PONTIANAK – Serangkaian peristiwa tragis yang melibatkan pelajar di Kalimantan Barat sepanjang awal tahun 2026 menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan pola asuh keluarga. Dimulai dari kasus gantung diri seorang siswi MTs berinisial C (13) di Pontianak, hingga aksi nekat seorang siswa SMPN 3 Sungai Raya yang melempar bom molotov ke sekolahnya, rentetan kejadian ini menyingkap tabir gelap kesehatan mental remaja yang selama ini sering terabaikan.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami motif di balik kematian siswi C yang diduga berkaitan dengan perundungan. Sementara itu, aksi pelemparan bom molotov oleh siswa kelas IX di Sungai Raya memicu perdebatan publik. Meski isu perundungan sempat mencuat sebagai pemicu, Kepala SMPN 3 Sungai Raya, Lily, membantah klaim tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pelaku justru memikul beban hidup yang sangat berat di luar sekolah, yakni merawat anggota keluarga yang sakit di tengah keterbatasan ekonomi, sementara ia dikenal sebagai pribadi yang santun dan ceria di lingkungan sekolah.
Fenomena "baik-baik saja di luar, namun hancur di dalam" ini menjadi sorotan Psikolog Nadya Hendrawati, S.Psi, M.Psi. Menurutnya, perubahan perilaku remaja seperti menarik diri, prestasi menurun, hingga ledakan emosi tiba-tiba adalah sinyal depresi yang tidak boleh dianggap remeh. Nadya menekankan bahwa usia 11–15 tahun adalah masa transisi biologis dan kognitif yang sangat rentan. Tekanan akademik, pola asuh yang keras, hingga perbandingan sosial yang tidak realistis di media sosial sering kali menjadi pemicu stres yang bersifat multifaktorial.
Nadya menegaskan bahwa keluarga dan sekolah adalah "sistem imun" bagi kesehatan mental anak. Jika komunikasi di rumah buntu dan iklim di sekolah tidak inklusif, risiko tindakan fatal meningkat signifikan. Orang tua didorong untuk menjadi pendengar yang aman tanpa menghakimi, sementara sekolah diharapkan memiliki literasi kesehatan mental yang baik untuk melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa.
Tragedi ini menjadi peringatan bahwa di balik senyum dan unggahan media sosial, banyak remaja yang tengah berjuang melawan keputusasaan. Langkah preventif melalui pendampingan psikologis profesional kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk mencegah agar rasa lelah mental tidak berubah menjadi aksi kekerasan atau keputusan untuk mengakhiri hidup. (*)
Editor : Indra Zakaria