TARAKAN - Pemantauan rukhiyatul hilal Ramadan di Taman Berlabuh Tarakan tidak terlihat. Dari prakiraan BMKG, cuaca di ufuk berawan. Sebab pemantauan dari Tarakan sangat jauh.
Sesuai perhitungan, 1 derajat 31 menit dan ditambah cuaca berawan, tidak bisa melihat hilal. “Secara umum di Indonesia itu di Merauke. 1 derajat 1 menit, usia bulan ketika matahari terbenam sampai. Untuk di Sumatera, 2 derajat 1 menit. Makanya kita tak bisa saksikan hilal itu,” singkat Kepala BMKG Tarakan Sulam Khilmi, Jumat (1/4).
Sementara itu, Kepala Kemenag Tarakan HM Shaberah melalui Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah dan Bimas Islam Kemenag Kaltara Muhammad Saleh mengatakan, sesuai instruksi Kemenag RI, masing-masing kabupaten/kota melakukan pemantauan rukhiyatul hilal.
Meski hilal tidak terlihat, pihaknya masih menunggu hasil pemantauan rukhiyatul hilal di seluruh Indonesia. Setelah itu dilakukan sidang isbat, untuk menentukan 1 Ramadan. “Untuk Muhammadiyah hisabnya atau pengamatan bintanh besok (hari ini, Red) sudah puasa. Kalau ini pengamatan langsung,” tuturnya.
Biasanya kendala tidak munculnya hilal di Tarakan, karena faktor cuaca. Sementara pemantauan rukhiyatul hilal hanya berlangsung selama 8 menit. Saat pengamatan hilal diukur di 3 derajat. Artinya, muncul bulan baru setelah matahari terbenam. Aturan tersebut sebelumnya sudah ditentukan bersama tokoh ulama se-Asia Tenggara.
Pemantauan hilal pun dilaksanakan di Bulungan. Dengan mengambil lokasi di Gunung KNPI Bulungan, Jalan Agatish Tanjung Selor. Pantauan hilal melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Bulungan, Badan Meteorologi Klimitologi dan Geofisika (BMKG) Kelas III Tanjung Harapan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Pengadilan Agama (PA).
Kepala Kemenag Bulungan H Saimin mengakui, pantauan hilal belum terlihat karena tertutup awan. Karena memang apapun yang terlihat itu merupakan jalanan alam. “Penetapan awal puasa kita masih akan menunggu sidang isbat yang dilakukan Kemenag RI,” ujarnya.
Hasil pantauan hilal di Bulungan akan dikirimkan ke pusat, untuk dijadikan pertimbangan oleh Kemenag. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bulungan Ridwan Labago menambahkan, untuk penentuan puasa masih menunggu pusat. Mengingat, pantauan hilal ini menyasar 101 titik di Indonesia, termasuk di Bulungan.
“Kalau misalkan di Bulungan tidak terlihat, kita mengikuti sidang isbat di pusat. Dengan berdasarkan pemantauan hilal di daerah lain,” tuturnya.
Kemenag telah selesai menggelar sidang isbat penetapan awal Ramadan 1443 hijriah. Hasilnya, 1 Ramadan jatuh pada Minggu 3 April 2022. “Berdasarkan hisab posisi hilal seluruh Indonesia sudah di atas ufuk. Tapi belum memenuhi MABIMS baru. Oleh karena itu, seecara mufakat disepakati 1 Ramadan 1443 Hijriah jatuh pada Ahad 3 April 2022,” kata Menag Yaqut Cholil Qoumas secara virtual, Jumat (1/4).
Yaqut menuturkan, pengamatan hilal dilakukan di 101 titik yang tersebar di 34 provinsi. Seluruhnya melaporkan tidak ada yang melihat hilal, sehingga 1 Ramadan baru tiba pada Minggu (3/4).
“Dari 101 titik yang melaporkan kesemuanya melapor tidak melihat hilal,” jelasnya. Sidang isbat diikuti oleh perwakilan ormas Islam, perwakilan duta besar negara sahabat, serta jajaran Kemenag. Kemenag berharap isbat ini dijadikan patokan oleh masyarakat untuk menjalankan puasa secara bersama. (sas/*/mts/jpg/uno)
Editor : uki-Berau Post