TARAKAN - Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) telah dilakukan di beberapa sekolah di Kota Tarakan, salah satu ialah SMP Negeri 7 Tarakan. Sekolah yang terletak di Gunung Belah ini sudah melakukan PTM sejak Senin (12/7) lalu, sebab jumlah orang tua siswa yang menginginkan PTM jauh lebih banyak dibanding orang tua yang setuju terhadap proses pembelajaran online.
Kepada Radar Tarakan, Kasi Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan, Endah Saratihningsih mengatakan bahwa pada awal Juli 2021 ini pihaknya belum mengambil data PTM ditiap sekolah, sebab masih terdapat beberapa sekolah yang belum final melaksanakan masa perkenalan lingkungan sekolah (MPLS).
“Tapi yang sudah melaksanakan verifikasi, simulasi dan vaksinasi memang diperbolehkan. Ketika orang tua siswa menghendaki PTM, maka sekolah diperbolehkan melayani,” ungkap Endah.
Oleh sebab itu, sekolah yang sudah melaksanakan PTM dikatakan Endah ialah karena orang tua siswa yang setuju dan mendesak sekolah agar segera melaksanakan PTM. Namun jika telah dilakukan, maka pelaksanaan PTM wajib dievaluasi oleh pihak sekolah setiap hari.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Endah, SMPN 7 Tarakan telah menurunkan siswanya untuk belajar tatap muka di sekolah. Sedang sekolah lainnya masih memiliki kesibukan seperti membuat polling lebih dulu kepada orang tua siswa yang siap dalam melaksanakan PTM.
Persiapan PTM dikatakan Endah telah disiapkan pihaknya sejak 2020 lalu. Sehingga sekolah-sekolah yang telah memenuhi persyaratan dari SKB 4 Menteri, seperti verifikasi, simulasi, vaksinasi dan mendapatkan izin PTM dari Wali Kota sudah tidak perlu melakukan pelaporan ke Disdikbud Tarakan lagi saat hendak melaksanakn PTM. “Tidak perlu melapor. Paling hanya laporan seperti sesuai permintaan orang tua, kami (sekolah) akan melaksanakan tatap muka. Ya begitu saja. Jadi sekolah hanya menyesuaikan kesiapan sekolah dan permintaan orang tua,” kata Endah.
Jika sekolah belum melakukan verifikasi, maka Disdikbud Tarakan belum memperkenankan sekolah tersebut melaksanakan PTM sebab secara otomatis sekolah tersebut belum mengetahui prosedur PTM. Dalam pelaksanaan simulasi yang diselenggarakan pihak sekolah, tak hanya dipantau oleh Disdikbud Tarakan saja, namun DPRD, Satgas covid-19 dan Ombudsman pun turut memantau.
Pelaksanaan PTM ini ditegaskan Endah akan sesuai dengan kemampuan sekolah. Dalam hal ini, jika sekolah hanya mampu menangani 50 siswa, maka dalam satu hari sekolah hanya perlu melaksanakan PTM untuk 50 orang siswa sedang siswa lebih dilakukan dihari yang berbeda.
“Jadi tidak bersamaan, pola setiap sekolah akan berbeda nanti. Karena orang tua yang menginginkan PTM juga berbeda-beda, tenaga guru di sekolah juga berbeda dan fasilitas yang tersedia beragam. Tapi intinya semua sekolah yang sudah pernah melalui PTM, sudah pasti tahu bahwa protokol kesehatan adalah kunci utama,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 7 Tarakan, Friny Napasti, S.Pd, mengatakan, bahwa dalam satu kelas diisi oleh maksimal 16 orang siswa. Namun dari pemantauan pihaknya, setiap kelas di SMPN 7 Tarakan berbeda-beda jumlah siswanya, bahkan terdapat satu kelas yang hanya diisi oleh dua orang murid.
“Yang isinya cuma dua orang murid itu dari kelas 8, tetap kami layani PTMnya dan sisanya daring,” ungkap wanita yang pernah menjabat sebagai Kepala SMPN 2 Tarakan ini.
Pelaksanaan PTM yang diselenggarakan di SMPN 7 Tarakan dievaluasi secara harian. Hal ini dilakukan karena pelaksanaan PTM menjadi hal yang baru bagi guru maupun siswa sehingga perlu dilakukan evaluasi setiap hari.
SMPN 7 Tarakan melaksanakan satu jadwal pembelajaran selama 20 menit, yang dimulai dari pukul 08.00 hingga 10.10 WITA tanpa adanya istirahat bagi siswa. Namun, jika siswa ingin makan maupun minum akan diberi kesempatan untuk makan minum diluar kelas dengan pengawasan guru mata pelajaran.
“Baru dua hari, tapi sudah ada siswa yang minta makan dan minum diluar kelas. Tapi tidak banyak, hanya satu dua siswa saja karena katanya tidak sempat sarapan di rumah sehingga minta sarapan di sekolah pada pertengahan jam pelajaran,” jelas Friny.
Kegiatan makan minum bagi siswa tidak diberikan batasan waktu. Namun, jika telah selesai makan minum maka siswa diwajibkan untuk kembali masuk kelas dan mengikuti pelajaran di kelas bersama dengan siswa lain.
“Karena cuma satu, dua siswa yang makan minum. Jadi ini tidak terlalu masalah,” ujarnya.
Disinggung soal pelaksanaan pembelajaran daring, Friny mengatakan masih menggunakan pola yang sama sebelum pelaksanaan PTM dilakukan yakni dengan menggunakan aplikasi situjuh yang merupakan aplikasi belajar mengajar untuk SMPN 7 Tarakan. “Ini (aplikasi Situjuh) konektif dengan Google Switch. Jadi kami menggunakan Google Class Room dan memanfaatkan gimmick minimal 1 bulan dua kali, ini semacam video konpres pembelajaran dengan siswa,” kata Friny.
Menyoal terkait keluhan guru yang melakukan pembelajaran kepada siswa secara PTM dan daring, dikatakan Friny jelas ada. Sebab dalam hal ini, guru harus ekstra bekerja dengan beban kerja yang dobel. Sebab, pelaksanaan PTM dan daring dilakukan bersamaan.
“Disaat siswa PTM, siswa yang daring juga belajar. Jadi memang mau tidak mau, guru harus siap menyiapkan pembelajaran daring maupun PTM. Tapi kami menyikapi dengan pola jadwal pembelajaran daring yang memang agak berbeda dengan PTM-nya, misalnya yang PTM 2 minggu habis satu materi, jadi yang daring itu juga dalam waktu dua minggu habis satu materi. Jadi agak longgarlah cara mengajar guru,” jelasnya.
Untuk diketahui, SMPN 7 Tarakan memiliki 600 siswa dengan 21 rombongan belajar. Orang tua siswa yang menyatakan setuju dalam pelaksanaan PTM mencapai 400 orang, sedang lainnya menyatakan tidak setuju. Friny menegaskan, siswa yang melaksanakan PTM adalah siswa yang orang tuanya setuju dalam pelaksanaan PTM sehingga dalam hal ini sekolah tidak melakukan pemaksaan kepada orang tua siswa untuk melakukan PTM. “Memang sebagian besar orang tua menghendaki PTM. Disini (SMPN 7 Tarakan) tidak melakukan pengaturan shift PTM,” ucap Friny.
PTM atau pembelajaran online, menurut Friny lebih baik PTM. Sebab interaksi antara siswa dan guru ada, sementara pembelajaran daring menuntut kemandirian belajar dari siswa. Dalam hal ini pihaknya khawatir cara belajar siswa, sebab pihaknya tidak dapat memantau cara belajar siswa dari rumah.
“Kalau bicara pendapat pribadi, saya PTM. Dengan kondisi seperti ini, kami pun artinya sedang memberanikan diri untuk mengajar kondisi new normal bagi siswa. Sepanjang dua hari ini, siswa paham akan aturan protokol kesehatan,” ujarnya.
Dikatakan Friny, sebanyak dua orang guru SMPN 7 Tarakan yang memiliki riwayat penyakit komorbit namun tetap melaksanakan PTM. Sebab belum diberikan rekomendasi untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19. “Guru yang komorbit itu sudah kami atur agar menjaga jarak dengan siswa sehingga tetap aman,” pungkasnya. (shy/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan