Permasalahan sampah di Bumi Tenguyun - sebutan lain Kabupaten Bulungan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah daerah. Namun, di balik itu semua, menumpuknya sampah justru menjadi sebuah berkah. Berikut liputannya.
RACHMAD RHOMADHANI
NYARIS setiap harinya saat melintas di sudut kota, mata kita melihat sampah-sampah yang menumpuk. Baik itu sampah dari limbah rumah tangga ataupun jenis sampah lainnya. Parahnya, dari penumpukan sampah itu terjadi tak hanya pada titik-titik tempat pembuangan sampah yang tersedia. Namun, ada beberapa sampah yang menumpuk di titik lainnya hingga terkadang meluber di badan jalan.
Aroma yang ditimbulkan dari sampah itu pun ada yang sangat tajam. Tentunya, secara tak langsung membuat masyarakat lain yang melintas menjadi terganggu hingga harus menutup masker. Dan permasalahan sampah ini sejatinya sejak dahulu kala memang menjadi PR pemerintah daerah. Berbagai gerakan sosial ataupun profit sejak lama telah digaungkan. Hanya, lagi-lagi output-nya masih belum maksimal.
Alhasil, sampah–sampah itu masih menjadi momok yang secara tak langsung dapat mengurangi nilai estetikanya suatu daerah. Termasuk dalam persoalan penilaian Adipura sendiri, yang mana itu menjadi nilai minus tatkala permasalahan itu terus berlarut.
Bagaimana tidak? Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulungan di wilayah ini, khususnya daerah Tanjung Selor dan Tanjung Palas, setiap harinya telah menghasilkan 140 ton sampah. Artinya, di daerah ini sampah sebenarnya sudah ‘menyelimuti’ secara keseluruhan. Di sisi lain, melihat begitu banyaknya sampah di daerah ini. Hal itu lambat laun justru menjadi sebuah berkah tersendiri. Ya, itu karena adanya lirikan calon investor yang rencananya akan ‘menyulap’ sampah menjadi tenaga listrik.
Bahkan, calon investor itu yang diketahui dari PT. Petra Global Energi, salah satu perusahaan swasta bergerak di bidang energi sebelumnya sudah ada pertemuan secara khusus kepada Bupati Bulungan H. Sudjati. Artinya, ini tinggal bagaimana pelaksanaannya nanti di lapangan. Apakah ini hanya sekedar wacana atau benar terealisasi.
Orang nomor satu di Bulungan, H. Sudjati mengaku bahwa ini merupakan berkah tersendiri dari keberadaan sampah yang begitu banyak di daerah yang dinahkodainya itu. Karena selama ini memang sampah begitu banyak dan dinilai memiliki potensi menjadi bahan baku menghasilkan energi listrik. “Jika tidak salah, 8 Februari lalu, PT. Petra Global Energi sudah melayangkan surat permohonan presentasi rencana pembangunan pembangkiit listrik tenaga sampah ke Pemkab Bulungan,” ungkap Sudjati saat ditemui awak Radar Kaltara di ruang kerjanya.
Lanjutnya, Pemkab Bulungan tentu terbuka kepada pihak calon investor yang memiliki persepsi sama dalam membangun daerah. Apalagi, memang soal sampah ini yang kian meningkat. Kalau pengelolaanya tidak secara benar akan semakin menambah beban daerah. “Kita welcome saja. Kalau ada investor yang mau mengelola dengan baik, kenapa tidak,” ujarnya.
Di sisi lain, pertimbangannya untuk menyetujui investor itu lantaran ia tidak terlalu meminta banyak hal. Bahkan, nantinya pembiayaan semua akan dibebankan kepada mereka (investor). “Kalau dari hasil pembicaraan dengan calon investor itu, diperkirakan nantinya dari 140 ton sampah setiap harinya. Maka, akan menghasilkan energi hingga 35 MW (Megawatt),” ucapnya.
“Tapi, tetap kita akan lihat perkembangannya nanti pasca adanya persentasi yang diajukannya itu,” sambungnya.
Sudjati dalam hal ini mengaku siap memfasilitasi. Sebab, dengan kondisi saat ini di Bulungan krisis listrik. “Kita juga akan targetkan zero sampah di Bulungan. Maksudnya? Sampah yang ada itu bisa dijadikan energi dari listrik itu. Dan tak seperti saat ini yang terkadang hanya dibakar,” katanya.
Untuk lokasi, seperti ditawarkan Pemkab Bulungan yaitu nantinya di tempat pembuangan sampah di KM 9, Desa Bumi Rahayu, Kecamatan Tanjung Selor. Meski, untuk proyek seperti ini masih jangka panjang. “Mudahan ini dapat terealisasi dengan baik,” harapnya mengakhiri.(***/fly)
Editor : anggri-Radar Tarakan