Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

ODGJ di Tarakan Berkeliaran, Berharap Perhatian Keluarga

Radar Tarakan • 2024-05-22 10:14:47
PENERTIBAN: Penertiban yang dilakukan Satpol PP Tarakan terhadap keberadaan ODGJ. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
PENERTIBAN: Penertiban yang dilakukan Satpol PP Tarakan terhadap keberadaan ODGJ. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

 

Meski telah menjadi persoalan klasik, fenomena maraknya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tidak dapat dipandang sepele. Lantaran saat ini cukup banyak ODGJ yang berkeliaran yang cukup mengkhawatirkan masyarakat. Kekhawatiran itu muncul karena ditemukan kejadian akibat perilaku ODGJ yang membahayakan masyarakat.

Bahkan belum lama ini adanya salah satu kasus pencurian yang diduga dilakukan orang seorang berstatus ODGJ. Kepala Satuan Satpol PP (Kasatpol PP) Tarakan, Sofyan menerangkan, beberapa waktu lalu pihaknya menertibkan menertibkan ODGJ yang berkeliaran di beberapa tempat seperti di RT 06 Kelurahan Pantai Amal, RT 15  Kelurahan Karang Anyar dan RT 14 Kelurahan Selumit . Namun pihaknya menilai, nampaknya penertiban tidak berjalan efektif jika tidak didukung penanganan sosialnya.

“Dalam kurun waktu seminggu ini kami menertibkan ODGJ di berbagai tempat, ini memang bagian dari tugas kami menertibkannya. Tapi sejauh ini selama kami tertibkan, kami serahkan ke RSUD Jusuf SK, kemudian RSUD yang melakukan tindakan lanjutan apakah dirawat  atau dikembalikan ke keluarganya,” ujarnya, Senin (20/5).

“Ada juga yang kami jemput di rumahnya, ada juga yang berkeliaran. Ini atas keluhan pihak keluarga maupun warga yang resah dengan perilaku ODGJ. Ada yang suka mengamuk di watu tertentu, ada juga yang berkeliaran menakuti warga. Sehingga daripada terjadi hal yang tidak diinginkan masyarakat melapor kepada kami untuk ditertibkan,” sambungnya.

Diakui, sebenarnya penertiban hanya merupakan solusi sementara untuk menangani ODJG, namun tidak serta merta menyelesaikan fenomena ODGJ begitu saja. Menurutnya, perlakuan dan perawat yang baik merupakan solusi jangka panjang untuk mencegah ODGJ berperilaku yang merugikan masyarakat. Sehingga kata dia, diperlukan kesadaran dan kerjasama semua pihak dalam penanganannya.

 

“Sebenarnya penertiban ini hanya penanganan bersifat sementara artinya, kalau memang sudah tidak bisa dibina baru ditertibkan. Tapi yang kita  pikirkan sebenarnya penanganan jangka panjangnya. Kalau kami melihat mereka (ODGJ) perlu dukungan secara moril untuk membuat mereka merasa sama dengan yang lain. Dukungan keluarga dan penanganan kesehatan yang rutin sangat perlu untuk membuat mereka bisa hidup seperti masyarakat lainnya,” katanya.

“ODGJ ini kadang pintar juga, kalau dia lihat mobil kami dari dia itu langsung kabur. Dia sebenarnya mengerti kalau mereka mau ditertibkan. Mereka juga mengerti dengan uang, bisa melakukan transaksi dengan uang, dan kadang bisa bersosialisasi secara normal dengan orang sekitar. Tapi memang ada masa mereka lagi down atau bahasa lainnya kambuh lah, kalau kepercayaan dirinya sedang turun. Sehingga dalam hal ini diperlukan dukungan moril dari orang sekitar dan tentu harus menjalani pengobatan secara rutin,” sambungnya.

Sejauh ini ia pihaknya memperkirakan jumlah ODGJ yang berkeliaran terus bertambah. lanjutnya hal ini diukur dari maraknya laporan masyarakat dan adanya wajah baru ODGJ di Kota Tarakan. Menurutnya, seharusnya dalam hal ini keluarga ODGJ dapat melakukan pendampingan terhadap ODGJ saat di rumah. Namun sebagian keluarga dinilai tidak peduli terhadap anggota keluarganya yang berkeliaran.

“Karena aturan di sana ODGJ harus ada perwakilan pihak keluarga. Laporan masyarakat terkait ODGJ kadang bisa 1 hari 3 kejadian bersamaan. Baru-baru ini ada kasus pencurian yang dilakukan ODGJ, sudah diserahkan ke Polres Tarakan. Sebenarnya yang miris juga tidak sedikit kasus ODGJ di Tarakan tidak diurus keluarganya. Padahal dukungan keluarga yang penting karena penanganan utama itu sebenarnya dari lingkungan keluarga,” urainya.

“Kalau keluarga juga tidak peduli ini akan memperparah kondisi mereka (ODGJ) apalagi dia sering meresahkan masyarakat. Karena ODGJ ini agak susah kalau dia berbuat kriminal susah dihukum seperti orang normal, sementara dibiarkan juga tidak bisa. Makanya perhatian keluarga sangat penting,” lanjutnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltara, Supaad Hadianto menerangkan jika sejauh ini DPRD mengusulkan pembangunan rumah sakit jiwa di Kaltara. Namun ia menegaskan jika hingga saat ini usulan tersebut belum mendapat tindak lanjut secara serius.

“Sampai hari ini dengan berat hati saya harus katakan belum ada progres yang jelas. Padahal usulan kami ini sudah kami sampaikan setiap tahun. Karena Dinkes Kaltara dan RSUD dr. H. Jusuf SK belum membuat blue print rencana jangka panjang. Sehingga kami tidak bisa memastikan kapan RSJ ini akan dibuat,” ungkapnya.

“Kami selama ini menunggu blue printnya tapi mereka tidak membuatnya. Bahkan kami tidak hanya meminta Dinkes dan RSUD dr. H. Jusuf SK. Bahkan kami meminta ke Disdik dan Dinas Pariwisata karena ini berhubungan dengan pengembangan sumber daya manusia. Yang ada sekarang itu blueprint pembangunan pariwisata di Kaltara,” urainya.

“Tapi kami mendorong terus pembangunan RSJ ini baik lewat Komisi maupun fraksi. Menyoal urgensi kami pikir ini sudah urgent makanya kami dorong terus usulan pembangunan. Tapi kembali lagi tanggapan eksekutif apakah menyambut usulan ini dengan serius atau tidak,” jelasnya. (zac/lim)

 
Editor : Indra Zakaria