Setiap orang pasti memiliki keinginan dan cita-cita untuk menata masa depannya. Demikian juga dengan Giancarlo Samuel Uring, siswa SMAN 1 Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) yang terpilih menerima beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika Serikat (AS) tahun 2021.
IWAN KURNIAWAN
SETELAH Refina Anjani Puspita, alumni SMAN 1 Tarakan mengikuti program beasiswa penuh pertukaran pelajar ke AS pada tahun 2017 lalu, kini giliran Giancarlo Samuel Uring, siswa SMAN 1 Tanjung Selor yang akan mengikuti program Kementerian Luar Negeri AS tersebut.
Untuk mengikuti program yang dinamakan Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) Program itu, Giancarlo telah berangka ke Seattle, Washington pada 7 September 2021 lalu. Di sini, Giancarlo akan mengikuti program belajar ini selama satu tahun akademik di Amerika, yakni mulai dari September 2021 hingga Mei atau Juni 2022.
Giancarlo mengungkapkan, setelah mengikuti proses seleksi yang sangat panjang, ia mengaku senang karena sudah terpilih. Terlebih dengan kondisi saat ini yang berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya akibat dampak dari pandemi Covid-19.
"Ini benar-benar tidak ada yang namanya tatap muka. Jadi kita itu Bina Antarbudaya adanya di Samarinda. Karena di sana itu mem-backup Kaltara dan Kaltim (Kalimantan Timur) di luar Balikpapan," ujarnya kepada Radar Kaltara saat dikonfirmasi belum lama ini.
Untuk pendaftaran, seleksi berkas dan lain sebagainya itu pengurusannya di Samarinda. Disebutkannya, seleksi yang dilakukan untuk mengikuti program ini sangat panjang, yaitu kurang lebih 1,5 tahun. "Jadi saya daftarnya itu saat masih duduk di kelas 10 (SMA) akhir dan baru berangkat di kelas 12 ini," tuturnya.
Selain itu, ia juga menceritakan bahwa pada proses yang panjang itu, banyak hal yang dilaluinya. Mulai dari lelah, hingga menangis. Karena, untuk urusan kelengkapan seperti paspor yang diakuinya lumayan ribet, harus menyeberang laut ke Kota Tarakan.
Sudah menjadi rahasia umum mengenai sulitnya berurusan yang berkaitan dengan kepentingan perjalanan antar negara di provinsi termuda Indonesia ini. "Tapi, begitu dapat informasi bahwa saya lolos, itu membuat saya merasa terharu sekaligus bangga. Di situ saya menyadari bahwa ternyata anak Kaltara juga bisa," tuturnya.
Diakuinya, mendaftar ikut seleksi penerima beasiswa penuh pertukaran pelajar ke Amerika ini hanya iseng. Awalnya ia mencoba mencari informasi terkait progam ini setelah guru bahasa Inggris di sekolahnya memberikan brosur program ini dan ia menilai menarik untuk dicoba.
"Jadi seperti ada pengalaman baru, karena saya yang masih berusia 17 tahun sudah berangkat tinggal di luar negeri dengan kultur dan bahasa yang berbeda," tuturnya.
Adapun yang menjadi motivasinya sehingga mau mengikuti program ini yaitu karena ingin lebih mandiri dan kepingin melihat bahwa dunia itu bukan hanya Indonesia. Tapi ada negara-negara lain di luar sana yang harus dikunjungi.
"Di sini saya kepingin belajar lebih banyak tentang dunia yang sebenarnya itu seperti apa," sebutnya.
Menurutnya, sejauh ini masih kurang orang yang mengetahui bahwa ada program pertukaran pelajar ini. Terlihat pada teman-temannya di Tanjung Selor banyak yang baru mengetahui adanya program ini setelah melihat dirinya berangkat ke Amerika.
"Semua teman saya itu pada kaget, dengan berbagai pertanyaan, seperti memang selama ini ada program pertukaran pelajar? Terus memang anak SMA bisa ke Amerika? Yah gitu-gitu pertanyaannya," sebut Giancarlo.
Pastinya setiap orang itu harus melalui proses. Dengan begitu, maka seseorang bisa mengetahui bahwa dirinya harus terus berbenah untuk menjadi lebih baik lagi. Tentu, pemahaman bahasa Inggris yang penting.
"Di sini saya sudah mulai SD, pada usia sekitar 5-6 tahun sudah belajar bahasa Inggris. Tapi seterusnya itu berjalan otodidak saja," akunya.
Untuk persiapan mengikuti program ini di Amerika, ia mengatakan di daerah sudah ada pembekalan yang diberikan. Termasuk di tingkat nasional juga nanti akan diberikan pembekalan sebelum berangkat. Di situ diberikan penjelasan seperti apa menghadapi kondisi di Amerika nantinya. "Jadi tidak dilepas begitu saja," sebutnya.
Dalam hal ini, ia mengajak anak-anak Kaltara yang ingin daftar di program ini, lebih baik dicoba saja. Ia meyakini bahwa semua orang itu sama-sama memiliki kesempatan. Jadi tinggal seperti apa caranya seseorang memetik peluang yang sudah disiapkan itu.
"Dicoba saja dulu. Seperti saya ini, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya bisa lolos mengikuti program beasiswa pertukaran pelajar ini," katanya.
Pastinya, harus ada motivasi diri untuk menjadi lebih baik lagi, baik untuk diri sendiri dan untuk daerah dan negara. Oleh karena itu, apa yang akan didapatkannya pada program ini, nanti akan diterapkan dan diaplikasikan olehnya di Kaltara. (***/fly)
Editor : anggri-Radar Tarakan