Personel dari Bagian Psikologi Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Utara (Kaltara), juga turun tangan melaksanakan trauma healing kepada para korban pasca kebakaran hebat, pekan lalu.
LISAWAN YOSEPH LOBO
DI posko tanggap darurat, tepatnya di halaman Masjid Besar At-Taqwa, Sebengkok, Tarakan Tengah, menjadi rumah sementara bagi 136 kepala keluarga (KK), yang harus ikhlas kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.
Hari ini, persis dengan harinya musibah kebakaran. Ya, Senin. Sepekan berlalu, tetapi saat melewati Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Pasar Batu, sesekali pengendara melirik bekas kebakaran ini.
Ada yang tersisa puing-puing. Tidak sedikit pula bangunan yang rata dengan tanah. Berkaca dari musibah kebakaran ini, semakin terasa rahasia Ilahi.
Beberapa pemilik toko mulai bangkit. Mulai membersihkan sisa-sisa amukan si jago merah itu. Memulai dari awal lagi. Rasanya pasrah kepada sang pencipta.
Mungkin di hari kedelapan ini, perasaan para penyintas alias korban kebakaran mulai membaik. Bisa tersenyum, dan mulai melupakan kejadian nahas itu.
Tapi mampu bertahan hingga di titik ini, rasanya tidak mudah. Selain mendapat dukungan dari keluarga, sanak saudara dan masyarakat Kalimantan Utara, khususnya Kota Tarakan, perjuangan para psikolog juga berperan besar dalam hal ini.
Termasuk personel Bagian Psikologi Biro SDM Polda Kaltara. Kepala Bagian (Kabag) Psikologi Biro SDM Polda Kaltara, Kompol Imam Suhadak, M.Psi, Psikolog mengatakan, sejak Selasa (21/1) lalu, Polda Kaltara mengutus 4 tim psikologi, untuk membantu melakukan pemulihan atau trauma healing. Baik kepada korban dewasa, orang tua, maupun anak-anak.
“Sore harinya sudah dapat kabar terjadi kebakaran. Tapi karena tim psikologi dari Tanjung Selor, dan armada terbatas, jadi tim berangkat besok pagi,” katanya kepada Radar Tarakan.
Tim relawan juga tinggal di sekitar posko. 24 jam stand by, berjaga-jaga bila mendadak dibutuhkan. Syukurnya, selama bertugas menjadi tim relawan, tidak menemukan korban yang terguncang hebat, hingga tingkat depresi.
Bisa jadi karena para korban mendapatkan dukungan dari masyarakat yang turut merasakan duka mendalam ini. Merasa terhibur dengan kunjungan dan perhatian dari keluarga dan masyarakat Kota Tarakan.
“Korban mengalami guncangan psikologis, tapi tidak sampai histeris, depresi atau sangat tertekan,” tuturnya.
“Mungkin karena kepedulian masyarakat. Bantuan materi, obat-obatan, psikologis dan kepedulian pemda. Serta kesiapan aparatur baik itu TNI, Polri, LSM dan tokoh masyarakat. Sehingga sampai saat ini kondisi korban relatif bagus,” sambungnya.
Mengajak bermain, belajar bersama dengan buku-buku yang disiapkan para relawan, ampuh membuat anak-anak kembali ceria. Beda halnya dengan orang tua, yang beberapa sempat mengalami guncangan akibat musibah yang dialaminya.
Tapi, berkat trauma healing, korban lebih merasa ikhlas. Perlahan mulai bangkit, menata kembali rutinitas sebelumnya. Kembali bekerja, dan anak-anak melanjutkan sekolah, dengan seragam yang disiapkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Tarakan, dan bantuan dari warga Tarakan.
Bahkan orang tua pun sudah mempunyai rencana, saat melangkahkan kaki keluar dari posko pengungsian.
“Mereka sudah bisa menerima kenyataan. Mereka tidak begitu terguncang parah, karena banyak dukungan dari sanak saudara dan orang sekitar. Dukungan seperti ini kita harapkan terus berlanjut sampai mereka keluar dari posko pengungsian dan mempunyai tempat tinggal lagi,” harapnya.
Lantas, apa yang diperlukan para korban saat meninggalkan posko, yang bersamaan dengan berakhirnya masa tanggap, Minggu (2/2) mendatang? Perhatian dari orang sekitarnya. Teman bermain untuk anak-anak. Juga teman berbagi untuk orang dewasa dan orang tua.
“Korban jangan dibiarkan menanggung bebannya sendiri. Mereka tetap butuh perhatian, minimal tempat untuk curhat. Saran dan dukungan orang lain, bisa membantu mereka mengatasi permasalahan ini,” imbaunya.
Dukungan dan perhatian selama berada di posko, terus dibutuhkan hingga menghantarkan para korban meninggalkan pengungsian. Tidak hanya perhatian dari keluarga, kerabat dan masyarakat. Juga tim psikolog, baik dari Polda Kaltara dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kaltara terus memantau kondisi psikologis korban, hingga benar-benar pulih.
“Setelah mereka keluar dari posko, kami tim psikolog baik dari Polda dan HIMPSI tetap memantau kondisi psikologis korban. Kami berharap dukungan masyarakat kepada korban terus berlanjut sampai korban bisa melupakan dan iklhas terhadap kejadian ini,” harapnya. (bersambung/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan