Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kenapa Kalimantan Masih Sepi Jalur Rel? Ini Transportasi Publik yang Lebih Masuk Akal

Redaksi • 2025-07-08 13:52:52

Kereta cepat WHOOSH
Kereta cepat WHOOSH

Di Pulau Jawa, kereta sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari: dari KRL, MRT, hingga LRT. Tapi di Kalimantan—pulau terbesar di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam—suara roda besi di atas rel hampir tak terdengar. Sampai hari ini, Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api komersial aktif seperti Jawa dan Sumatra. Kenapa bisa begitu?

Bukan Karena Kalimantan Tertinggal, Tapi...

Banyak yang menyangka Kalimantan tidak punya kereta api karena tertinggal atau minim pembangunan. Padahal bukan itu masalah utamanya. Menurut Bappenas (2022) dalam kajian transportasi berkelanjutan, tantangan utama justru terletak pada geografi Kalimantan yang luas dan penduduknya yang tersebar. Jarak antar kota jauh, dan kepadatan penduduk rendah, sehingga pembangunan rel menjadi tidak efisien secara biaya.

Selain itu, sebagian besar kawasan Kalimantan masih didominasi hutan, lahan gambut, dan area tambang. Pembangunan jalur kereta akan menghadapi tantangan besar dari segi lingkungan, izin lahan, dan biaya konstruksi yang jauh lebih mahal dibandingkan pulau lain. Dalam Rencana Induk Transportasi Nasional (Kemenhub, 2023), pembangunan kereta di Kalimantan tidak masuk prioritas jangka pendek—kecuali untuk kebutuhan logistik di wilayah industri seperti Kalimantan Timur dan Tengah.

Rel Diganti Roda: BRT, LRT, dan Smart Transport

Jangan salah, meski rel belum tersedia, bukan berarti Kalimantan tidak punya solusi. Justru pendekatan lain dinilai lebih tepat dan adaptif. Salah satunya adalah pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) yang lebih fleksibel dan murah. Menurut Tempo (2022), BRT sudah terbukti efektif di berbagai kota non-metropolitan di Indonesia—karena lebih cepat dibangun dan tidak butuh lahan seluas jalur kereta.

Untuk masa depan, pembangunan LRT dan transportasi listrik juga mulai digarap, terutama di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Berdasarkan dokumen resmi dari otoritas IKN (2024), pemerintah merancang sistem LRT dan bus listrik pintar sebagai tulang punggung mobilitas ramah lingkungan di Kalimantan Timur. Konsep ini terintegrasi dengan smart city dan digitalisasi layanan publik.

Bukan Soal Gengsi, Tapi Soal Kebutuhan

Kalau dilihat secara jujur, membangun kereta api di Kalimantan mungkin bukan pilihan terbaik untuk saat ini. Bukan karena Kalimantan "gagal modern", tapi karena model transportasi harus menyesuaikan dengan kondisi wilayah. Dengan wilayah yang lebih luas dan kota-kota yang tersebar, pendekatan desentralisasi transportasi jauh lebih realistis.

Kompas.com (2023) juga mengulas bahwa proyek rel di Kalimantan sempat masuk rencana, namun studi kelayakan menunjukkan efisiensi dan penggunaannya tidak sebanding dengan investasinya. Maka, moda transportasi berbasis jalan yang cepat, fleksibel, dan ramah lingkungan seperti BRT atau kendaraan listrik otonom jadi solusi yang lebih memungkinkan.

Bukan berarti Kalimantan tidak bisa punya kereta. Tapi dalam konteks saat ini, BRT, LRT, dan sistem transportasi pintar lebih masuk akal dan layak dikembangkan. Apalagi jika tujuannya adalah mengurangi emisi, membuka akses antarkota, dan menyokong mobilitas di daerah berkembang.

Daripada memaksakan rel, mungkin sudah saatnya kita berhenti menyamakan pembangunan di semua pulau. Karena yang dibutuhkan bukan satu sistem seragam, tapi solusi transportasi yang adil dan sesuai karakter wilayah. (Arsandha Agadistria Putri)

Editor : Indra Zakaria