Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Koma 10 Hari, Siswa Kelas 2 SD di Tarakan Meninggal Dunia, Diduga Karena Dipukul Teman Sekelas

Eliazar Simon • 2024-11-06 09:59:57
HASIL RONTGEN : Ibu korban memperlihatkan hasil rontgen kepala korban
HASIL RONTGEN : Ibu korban memperlihatkan hasil rontgen kepala korban

 

Seorang siswa SD berinisial MI berusia 8 tahun dan duduk dibangku kelas 2 SD, meninggal dunia (5/11). Orang tua korban menduga, MI meninggal akibat dipukul teman sekelasnya. Adapun kejadian pemukulan MI Dari teman sekelasnya terjadi pada Agustus 2024 lalu. Sejak itu MI kerap kali keluar rumah sakit untuk menjalani perawatan.

"Saat itu anak saya pulang sekolah dan saya tanya kenapa bajunya robek, terus dibilang kalau ditarik temannya dan dipukul," kata Susilwati, ibu korban. Saat itu MI bercerita kepadanya bahwa ia dipukul di bagian mata kiri. Setelah kejadian pemukulan itu, MI kemudian mengalami pembengkakan pada mata bagian kiri.

Ia pun sempat membawa anaknya ke puskesmas untuk dirawat. Namun saat itu pembengkakan di mata MI tidak kunjung sembuh dan ia pun membawa anaknya lagi ke berobat ke salah satu dokter dan dilakukan tindakan operasi.

"Operasi itu di akhir Agustus karena mau dikeluarkan cairan berupa nanah yang ada di matanya," ungkapnya.

Setelah dioperasi, kondisi MI sudah mulai membaik dan saat itu masih menjalani rawat jalan. Kemudian di bulan September kondisi kesehatan MI menurun dan sempat dilakukan perawatan intensif di salah satu rumah sakit yang ada di Tarakan. Saat itu MI didiagnosa mengalami penyumbatan cairan pada bagian kepala.


Kemudian berdasarkan hasil rontgen CT Scan yang didapat dari rumah sakit, penyakit yang dialami oleh MI dikarenakan dampak dari pemukulan di bagian kepalanya. Sebelum meninggal dunia, MI mengalami koma selama 10 hari sebelum kepergiannya. Saat itu, MI rencananya akan dirujuk untuk menjalani operasi di Surabaya namun tiba-tiba kondisi koma.

"Saa itu kata dokter naik lagi cairan nanah dan campur darah ke kepalanya," imbuhnya.

 

Dari rangkaian kejadian itu, ia kecewa dengan sikap orangtua dari anak yang memukul MI. Kedua belah pihak sendiri sempat bertemu di sekolah dan dilakukan mediasi oleh pihak sekolah.

Sebenarnya dari orangtua pelaku yang memukul anaknya, beberapa kali memberikan bantuan yang kepadanya. Namun ia menilai hal tersebut belum bisa untuk memenuhi semua kebutuhan perawatan MI. "Ada aja dikasih Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Terus saya sempat minta tolong agar anak saya bisa dibawa ke Surabaya untuk dirujuk dan butuh biaya Rp 20 juta," ucapnya.

Susilawati pun pada akhirnya harus pasrah lantaran adanya meninggal dunia sejak dilakukan perawatan intensif di rumah sakit yang ada di Kota Tarakan. Atas kejadian tersebut, ia berharap tidak ada lagi kejadian serupa yang terjadi di lingkungan sekolah. "Saya berharap orangtua lain menjadikan ini pelajaran supaya tidak terjadi lagi," pungkasnya. (zar)

 
Editor : Indra Zakaria
#tarakan