Sungguh pemandangan yang miris melihat kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Mujahidin Tarakan. Sekolah yang beralamatkan di Jalan Yos Sudarso, RT 15, Kelurahan Selumit Pantai, jauh dari kata layak sebagai tempat menimba ilmu. Lapuk dan jabuk. Setiap saat bisa saja ambruk. Belajar pun bak bertaruh nyawa.
LISAWAN YOSEPH LOBO
HINGGA hari ini, MI Al-Mujahidin Tarakan memantik empati. Madrasah ibtidaiyah (MI) pertama dan tertua di Tarakan itu didirikan sejak 1991 silam, dan belum pernah direnovasi secara menyeluruh. Semakin memprihatinkan karena keberadaannya di tengah kota.
Tak cukup dengan berempati pada kondisinya. Sekolah tersebut butuh perhatian. Permasalahan anggaran, itulah yang menjadi faktor utama sekolah tersebut tak dapat membenahi kerusakannya. Pihak sekolah ataupun iuran dari para orang tua murid, beberapa kali membenahi secara kecil-kecilan.
Mulai dari atap ruang kelas sudah tidak sejajar, bahkan jebol. Dinding hingga lantai kelasnya miring dan berlubang. Cuilan papannya lapuk, menandakan usianya yang usang. Lapuknya dasar bangunan, mulai dari halaman hingga ruang belajar, justru membahayakan anak didik. Bak mempertaruhkan nyawa berada di sekitar sekolah tersebut.
Selalu diselimuti rasa waswas. Alhasil, tidak ada angin, tidak ada hujan, beberapa ruangan MI Al-Mujahidin Tarakan ambruk, Senin (25/11) sore. Sekira pukul 17.00 WITA.
Miris melihat kondisi bangunan sekolah, di tengah perkotaan, mengundang perhatian masyarakat.
Tak terkecuali Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ulul Albab Tarakan. Bentuk aksi peduli pendidikan, patut dicontoh. Melalui pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), inisiatif penggalangan dana di kompleks SIT Ulul Albab Tarakan. Menunjukkan rasa empati, mulai dari kelas TKIT, SDIT, SMPIT dan SMAIT Ulul Albab Tarakan, kompak menyisikan bantuan.
Kepala SMPIT Ulul Albab Asep Mahmudin mengatakan, aksi yang dimulai sejak Kamis (28/11) pagi, sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi MI Al-Mujahidin Tarakan. Rencananya aksi penggalangan dana ini dilakukan hingga 7 Desember mendatang.
“Supaya seluruh siswa empati, bahwa ada temannya yang kondisi sekolahnya memprihatinkan. Jadi tidak hanya pemerintah saja, tapi alangkah baiknya semua unsur masyarakat bisa membantu, sehingga lebih maksimal,” terangnya kepada Radar Tarakan.
Aksi galang dana ini dimulai sebelum proses pembelajaran. Yakni pukul 06.50 WITA hingga 07.15 WITA. Hingga hari kedua, siswa-siswinya sangat antusias. Juga menyita perhatian orang tua murid.
“Hingga hari kedua (kemarin), total dana yang terkumpul Rp 13.655.000. Kami mulai dari lingkungan sekolah saja. Tanggapan orang tua melalui balasan pesan juga sangat bagus. Bahkan ada yang tidak tahu MI Al-Mujahidin ini di mana,” lanjutnya.
Setelah melakukan aski penggalangan dana, justru menarik perhatian siswa-siswi SIT Ulul Albab Tarakan untuk berkunjung ke MI Al-Mujahidin Tarakan. “Mereka malah berkeinginan untuk melihat sekolah tersebut. Maka ini akan kami jadwalkan, minimal dari perwakilan siswa bisa menyerahkan langsung dana yang terkumpul,” bebernya.
Konon, sejak dini SIT Ulul Albab Tarakan menanamkan rasa sosial ke anak didiknya. Tidak heran, setiap melakukan aksi penggalangan dana, mendapatkan respons dan dukungan dari siswa maupun orang tua murid. “Kalau masalah sosial, mereka sangat antusias. Seperti kejadian Rohingya dan Palestina, kami juga lakukan penggalangan dana. Jadi mengajarkan mereka untuk berbagi dan empati. Apalagi MI Al-Mujahidin, sama-sama di Tarakan,” katanya.
Sementara itu, aktivitas belajar mengajar di MI Al-Mujahidin Tarakan tetap berjalan. Apalagi, Senin (2/12) mendatang, sekitar 150 siswa di MI Al-Mujahidin Tarakan melaksanakan ujian akhir semester.
Kepala MI Al-Mujahidin Tarakan, Darmanto mengatakan, sementara ini pembagian ruang belajar dibagi menjadi dua. Yakni dengan sistem menerapkan masuk pagi dan siang. “Karena tidak ada kelas yang bisa dipakai. Jadi tiga ruangan, kami bagi dua. Kelas 1, 3 dan 6 masuk pagi. Sedangkan kelas 2, 4 dan 5 masuk siang,” kata Darmanto.
Buku-buku yang masih layak pakai, diamankan di ruangan guru sementara. Sedangkan buku-buku yang terlanjur basah, dikumpulkan dan dikeringkan di bawah terik matahari, oleh beberapa siswa. Mengingat sudah tidak layak digunakan kembali, siswa-siswa tersebut pun menjual untuk jajan tambahan.
“Iya, terkait jual buku beberapa kali kami ditanyakan teman-teman wartawan. Karena kena air, jadi bukunya rusak. Daripada dibuang begitu saja, mereka jemur dan dijual untuk jajan mereka,” jelasnya.
Dia mengatakan, sejauh ini alumni-alumni dan unsur masyarakat lainnya turut memberikan respons positif akan kondisi bangunan MI Al-Mujahidin Tarakan. “Dari DPRD Tarakan juga sudah berkunjung, dan kami dengar juga dari Ulul Albab ada melakukan aksi positif. Dari komite, komunitas-komunitas, SMAN 1 juga sudah ke sini,” terangnya. (***/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan