Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ojek Online di Kaltim Tolak Tarif Batas Bawah Rp7.500

Redaksi • Selasa, 15 Juli 2025 - 15:30 WIB
Koordinator AMKB, Ivan Jaya
Koordinator AMKB, Ivan Jaya

 

SAMARINDA- Aliansi Mitra Kaltim Bersatu (AMKB) secara tegas menolak pemberlakuan tarif batas bawah (TBB) sebesar Rp7.500 untuk layanan pengantaran makanan oleh perusahaan aplikator. Penolakan ini didasari oleh anggapan bahwa aplikator tidak konsisten menjalankan kesepakatan uji coba penghapusan program slot dan double order yang sebelumnya dianggap memberatkan para mitra pengemudi.

Koordinator AMKB, Ivan Jaya, menyebut implementasi di lapangan tidak sesuai dengan komitmen awal yang telah disepakati bersama pemerintah daerah.

“Pada kenyataannya, aplikator tidak menghapus program tersebut. Mereka hanya mengganti istilah dan menetapkan tarif batas bawah sebesar Rp 7.500 untuk slot dan double order. Ini jelas tidak sejalan dengan keputusan yang diperintahkan oleh Bapak Wakil Gubernur Kaltim,” ujar Ivan.

Ivan menilai, langkah aplikator hanyalah tindakan kosmetik yang tidak menyentuh akar persoalan, yakni ketimpangan antara beban kerja dan penghasilan yang diterima oleh mitra pengemudi.

“Tarif Rp7.500 tetap tidak layak, terutama jika pengemudi harus menjalankan double order dengan jarak tempuh yang jauh. Ini sangat merugikan mitra,” terangnya. AMKB secara resmi meminta Pemprov Kaltim untuk bersikap lebih tegas terhadap aplikator yang dinilai mengabaikan keputusan bersama. Mereka mengapresiasi langkah awal yang diambil Wakil Gubernur Kaltim, namun berharap pengawasan dan tindakan lebih konkret dilakukan.

“Kami meminta agar uji coba penghapusan program promo benar-benar dijalankan secara menyeluruh, bukan hanya mengganti angka atau istilah,” tegasnya.

Selama ini, program slot dan double order dinilai sangat memberatkan karena pengemudi bisa menerima dua hingga tiga pesanan sekaligus, namun kompensasinya dinilai sangat rendah. Selain meningkatkan beban kerja dan risiko kecelakaan, program ini juga dianggap menurunkan kualitas layanan ke konsumen akibat keterlambatan pengantaran.

“Dalam satu double order, kadang jaraknya lebih dari 10 kilometer, tapi imbalan dari aplikator sangat minim. Dengan TBB cuma Rp7.500, ini bukan insentif tapi bentuk eksploitasi,” bebernya.

Kekecewaan serupa disampaikan Abdullah salah mitra Ojol lainnya. “Kami sempat optimistis ketika mendengar akan ada penghapusan program promo. Tapi setelah berjalan, ternyata slot dan double order tetap ada, hanya diganti istilah dan tarifnya saja. Ini sangat mengecewakan,” ungkapnya.

Para pengemudi berharap pemerintah segera melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan yang diterapkan aplikator agar lebih berpihak kepada kesejahteraan mitra. (mrf/nha)

 

Editor : Indra Zakaria