JIKA tak ada aral, akhir Mei atau paling lambat awal Juni 2020 tes polymerase chain reaction (PCR) sudah bisa dilakukan secara mandiri di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.
Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto lambrie mengatakan, saat ini alat PCR untuk mendiagnosis Covid-19 itu sudah datang. Sementara ini masih disimpan di RSUD Tarakan. Rencananya, dalam waktu dekat ini pihaknya akan melakukan peninjauan alat tersebut.
“Sekarang ini tinggal menunggu alat pendukung untuk ruangan bertekanan negatif di rumah sakit itu. Kalau itu sudah ada langsung dipasang,” ujarnya kepada Radar Tarakan saat ditemui di Tanjung Selor, Rabu (27/5).
Pastinya, jika ruangan bertekanan negatif itu sudah siap, maka instalasi alat PCR itu sudah dapat dilakukan. Namun, sebelum tes PCR itu dilakukan secara mandiri, tentu tenaga ahli yang menganalisa sampel Covid-19 ini harus dipersiapkan terlebih dahulu.
“Tapi, bisa tinggal nanti sambil berjalan dilakukan pelatihan terhadap petugas yang bisa memanfaatkan alat PCR itu secara profesional,” kata mantan sekretaris provinsi (sekprov) Kalimantan Timur (Kaltim) ini.
Sebab, jika terjadi kekeliruan dalam penanganannya, bisa menimbulkan permasalahan baru. Artinya, jika tenaganya tidak terlatih, bisa saja hasil laboratorium yang keluar tidak dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya yang seharusnya positif dikatakan negatif, atau sebaliknya.
Sehingga hal-hal seperti tenaga medis untuk menangani ini persoalan ini juga perlu dan harus dipahami semua pihak. Alat PCR tersebut juga harus ‘mengantongi’ izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dulu. Dalam hal ini, bukti legalitas bahwa RSUD Tarakan ini sudah bisa melakukan tes PCR mandiri.
“Sementara ini izin itu masih berproses. Tapi target kami paling lambat awal Juni nanti sudah bisa operasional,” tuturnya.
Intinya, proses untuk pemanfaatan alat PCR ini tinggal selangkah lagi. Saat ini pihak rumah sakit sedang menggenjot percepatan penyelesaian yang masih berproses, dalam hal ini penyelesaian ruangan bertekanan negatif.
Direktur RSUD Tarakan, dr. Muhammad Hasbi Hasyim mengatakan bahwa alat PCR telah diterima pihaknya sejak 2 hari lalu. Hanya, pendukung ruang tekanan negatif ini sedang dalam perjalanan jalur darat dari Samarinda menuju Tanjung Selor.
Alat pendukung ruang tekanan negatif ini berfungsi untuk memutar sirkulasi udara agar tidak keluar ke lingkungan umum. Sebab udara bersikulasi keluar ruangan, namun dengan adanya alat pendukung ruang tekanan negatif ini dapat menyaring udara yang keluar dari ruang isolasi.
“Yang sedang dikerjakan ini virus. Jangan sampai rumah sakit ini menjadi penyebar virus, ini yang kami hindari, makanya ruangannya harus bertekanan negatif,” jelasnya.
Adapun ruang yang disiapkan RSUD untuk penempatan PCR adalah ruang isolasi paling ujung dengan ukuran 4x6 meter dan dapat dioperasikan pada 2 minggu kemudian. Sebab mesin alat pendukung ruang tekanan negatif ini cukup besar. Sedang alat mesin PCR berkuran kecil seperti kotak. Namun diperlukannya alat yang bisa menyedot udara keluar ruangan sehingga udara dapat steril.
“Kalau mesinnya datang, ya butuh waktu berhari-hari karena ini mesin besar,” ujarnya.
Dalam ruang tersebut nanti akan disediakan freezer, wastafel dan APD bagi petugas agar dapat bekerja maksimal tanpa harus khawatir Covid-19. Dengan adanya alat PCR, maka masyarakat Kaltara dapat melakukan tes swab mandiri dengan hasil akurat.
“Sudah divalidasi dari Kemenkes. Data dikirim ke sana (pusat), jadi sudah bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Disinggung soal tes cepat molekuler (TCM) diakui Hasbi telah lama dimiliki RSUD dan alat ini berfungsi untuk mendeteksi penyakit tuberkulosis (TBC) selama ini. Dengan cartridge TCM juga mampu membaca Covid-19.
“Makanya kami beli alat tambahan, sehingga nanti ada alat khusus TBC dan khusus Covid-19. Hanya volumenya enggak besar, dan itu bisa dikembangkan untuk hepatitis, kalau sudah enggak ada Covid-19 kami bisa belikan cartridge untuk hepatitis. Jadi tetap digunakan alatnya (PCR),” tuturnya.
Dengan adanya alat TCM ini, Tarakan sudah mampu melakukan swab mandiri. Hanya yang menjadi catatan adalah alat cartridge yang habis, sebab itu pihaknya menunggu dari Kemenkes. “Laporan terakhir, cartridge ada 5. Hanya itu mau digunakan untuk pasien yang ada di sini yang masih positif Covid-19,” ujarnya.
Untuk diketahui, sekali pelaksanaan tes swab mandiri, masyarakat harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 2 juta. Namun dalam penetapan tarif, pihaknya harus menghitung investasi alat, bahan kimia penunjang, listrik, air, tenaga dan ruangan.
“SDM harus dibayar, listrik, dan pengadaan alat semua harus dibayar. Semuanya kan dibeli. Sekali tes swab lewat TCM, dua jam selesai hasilnya per satu sampel. Kalau PCR itu sekitar 7 jam, tapi volumenya lebih besar, bisa sampai 80 sampai 90 sampel sekali masuk. Sedang TCM itu sampai 4 sampel saja,” pungkasnya.
Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, mengatakan bahwa dengan kelengkapan alat medis membuat Tarakan semakin baik. Hanya pelayanan kesehatan akan Covid-19 tidak dapat berhenti dilakukan, sehingga jika ditemukan OTG maupun contact tracing, maka wajib dikirim ke Balitbangkes Jakarta atau Surabaya.
“Tapi sekarang tidak ada penerbangan sampai tanggal 31 Mei 2020. Jadi harapannya, mudah-mudahan alatnya cepat datang dan bisa dimanfaatkan. Tapi mudah-mudahan tidak ada PDP yang perlu swab. Hanya masih ada PDP yang sedang menunggu hasil dari pusat. Kalau belum sembuh, ya perlu follow up lagi,” bebernya.
Namun dalam hal ini, pihaknya akan berantisipasi jika Malaysia membuka lockdown. Sebab Kaltara merupakan jalur pertama masuknya kapal Malaysia sehingga ini menjadi antisipasi pihaknya melalui diskusi bersama pihak Bandara Juwata dan Kantor Kesehatan Pelabuhan.
“Kalau RDT ini akulasinya rendah, sehingga kadang-kadang hasilnya enggak bagus. Tapi kalau PCR itu untuk surveillance saja kita masih belum memenuhi, bagaimana untuk diagnosisnya? Tapi daerah lain sudah memberlakukan PCR itu, sehingga kami harus menyampaikan kepada warga untuk menyediakan PCR. Jika tidak ada akan dikarantina selama 14 hari atau sambil menunggu hasil PCR keluar dengan biaya mandiri,” jelasnya. (iwk/shy/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan