Beberapa hari terakhir Balikpapan diguyur hujan. Padahal seharusnya di bulan Agustus ini, sudah memasuki masa musim kemarau.
Puncaknya pada Selasa (27/8/2024), hujan dengan intensitas sedang melanda Kota Minyak hampir seharian. Dan menimbulkan sejumlah genangan di beberapa titik, yang menjadi langganan ketika hujan turun.
Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasi Datin) Stasiun Meteorologi (Stamet) SAMS Sepinggan Balikpapan Diyan Novrida menjelaskan fenomena hujan yang mengguyur Balikpapan dalam beberapa hari terakhir ini disebabkan kondisi atmosfer di langit Balikpapan yang mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang sampai lebat.
Karena dipengaruhi oleh beberapa fenomena cuaca, yang mengalibatkan kondisi atmosfer Kaltimantan Timur, termasuk Balikpapan cenderung labil.
“Kemudian RH (Relative Humidity) atau kelembapan udara di lapisan atas itu basah. Artinya awan-awan konvektif (awan yang terbentuk melalui konveksi, yaitu proses naiknya udara hangat dan lembap melalui udara sekitar yang lebih dingin di atmosfer) lebih mudah terbentuk. Dan bisa turun hujan,” katanya kepada Kaltim Post, Selasa (27/8).
Dia pun menyontohkan suhu muka laut di sekitar perairan Balikpapan, mengalami anomali positif. Artinya suhu muka lautnya hangat. Sehingga penguapan itu akan intens dan pertumbuhan awan-awan konvektif juga akan intens di sekitar wilayah Balikpapan.
Kemudian terjadinya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang merupakan aktivitas dinamika atmosfer yang terjadi di wilayah tropis. Di mana terdapat pergerakan sistem awan hujan yang bergerak di sepanjang khatulistiwa, dari Samudra Hindia sebelah timur Afrika ke Samudra Pasifik dan melewati wilayah Benua Maritim Indonesia. Fenomena ini, sifatnya temporal dan akan terulang setiap 30 hingga 60 hari di sepanjang wilayah Khatulistiwa.
Dan fenomena MJO ini bisa mempengaruhi pola cuaca dengan meningkatkan kemungkinan adanya periode hujan yang lebih intens, sekalipun itu di musim kemarau.
“MJO itu posisinya saat ini ada di sekitar kuadran 3. Efeknya adalah membuat pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah Indonesia. Terutama Balikpapan, dan membuat curah hujan meningkat. Jadi karena ada pertumbuhan awan konvektifnya lebih intens. Yang mengakibatkan terjadinya hujan di Balikpapan,” katanya.
Selain itu, curah hujan di Balikpapan juga dipengaruhi gelombang ekuatorial. Yakni Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin.
“Kebetulan ini 3 fenomena ini (MJO, Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin) sedang aktif di sekitar wilayah Kaltim dan Balikpapan. Ditambah fenomena lokal adalah SST (Sea Surface Temperatur atau Suhu Permukaan Laut) di sekitar wilayah perairan masih anomalyipositif. Artinya masih hangat. Makanya kenapa beberapa hari ini, Balikpapan diguyur hujan pagi hari. Puncaknya pagi ini, bisa menimbulkan genangan di beberapa wilayah,” papar Diyan.(*)