UANG Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia (UPK 75 RI) dengan pecahan Rp 75.000, ramai diperbincangkan. Salah satu perbincangannya adalah soal salah satu pakaian adat yang dikenakan anak-anak dalam desain uang tersebut. Dari sembilan gambar anak berpakaian adat Nusantara, muncul tanggapan minor. Misalnya menuduh jika salah satu di antara anak mengenakan pakaian adat Cina.
Padahal pakaian adat yang dimaksud adalah pakaian adat suku Tidung, asal Kalimantan Utara (Kaltara).
Pemerhati budaya Tarakan, Sumaryadi, S.Sn, menjelaskan, bahwa pakaian yang dikenakan salah seorang anak dalam desain UPK 75 RI merupakan pakaian pengantin Tidung Tengara, yakni sina beranti-antakesuma. Pakaian ini telah ada dan dikenal sejak abad ke-13 masehi. Di dalam perkembangannya, kebudayaan melayu sangat dominan terutama pada masa wilayah Tarakan di bawah Pemerintahan Kesultanan Bulungan di abad ke-19 masehi.
Untuk diketahui, tahapan acara adat yang umum dilaksanakan oleh suku Tidung Tengara adalah ginisinis (mencari tahu), berseruan (melamar), ngatod de pulut (mengantar maskawin), kawin suruk (akad nikah), bepupur, bebantang (bersanding). kiwon talu landom (malam ketiga), bejiu (mandi pengantin), betamot (khatam Alquran), nyembaloy (berkunjung ke rumah mertua).
Pengantin perempuan bergaya Tidung Tengara disebut antakeusuma, tata rias wajah berwarna kuning langsat dengan pantis kiloy (pensil alis warna hitam) berbentuk bertanduk di puncak tertinggi alis, linsu (lipstick) warna merah, perona pipi merah muda (samar), dan memakai atol yaitu hiasan ciri khas di dahi berupa garis warna hitam, merah dan kuning yang bentuknya mengikuti bentuk jamong (mahkota) yang menempel di dahi.
Sedangkan, tata rias pengantin pria yang disebut sina beranti dengan tata rias wajah berwarna natural sesuai dengan warna kulit dan alis dirapikan. Tata busan dan perhiasannya terdiri dari baju lengan panjang berwarna kuning dengan hiasan merah di bagian kerah shanghai, dengan bawahan yang disebut gabol setanga, sejenis kain sarung berwarna merah berhias payet sepanjang lutut atau nisa juga terbuat dari bahan songkok merah dan celana panjang kuning dan sapu tangan.
Untuk tata perhiasan pengantian pria, terdiri dari sungku (mahkota), dada burung berwarna merah, selukuk udang, tangkong, kris, pending tawa, saputangan, gelang gerungsung (gelang kaki) dan gelang naga bedilit, dan selop warna merah atau kuning.
“Baju ini sebelumnya hanya dimiliki orang-orang tertentu oleh suku Tidung untuk merias pengantin, sedangkan untuk di Kota Tarakan, hanya ada beberapa orang yang memiliki pekaian tersebut sebelumnya. Tetapi saat ini, berjalannya waktu sudah banyak disewakan baju tersebut seperti untuk acara perkawinan,” ungkap pria yang juga kepala Seksi Pembina Kesenian dan Tradisi pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan ini. (agg/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan