SURABAYA - Usai penghargaan nasional Jawa Pos Award awal Februari ini, Grup Kaltim Post kembali mencatatkan diri sebagai media berprestasi dalam sejumlah kategori kompetisi perwajahan oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat, tadi malam. Radar Tarakan menerima dua penghargaan, Indonesian Print Media Award (IPMA) kategori surat kabar harian terbaik Kalimantan dan Indonesia Young Readers Award (IYRA) kategori surat kabar harian terbaik Kalimantan.
Khusus IPMA merupakan tahun kesepuluh diadakan. Dalam penganugerahan yang diselenggarakan di Museum Siola, Surabaya malam tadi, Ketua Umum SPS terpilih Alwi Hamu mengapresiasi kesiapan Surabaya menjadi tuan rumah pertemuan SPS 2019.
Ia juga menyanjung kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sangat sigap dengan segala permasalahan warganya. Malam penghargaan merupakan agenda setelah Kongres SPS sehari sebelumnya.
Di matanya, tantangan pers ke depan sangat besar. Bukan hanya perusahaannya, tetapi semua elemen di dalamnya. Menghadapi disrupsi.
“Sebagai contoh, di sektor keuangan, bank tidak lagi membutuhkan kantor banyak, karyawan banyak. Begitu pun lainnya, ini perubahan ke penggunaan teknologi. Maka dibutuhkan SDM yang kompetitif,” jelasnya.
“Kerja keras, kerja cerdas. Kalau berhenti berinovasi, maka akan mati. Perubahan ini nyata,” jelasnya.
Alwi Hamu terpilih secara aklamasi. Alwi Hamu yang menjabat ketua umum saat ini menggantikan Ketua Umum SPS periode 2014-2019, Dahlan Iskan. “Kendati kepercayaan sesuatu yang berat, tapi karena amanah, kami akan berusaha keras. Dengan bekerja sama,” terangnya.
Radar Tarakan mempertahankan dua penghargaan kategori suratkabar terbaik regional Kalimantan berdasarkan hasil penilaian dewan juri. Penyerahan tropi pemenang dilaksanakan bersamaan dengan penghargaan lainnya, InMA, IYRA, ISPRIMA, dan IMRAS 2019.
Menkominfo Rudiantara yang turut hadir dalam malam pelantikan pengurus SPS Pusat mengatakan saat ini memasuki era digitalisasi. Menurutnya, menghadapi disrupsi bukanlah menyoal teknologi, tapi pola pikir.
“Industri pers tak akan mati, cetak tak akan mati. Masih ada segmen yang membutuhkan informasi yang mediumnya cetak,” sebutnya.
Ia menilai, perang yang terjadi adalah perang konten, serta cara menyampaikannya. “Dari cetak ke elektronik, ke online dan medsos. Konten tetap. Yang berbeda, karena ada platform baru,” urainya.
“Sekarang cara kita harus berubah. Ada kemudahan cara menyampaikan. Kuncinya sumber daya manusia. Perubahan, perubahan, perubahan. Kita yang harus berubah. Substansinya sama,” kata Rudiantara memberi kiat.
Kuncinya jurnalis dan ruang redaksi wajib profesional mengacu pada kode etik. Bagaimana check and balance dan cover both side diterapkan. Apalagi medsos, dipenuhi hoaks. Orang tetap memilih media mainstream. Jangan dilihat cetaknya, tapi kontennya.
“Perkaya dengan ide baru, agar kepercayaan publik tetap terjaga," terangnya. Kaltim Post, Radar Sampit, Kalteng Pos, dan Berau Post juga memenangi kategori lain. (lim/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan