Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Makan Bareng Keluarga Lebih Dari sekedar Isi Perut

Redaksi • 2025-07-29 10:41:57
ilustrasi makan bareng keluarga.
ilustrasi makan bareng keluarga.

Di tengah kesibukan zaman sekarang, momen makan bareng keluarga makin jarang terjadi. Ayah pulang malam karena lembur atau macet di jalan, ibu sibuk di dapur atau kelelahan mengurus rumah, anak-anak lebih memilih makan sambil nonton YouTube atau scroll media sosial di kamar. Akhirnya, yang dulu jadi rutinitas harian kini berubah jadi momen langka.

Padahal, makan bersama bukan cuma soal kenyang atau soal menyajikan makanan enak. Lebih dari itu, makan bareng adalah ruang aman untuk saling hadir. Di meja makan, semua anggota keluarga bisa saling menatap, ngobrol santai, bertukar kabar, atau bahkan sekadar duduk diam bersama tanpa tekanan. Momen sederhana ini punya kekuatan besar dalam menjaga kehangatan rumah.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa makan bersama keluarga minimal 3–5 kali seminggu cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik, lebih percaya diri, dan memiliki nilai akademik yang lebih stabil. Selain itu, mereka lebih jarang terlibat dalam perilaku negatif seperti merokok, minum alkohol, atau kecanduan gawai. Mengapa? Karena makan bersama membuat anak merasa punya “rumah” tempat pulang yang tidak hanya memberi tempat tidur, tapi juga kasih sayang dan perhatian.

Namun, tantangan hari ini tidak kecil. Jadwal yang tidak sama, tekanan pekerjaan, anak-anak yang makin sibuk dengan tugas dan gadget, semua bisa membuat niat makan bareng jadi sekadar wacana. Tapi justru karena tantangannya besar, di situlah pentingnya kesadaran kita sebagai orang tua. Jangan tunggu momen itu datang dengan sendirinya—ciptakan dan perjuangkan. Berikut beberapa langkah kecil tapi bermakna yang bisa dicoba untuk mulai lagi kebiasaan makan bersama:

• Tentukan jadwal tetap, misalnya makan malam setiap pukul 19.00, dan semua anggota keluarga tahu dan menghormati waktu itu.

• Buat aturan tanpa gadget di meja makan. Simpan HP, matikan TV, dan fokus pada satu sama lain.

• Mulai obrolan ringan. Tidak harus selalu serius. Cerita lucu, pengalaman di kantor, atau bahkan hal random bisa jadi jembatan komunikasi.

• Libatkan anak-anak. Ajak mereka membantu menyiapkan meja, memilih menu, atau mencuci piring bersama setelah makan. Itu juga bagian dari kebersamaan.

• Beri ruang untuk bercerita. Jadilah pendengar aktif bagi anak atau pasangan, tanpa langsung menghakimi atau memotong pembicaraan.

Kebiasaan kecil ini jika dilakukan rutin bisa jadi pondasi besar dalam membangun kedekatan emosional keluarga. Rumah tidak akan terasa hangat hanya dengan dinding dan perabot bagus, tapi dari perasaan bahwa kita saling diperhatikan dan punya tempat untuk didengar.

Jadi, yuk mulai lagi kebiasaan makan bareng di rumah. Tidak perlu mewah, tidak harus lama. Cukup satu jam sehari, tanpa gangguan, dengan niat benar-benar hadir. Karena makan bersama bukan hanya soal mengisi perut—tapi juga soal mengisi hati, merawat hubungan, dan menciptakan rumah yang benar-benar jadi tempat pulang.(Arsandha Agadistria Putri)

Editor : Indra Zakaria