan waktu yang dulu terbuang untuk mencari air, kembali kepada keluarga mereka.

Namun, keberhasilan program ini tidak akan mungkin terjadi tanpa partisipasi aktif dari masyarakat. Arianto, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, menekankan bahwa keterlibatan warga adalah kunci dari keberlanjutan program ini. “Membangun fasilitas itu mudah, tetapi menjaga agar tetap berfungsi dengan baik dalam jangka panjang adalah tantangan sebenarnya,” ujarnya. Arianto melihat bahwa partisipasi masyarakat melalui BUMDes tidak hanya memastikan keberlanjutan program, tetapi juga membuka jalan bagi desa untuk mandiri secara ekonomi.

Di beberapa desa seperti Batuah dan Sumber Sari, BUMDes telah menunjukkan bahwa mereka bisa lebih dari sekadar pengelola. Dengan dukungan dari pelatihan yang diberikan oleh pemerintah dan PDAM, mereka berhasil memanfaatkan air bersih untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PAD). Ini bukan hanya tentang air, tetapi tentang bagaimana desa-desa tersebut sekarang memiliki kontrol lebih besar atas masa depan mereka sendiri.

Meskipun demikian, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Desa-desa yang terpencil dengan sumber daya terbatas membutuhkan perhatian khusus. Tantangan teknis seperti ketersediaan air yang tidak merata dan kebutuhan akan peralatan yang lebih canggih terus menjadi hambatan. Namun, optimisme tetap ada. Komitmen yang ditunjukkan oleh pemerintah daerah, didukung oleh semangat gotong royong dari masyarakat, menjadi fondasi yang kuat untuk mengatasi setiap rintangan.

Program Air Bersih Desa adalah lebih dari sekadar proyek pemerintah. Ini adalah sebuah gerakan untuk mengembalikan hak dasar warga dan memastikan bahwa setiap orang, tidak peduli seberapa jauh mereka tinggal dari pusat kota, memiliki akses yang sama terhadap kehidupan yang lebih baik. Air yang mengalir ke rumah-rumah di desa bukan hanya membawa kebersihan, tetapi juga harapan. Harapan akan masa depan di mana setiap desa bisa berdiri sendiri, kuat dan mandiri, dengan sumber daya yang mereka kelola sendiri.

Di bawah langit Kutai Kartanegara yang luas, di antara perbukitan dan sungai, ada semangat baru yang mengalir bersama air bersih. Ini adalah cerita tentang perubahan, tentang bagaimana desa-desa terpencil ini perlahan namun pasti mengukir masa depan mereka sendiri, satu tetes air pada satu waktu. (adv)

Editor : Indra Zakaria